Siang tadi, saya dikejutkan dengan running teks salah satu stasiun berita di televisi. Sumpah, badan saya mendadak kaku, lidah saya kelu, kaki cungkring saya sontak tak kuat menyangga berat badan saya. Saya pilih duduk, saya menghela nafas. Sambil mencari channel lain, siapa tau ada siaran breaking news.

21 kaum duafa meregang nyawa menanti jatah zakat dari saudagar kaya, di Pasuruan Jawa Timur. Sebagian besar korban orang tua yang mungkin jatah zakat saudagar kaya itu hanya akan cukup untuk membeli minyak tanah 3 liter. (Di lingkungan saya, 1 liter minyak tanah bisa sampai Rp10ribu)

Dosa apa ya Tuhan, hingga engkau kembali menguji negeri ini. Negeri gemah ripah loh jinawi ini. Apakah karena sebagian orangnya tak bersyukur atas nikmat-Mu?

Saya sontak lemas. Saya tidak bisa berkata apa-apa. Mata saya sembab oleh fakta yang menyajikan kedukaan. Duka, dalam beberapa pekan ini seolah dekat dengan saya. Baru sepekan lalu, saya harus menggantikan pos liputan kawan saya yang ayahnya meninggal dunia.

Kawan saya itu anak Kendal, Jawa Tengah. Dia tengah berada di kamar sewa ketika telepon genggamnya bergetar mengabarkan kabar duka itu, tak lama setelah dia menyantap makan saur.

Lalu duka selanjutnya dari kawan saya juga, masih satu desk, dua hari lalu. Kali ini, adik perempuan, yang kawan saya cintai itu, meninggal dunia karena kecelakaan sepulang dari mengantar liputan di stasiun Kalibata, Jakarta.

Saya ikut sedih. Saya ikut terhenyak. Dia kawan baik saya. Kawan saya berbagi tawa dan kedukaan. Saya datangi makam adiknya. Bunga masih segar bertaburan, air mata masih besah. Orang-orang masih belum beranjak dari pusara gadis muda yang masih semester III itu. Saya menitikan air mata.

Kini, saya kembali mendengar kabar duka dari Pasuruan. Ya Allah, apakah ini tanda-tanda kebesaranMu bagi hamba untuk bersyukur atas nikmat dan cinta. Saya memang bukan orang yang pandai bersyukur. Maafkan hamba Tuhan.

Tiba-tiba, malam ini saya ingin berlari di tengah padang ilalang. Menerobos belantara sekedar ingin memeluk Bapak dan bersujud di kaki Ibu. Lalu menangis seperti anak kecil yang menyesali kenakalannya.

“Bapak, Ibu, nyuwun ngapunten,”