Disudut kampus, tujuh tahun silam, saya hanya bisa memandangi parasnya. Gaya berjalannya mencuri mata ini bak penari. Hanya dengan kerling dan senyum yang tersungging, sontak membuat saya terbang mengawang, lalu jatuh berkalang asmara. Meringkuk hati saya dibuatnya.

Itu cerita tujuh tahun silam, saat awal saya berkenalan hingga sekarang. Sampai saya melamarnya melalui blog, dilanjutkan melamar secara adat di depan orang tuanya.

Akhir-akhir ini saya memang jarang menulis lagi di blog. Sumpah, waktu saya habis untuk menyiapkan segala hal. Ternyata melamar seorang gadis, tak segampang menulis di blog, atau berkomentar di plurk. Tak semudah mengedit, atau bahkan mewawancarai narasumber.

Jika boleh memilih, saya lebih suka berhadapan langsung dengan narasumber. Melontarkan pertanyaan tajam atas kebijakan Menteri daripada duduk bersila dihadapan orang tua gadis yang saya idamkan itu. Bagaimana tidak, ada dada yang bergetar, keringat tiba-tiba tak bisa terkontrol, dan lidah yang menjadi kelu.

“Sudah yakin dengan pilihannya,”
“Eeee…. ee… Iya, saya yakin,” jawab saya terbata-bata.
“Eky mau nggak?,”
“Mau,” kata Eky mantab.

Singkat memang. Tak ada protokoler yang berbelit-belit. Meski harus saya akui, didalam hati saya, degupnya melebihi bedug yang ramai ditabuh menjelang sahur.

.
Atas permintaan sejumlah pihak, foto Eky akan saya tampilkan.
maaf kawan-kawan, masa penayangan saya batasi hanya 1 minggu. terima kasih.

.

image diambil dari sini