Saya jatuh cinta lagi. Saya jatuh cinta lagi dengan penari. Bukan. Sebenarnya bukan dengan penari. Lebih tepatnya tarian yang dibawakan penari. Iya, seminggu lalu saya kembali mendatangi Jambi. Lagi-lagi saya jatuh cinta dengan tarian yang dibawakan penari Jambi.

Batin saya menggelora. Dahsyat, saya sampai tak berkedip memelototi tarian daerah Jambi itu. Maklumlah, sudah lama saya tidak menikmati tarian daerah. Yang sering saya nikmati tarian meliuk-liuk dengan dentam suara musik yang gaduh. Saya bosan. Sungguh. Makanya, begitu melihat tarian daerah, sontak saya jatuh cinta. Ada rasa yang sukar diungkapkan dengan kata-kata.

Tarian Jambi dengan alunan musik melayu memang rancak. Berputar-putar mereka. Mereka berputar dengan tangan melenggang seirama dendang rebana. Saya jadi ingat Cici. Iya, Cici, penari Jambi. Saya mengenalnya beberapa bulan silam dalam acara yang sama saat ini.

Waktu itu Cici menari dengan sangat menjiwai. Cici menari dengan raga dan jiwanya. Semua orang bertepuk riuh, saya sampai takjub. Usai itu, saya datangi Cici.

Sayangnya, malam ini tak nampak ada Cici di antara deretan penari. Apakah Cici masih setia dengan profesinya sebagai penari? Sebuah profesi yang dulu ia geluti dengan suka hati?

Oh Cici, dimanakah engkau kini.

.

18 Oktober 2009.
Kabupaten Tebo, Jambi.