September 2008


Memang baru dua kali, saya tidak merayakan lebaran di rumah, ini tahun ketiga. Tapi rasanya seperti bertahun-tahun rasanya. Maklumlah, Lebaran bagi pemuda tanggung macam saya ini (hehehe) memang menjadi momentum yang menyenangkan.

Lebaran, bagi kami menjadi semacam ritual untuk bersorak sorai merayakan kemenangan. Dulu, selama sebulan penuh, tiap malam, kami selalu berputar kampung untuk mengambil jajanan dari warga untuk orang-orang yang tadarus di mushola.

Kami sering kali berlomba mengambil jajanan ke rumah-rumah, apalagi kalau pas jadwalnya jatuh ke rumah warga yang punya anak gadis. Wah.. sudah pasti kami adu cepat untuk sekedar mendapat senyum dari gadis kampung kami itu.

Sebulan penuh pula, biasanya kami membangunkan warga dengan keliling kampung. Tidak dengan segala macam alat tabuh, biasanya kami cukup mengetuk pintu rumah warga yang terlihat masih terlelap.

Tapi itu dulu. Saat dimana jantung kami terasa copot saat mata kami bersirobok dengan gadis pujaan kami. Saat dimana kami masih suka bermain-main mercon bumbung.

Memang baru dua kali, saya tidak merayakan lebaran di rumah, ini tahun ketiga. Tahun pertama saya di Jogja. Tugas peliputan mudik membuat saya tertahan dijalanan. Saat orang-orang merayakan kemenangan dengan berjabat tangan, saya justru bermain dengan debu dan peluh. Saya dijalan, memantau orang mudik.

Tahun kedua, saya di Jakarta. Saya tidak pulang dengan alasan yang sama. Saya justru di lapas Salemba untuk melihat orang-orang di penjara. Saya berlebaran dengan kalapas Salemba. Saya menangis, ketika dalam keramaian, yang saya rasakan justru kesunyian. Saya kangen rumah, saya kangen masakan emak. Suara emak di telepon genggam justru membuat hati saya tersayat.

Sekarang tahun ketiga. Saya berniat pulang. Saya ingin merayakan lebaran dirumah. Merayakan kemenangan dengan keriuhan tawa saudara dan tetangga.

Anda rayakan lebaran dimana?
Ah.. dimanapun anda, saya hanya ingin mengucapkan selamat hari raya.
Maaf jika ade salah-salah kate yeee….

Advertisements

Siang tadi, saya dikejutkan dengan running teks salah satu stasiun berita di televisi. Sumpah, badan saya mendadak kaku, lidah saya kelu, kaki cungkring saya sontak tak kuat menyangga berat badan saya. Saya pilih duduk, saya menghela nafas. Sambil mencari channel lain, siapa tau ada siaran breaking news.

21 kaum duafa meregang nyawa menanti jatah zakat dari saudagar kaya, di Pasuruan Jawa Timur. Sebagian besar korban orang tua yang mungkin jatah zakat saudagar kaya itu hanya akan cukup untuk membeli minyak tanah 3 liter. (Di lingkungan saya, 1 liter minyak tanah bisa sampai Rp10ribu)

Dosa apa ya Tuhan, hingga engkau kembali menguji negeri ini. Negeri gemah ripah loh jinawi ini. Apakah karena sebagian orangnya tak bersyukur atas nikmat-Mu?

Saya sontak lemas. Saya tidak bisa berkata apa-apa. Mata saya sembab oleh fakta yang menyajikan kedukaan. Duka, dalam beberapa pekan ini seolah dekat dengan saya. Baru sepekan lalu, saya harus menggantikan pos liputan kawan saya yang ayahnya meninggal dunia.

Kawan saya itu anak Kendal, Jawa Tengah. Dia tengah berada di kamar sewa ketika telepon genggamnya bergetar mengabarkan kabar duka itu, tak lama setelah dia menyantap makan saur.

Lalu duka selanjutnya dari kawan saya juga, masih satu desk, dua hari lalu. Kali ini, adik perempuan, yang kawan saya cintai itu, meninggal dunia karena kecelakaan sepulang dari mengantar liputan di stasiun Kalibata, Jakarta.

Saya ikut sedih. Saya ikut terhenyak. Dia kawan baik saya. Kawan saya berbagi tawa dan kedukaan. Saya datangi makam adiknya. Bunga masih segar bertaburan, air mata masih besah. Orang-orang masih belum beranjak dari pusara gadis muda yang masih semester III itu. Saya menitikan air mata.

Kini, saya kembali mendengar kabar duka dari Pasuruan. Ya Allah, apakah ini tanda-tanda kebesaranMu bagi hamba untuk bersyukur atas nikmat dan cinta. Saya memang bukan orang yang pandai bersyukur. Maafkan hamba Tuhan.

Tiba-tiba, malam ini saya ingin berlari di tengah padang ilalang. Menerobos belantara sekedar ingin memeluk Bapak dan bersujud di kaki Ibu. Lalu menangis seperti anak kecil yang menyesali kenakalannya.

“Bapak, Ibu, nyuwun ngapunten,”


Disudut kampus, tujuh tahun silam, saya hanya bisa memandangi parasnya. Gaya berjalannya mencuri mata ini bak penari. Hanya dengan kerling dan senyum yang tersungging, sontak membuat saya terbang mengawang, lalu jatuh berkalang asmara. Meringkuk hati saya dibuatnya.

Itu cerita tujuh tahun silam, saat awal saya berkenalan hingga sekarang. Sampai saya melamarnya melalui blog, dilanjutkan melamar secara adat di depan orang tuanya.

Akhir-akhir ini saya memang jarang menulis lagi di blog. Sumpah, waktu saya habis untuk menyiapkan segala hal. Ternyata melamar seorang gadis, tak segampang menulis di blog, atau berkomentar di plurk. Tak semudah mengedit, atau bahkan mewawancarai narasumber.

Jika boleh memilih, saya lebih suka berhadapan langsung dengan narasumber. Melontarkan pertanyaan tajam atas kebijakan Menteri daripada duduk bersila dihadapan orang tua gadis yang saya idamkan itu. Bagaimana tidak, ada dada yang bergetar, keringat tiba-tiba tak bisa terkontrol, dan lidah yang menjadi kelu.

“Sudah yakin dengan pilihannya,”
“Eeee…. ee… Iya, saya yakin,” jawab saya terbata-bata.
“Eky mau nggak?,”
“Mau,” kata Eky mantab.

Singkat memang. Tak ada protokoler yang berbelit-belit. Meski harus saya akui, didalam hati saya, degupnya melebihi bedug yang ramai ditabuh menjelang sahur.

.
Atas permintaan sejumlah pihak, foto Eky akan saya tampilkan.
maaf kawan-kawan, masa penayangan saya batasi hanya 1 minggu. terima kasih.

.

image diambil dari sini