October 2008


gambar diambil dari www.anonymousspace.com

gambar diambil dari http://www.anonymousspace.com

Setetes asa tersembul di mata Jay, diantara deretan kata dilayar monitor 15 inci di kantor. Bukan kejutan akan pekerjaanya yang sore itu selesai lebih cepat dari biasanya, tapi lebih kepada janji bertemu dengan perempuan yang ia kenal lewat dunia maya.

Cinta pernah membuatnya tersungkur dalam gelap. Dalam bayang-bayang wisky dan rokok yang sebelumnya tak sedikit pun ia berani menyentuhnya. Malam ini, gadis dengan suara renyah itu memintanya untuk bertemu.

“Aku tunggu di Inul Vizta. Tepat jam sembilan malam,” kata suara perempuan diseberang.
“Oke aku akan datang. Tapi bagaimana cara aku menghubungi kamu lagi, batere ponselku drop?”
“Kalau kau sampai, kau miscall aja deh. Nanti biar aku keluar temui kamu. Lagi pula, disini banyak colokan kok,” goda Maria, pemilik suara renyah itu.

Jay tak pernah merasakan getaran yang sedahsyat itu. Saat kali pertama mata mereka bersirobok di depan ruang karaoke, di puncak Jakarta. Maria, perempuan bermata indah itu telah menggetarkan hatinya. Selalu saja, Jay tergoda manakala berjumpa dengan perempuan berambut pendek.

“Hai, Jay,” sapa Maria
“Iya, ehh.. maaf, Maria?”
“Haha.. bukan. Tebak donk,” kali ini Maria menggoda

Diruang karaoke, memang ada beberapa perempuan. Tapi hanya Maria yang mencuri hatinya. Tak pernah lagi Jay merasakan gemuruh di hatinya seperti malam itu, usai romantika cintanya yang kandas di kota Apel, setahun silam.

Berikutnya, waktu terasa bergulir lebih lambat, mengiringi derai tawa di awal perjumpaan mereka. Hingga mata Jay menemukan sebuah cincin putih melingkar di jari manis Maria.

.

Kemanggisan, 30 Oktober 2008

Advertisements

Saya jatuh cinta lagi. Saya jatuh cinta lagi dengan penari. Bukan. Sebenarnya bukan dengan penari. Lebih tepatnya tarian yang dibawakan penari. Iya, seminggu lalu saya kembali mendatangi Jambi. Lagi-lagi saya jatuh cinta dengan tarian yang dibawakan penari Jambi.

Batin saya menggelora. Dahsyat, saya sampai tak berkedip memelototi tarian daerah Jambi itu. Maklumlah, sudah lama saya tidak menikmati tarian daerah. Yang sering saya nikmati tarian meliuk-liuk dengan dentam suara musik yang gaduh. Saya bosan. Sungguh. Makanya, begitu melihat tarian daerah, sontak saya jatuh cinta. Ada rasa yang sukar diungkapkan dengan kata-kata.

Tarian Jambi dengan alunan musik melayu memang rancak. Berputar-putar mereka. Mereka berputar dengan tangan melenggang seirama dendang rebana. Saya jadi ingat Cici. Iya, Cici, penari Jambi. Saya mengenalnya beberapa bulan silam dalam acara yang sama saat ini.

Waktu itu Cici menari dengan sangat menjiwai. Cici menari dengan raga dan jiwanya. Semua orang bertepuk riuh, saya sampai takjub. Usai itu, saya datangi Cici.

Sayangnya, malam ini tak nampak ada Cici di antara deretan penari. Apakah Cici masih setia dengan profesinya sebagai penari? Sebuah profesi yang dulu ia geluti dengan suka hati?

Oh Cici, dimanakah engkau kini.

.

18 Oktober 2009.
Kabupaten Tebo, Jambi.

foto diambil dari rottentomatoes. silahkan di klik kanan

foto diambil dari rottentomatoes.

Kawan saya, bertanya. “Bang, dah nonton laskar pelangi?,”
Saya jawab, “Belum. Napa emang?,”
“Bagus lho,”
“Iya deh, nanti kapan-kapan saya nonton,” Itu saya yang menjawab.

Ya. Konon, Laskar Pelangi memang bagus. Tapi entah kenapa, hingga sekarang saya belum juga menontonnya. Di bioskop, penonton masih berjubel. Mungkin itu yang memuat saya kemudian malas untuk menonton film ini.

Saya menonton film untuk dinikmati. Saya males, jika mau nonton saja harus antri menyemut, hingga kaki pegal. Yang ada nanti justru mood saya luntur, imbasnya, menonton jadi kurang asik. Saya juga tidak begitu mendewakan yang namanya tren. Ketika banyak orang berbondong-bondong menonton, saya mah di kamar kost saja, menikmati The Holiday, Resurrecting the Champ, atau sesekali JAV.

Itulah kenapa kali ini saya tidak mau mengulas film laskar pelangi. Selain sudah banyak yang mengulas, saya juga belum nonton. Nanti malah kurang valid. Ntar, situ ngetawain lagi!. Makanya saya mau nulis film My Blueberry Night saja. Nggak apa-apa khan? Baiklah.

Adalah Elisabeth (Norah Jones) yang ketika mengetahui pacar serumahnya selingkuh, tiba-tiba merasa Tuhan telah membebankan dirinya dengan setumpuk persoalan. Dalam titik ini, Elisabeth tidak sadar, bahwa setiap manusia memiliki persoalan sendiri yang tak kalah berat. Dan di kafe-lah, orang-orang tersebut melarikan persoalannya–Melepas semua beban, atau justru mendapati persoalan tambahan?. (more…)