gambar diambil dari www.anonymousspace.com

gambar diambil dari http://www.anonymousspace.com

Setetes asa tersembul di mata Jay, diantara deretan kata dilayar monitor 15 inci di kantor. Bukan kejutan akan pekerjaanya yang sore itu selesai lebih cepat dari biasanya, tapi lebih kepada janji bertemu dengan perempuan yang ia kenal lewat dunia maya.

Cinta pernah membuatnya tersungkur dalam gelap. Dalam bayang-bayang wisky dan rokok yang sebelumnya tak sedikit pun ia berani menyentuhnya. Malam ini, gadis dengan suara renyah itu memintanya untuk bertemu.

“Aku tunggu di Inul Vizta. Tepat jam sembilan malam,” kata suara perempuan diseberang.
“Oke aku akan datang. Tapi bagaimana cara aku menghubungi kamu lagi, batere ponselku drop?”
“Kalau kau sampai, kau miscall aja deh. Nanti biar aku keluar temui kamu. Lagi pula, disini banyak colokan kok,” goda Maria, pemilik suara renyah itu.

Jay tak pernah merasakan getaran yang sedahsyat itu. Saat kali pertama mata mereka bersirobok di depan ruang karaoke, di puncak Jakarta. Maria, perempuan bermata indah itu telah menggetarkan hatinya. Selalu saja, Jay tergoda manakala berjumpa dengan perempuan berambut pendek.

“Hai, Jay,” sapa Maria
“Iya, ehh.. maaf, Maria?”
“Haha.. bukan. Tebak donk,” kali ini Maria menggoda

Diruang karaoke, memang ada beberapa perempuan. Tapi hanya Maria yang mencuri hatinya. Tak pernah lagi Jay merasakan gemuruh di hatinya seperti malam itu, usai romantika cintanya yang kandas di kota Apel, setahun silam.

Berikutnya, waktu terasa bergulir lebih lambat, mengiringi derai tawa di awal perjumpaan mereka. Hingga mata Jay menemukan sebuah cincin putih melingkar di jari manis Maria.

.

Kemanggisan, 30 Oktober 2008