Memang baru dua kali, saya tidak merayakan lebaran di rumah, ini tahun ketiga. Tapi rasanya seperti bertahun-tahun rasanya. Maklumlah, Lebaran bagi pemuda tanggung macam saya ini (hehehe) memang menjadi momentum yang menyenangkan.

Lebaran, bagi kami menjadi semacam ritual untuk bersorak sorai merayakan kemenangan. Dulu, selama sebulan penuh, tiap malam, kami selalu berputar kampung untuk mengambil jajanan dari warga untuk orang-orang yang tadarus di mushola.

Kami sering kali berlomba mengambil jajanan ke rumah-rumah, apalagi kalau pas jadwalnya jatuh ke rumah warga yang punya anak gadis. Wah.. sudah pasti kami adu cepat untuk sekedar mendapat senyum dari gadis kampung kami itu.

Sebulan penuh pula, biasanya kami membangunkan warga dengan keliling kampung. Tidak dengan segala macam alat tabuh, biasanya kami cukup mengetuk pintu rumah warga yang terlihat masih terlelap.

Tapi itu dulu. Saat dimana jantung kami terasa copot saat mata kami bersirobok dengan gadis pujaan kami. Saat dimana kami masih suka bermain-main mercon bumbung.

Memang baru dua kali, saya tidak merayakan lebaran di rumah, ini tahun ketiga. Tahun pertama saya di Jogja. Tugas peliputan mudik membuat saya tertahan dijalanan. Saat orang-orang merayakan kemenangan dengan berjabat tangan, saya justru bermain dengan debu dan peluh. Saya dijalan, memantau orang mudik.

Tahun kedua, saya di Jakarta. Saya tidak pulang dengan alasan yang sama. Saya justru di lapas Salemba untuk melihat orang-orang di penjara. Saya berlebaran dengan kalapas Salemba. Saya menangis, ketika dalam keramaian, yang saya rasakan justru kesunyian. Saya kangen rumah, saya kangen masakan emak. Suara emak di telepon genggam justru membuat hati saya tersayat.

Sekarang tahun ketiga. Saya berniat pulang. Saya ingin merayakan lebaran dirumah. Merayakan kemenangan dengan keriuhan tawa saudara dan tetangga.

Anda rayakan lebaran dimana?
Ah.. dimanapun anda, saya hanya ingin mengucapkan selamat hari raya.
Maaf jika ade salah-salah kate yeee….