foto diambil dari rottentomatoes. silahkan di klik kanan

foto diambil dari rottentomatoes.

Kawan saya, bertanya. “Bang, dah nonton laskar pelangi?,”
Saya jawab, “Belum. Napa emang?,”
“Bagus lho,”
“Iya deh, nanti kapan-kapan saya nonton,” Itu saya yang menjawab.

Ya. Konon, Laskar Pelangi memang bagus. Tapi entah kenapa, hingga sekarang saya belum juga menontonnya. Di bioskop, penonton masih berjubel. Mungkin itu yang memuat saya kemudian malas untuk menonton film ini.

Saya menonton film untuk dinikmati. Saya males, jika mau nonton saja harus antri menyemut, hingga kaki pegal. Yang ada nanti justru mood saya luntur, imbasnya, menonton jadi kurang asik. Saya juga tidak begitu mendewakan yang namanya tren. Ketika banyak orang berbondong-bondong menonton, saya mah di kamar kost saja, menikmati The Holiday, Resurrecting the Champ, atau sesekali JAV.

Itulah kenapa kali ini saya tidak mau mengulas film laskar pelangi. Selain sudah banyak yang mengulas, saya juga belum nonton. Nanti malah kurang valid. Ntar, situ ngetawain lagi!. Makanya saya mau nulis film My Blueberry Night saja. Nggak apa-apa khan? Baiklah.

Adalah Elisabeth (Norah Jones) yang ketika mengetahui pacar serumahnya selingkuh, tiba-tiba merasa Tuhan telah membebankan dirinya dengan setumpuk persoalan. Dalam titik ini, Elisabeth tidak sadar, bahwa setiap manusia memiliki persoalan sendiri yang tak kalah berat. Dan di kafe-lah, orang-orang tersebut melarikan persoalannya–Melepas semua beban, atau justru mendapati persoalan tambahan?.

Dalam pencarian penyembuhan hatinya, Elisabeth bertemu dengan Jeremy (Jude Law), pemilik café sekaligus temannya. Elisabeth menyalurkan keluh kesahnya. Elisabeth menjadi sadar, bahwa persoalan yang ia hadapai tidak seberapa dibanding orang-orang yang seringkali menitipkan kunci ke Jeremy untuk lari dari persoalan Terkadang kunci-kunci itu teronggok sedemikian rupa, tanpa ada yang mengambilnya kembali. Tapi disinilah awal Elisabeth berproses menyembuhkan patah hatinya.

“Bolehkah aku tau alasan orang menitipkan kunci-kuncinya,” kata Elisabeth kepada Jeremy
“Kenapa kau ingin tahu,”
“Aku hanya heran, kenapa semuanya berakhir di kafe ini,” ujar Elisabeth lirih. Jeremy mengambil toples kaca berisi kunci-kunci yang dititipkan pengunjung kafe.
“Ambil salah satu,” pinta Jeremy. Elisabeth mengambil salah satu kunci berbandul boneka harimau.
“Itu milik sepasang anak muda, beberapa tahun lalu. Mereka terlalu naif untuk mempercayai bahwa mereka dapat hidup bersama” jelas Jeremy.
“Lalu, apa yang terjadi,”
“Proses kehidupan, semuanya tidak berjalan sesuai rencana,” tambah Jeremy.
“Atau salah satu diantara mereka lari dengan yang lain?,”
“Mungkin perasaan diantara mereka telah hilang,” jawab Jeremy.

Dari percakapan-percakapan dengan Jeremy, Akhirnya Elisabeth memutuskan untuk berkelana, pergi dari New York. Elisabeth bekerja dari satu kafe ke kafe lain. Dari sinilah cerita mengalir satu demi satu. Elisabeth mendapati Arnie (David Strathairn) yang berseteru dengan istrinya Sue Lynne (Rachel Weisz), sebuah persoalan yang menguatkan Elisabeth. Lepas dengan persoalan Sue Lynne, Elisabeth memutuskan menjadi pelayan di sebuah tempat perjudian dan bertemu dengan Leslie (Natalie Portman) yang mengalami masa-masa sulit seperti halnya Elizabeth.

Dari ketiga persoalan itulah, Elizabeth mamahami arti kesunyian dan kekosongan. Meski berada dalam hingar, belum tentu seseorang merasa lepas dari kesunyian. Dari sinilah, Elisabeth lebih memahami dirinya.

Film ini dibesut secara apik oleh sutradara Wong Kar Wai, film debutnya memakai bahasa Inggris. Sebelumnya Wong lebih banyak berkutat dengan film-film mandarin. Film yang dibuat 2007 lalu ini, sengaja dilukiskan Wong dengan berbeda. Wong nampaknya ingin membuat filmnya seperti penggalan puisi yang indah.

Wong seringkali memanfaatkan angle dibalik kaca untuk memberikan kesan artistik. Sayangnya, Wong lupa satu hal, keindahan gambar, tidak ditopang dengan unsur cerita yang kuat. Ibarat puisi, Wong memamerkan keindahan struktur bahasa, namun mengindahkan makna. Setiap masalah yang diceritakan dalam film ini sepertinya berlalu begitu saja tanpa memberikan kesan yang dalam.

Bahkan, menonton film ini terasa sangat lama, karena Wong tidak terlalu banyak merubah angle pengambilan gambar. Bahkan saat adegan perkelahian, Wong lebih suka mengambil dengan single kamera dan nyaris tak bergerak. Untunglah hadirnya Jude Law, Rachel Weisz, Natalie Portman dan Norah Jones menolong film ini dengan aktingnya yang mempesona. Tak hanya itu, soundtrack My Blueberry Night juga terasa syahdu melalui kelembutan cita rasa jazz ala Norah Jones.

Jika anda mencari film drama dengan suguhan beda, tak ada salahnya menyisakan sedikit waktu untuk menonton My Blueberry Night. Tapi, jangan terlalu berharap mendapatkan kisah cinta yang mendayu-dayu. (sofianblue)

*artikel ini pernah dimuat di harian Seputar Indonesia