November 2008


pulanglahHanya Iwan Fals memang yang mampu menikam hati saya. Hanya Iwan Fals yang mampu membuat perasaan saya teraduk-aduk. Adalah lagu “Pulanglah” yang malam tadi membuat mata saya basah oleh rinai air mata. Sebuah lagu sederhana dengan lengkingan biola dan petikan gitar yang syahdu dan merdu.

Hanya Iwan Fals memang yang mampu menciptakan sajak indah, meski lirik yang diambil berujung duka. Hanya Iwan Fals pula yang mampu merangkainya menjadi partitur yang luka. Adalah lagu “Pulanglah” yang secara tidak sengaja saya dengarkan berulang-ulang di komputer saya.

Ini lagu tentang kematian pejuang HAM, Munir yang tewas dalam perjalanan ke Belanda diatas pesawat Garuda. Iwan Fals pertama kali menyanyikan lagu ini di halaman kantor YLBHI Menteng Jakarta. Mendengar lagu ini sontak membuat batin saya kembali teriris-iris.

Liriknya sederhana. Lihatlah :

Pulanglah

Padi menguning tinggal di panen
Bening air dari gunung
Ada juga yang kekeringan karena kemarau

Semilir angin perubahan
Langit mendung kemerahan
Pulanglah kitari lembah persawahan

Selamat jalan pahlawanku
Pejuang yang dermawan
Kau pergi saat dibutuhkan saat dibutuhkan

Keberanianmu mengilhami jutaan hati
Kecerdasan dan kesederhanaanmu
Jadi impian

Pergilah pergi dengan ceria
Sebab kau tak sia sia
Tak sia sia
Tak sia sia
Pergilah kawan
Pendekar

Satu hilang seribu terbilang
Patah tumbuh hilang berganti
Terimalah sekedar kembang
Dan doa doa

Suci sejati
Suci sejati

Ah.. lagu ini benar-benar pilu. Saya memang sering kali larut dalam haru dan bahkan tidak jarang menitikan air mata ketika sebuah lirik lagu menyentuh hati saya. Tapi, saya jadi sadar, ternyata saya masih memiliki hati. Atau, apakah karena saya lagi patah hati?

Semalam saya memang sedang sendiri, menikmati malam di kamar sewa. Duduk saya di ujung ranjang, bersandar di tembok dengan dua lutut saya tekuk. Malam itu, saya memang teramat kecewa. Sebabnya, saya tak bisa menikmati sekeranjang bintang di angkasa. Semuanya hilang tersaput awan. Hanya cahaya bulan berpendar terbiaskan awan. Dan entah kenapa, saya merasa kehilangan kesenangan. Atau, apakah karena tidak ada teman menikmati sekeranjang bintang?

.

Kemanggisan, 18 November 2008
*ah.. kenapa perempuan dengan mudah melepas cincin yang melingkar di jari manisnya

wingmariaLangit pekat di awal November. Bulan kedinginan mengintip dibalik awan. Bintang-bintang datang kepagian. Jalanan masih padat, cahaya mercury masih benderang dengan deru klakson dan debu yang mengepul. Di ketinggian Sky Dining Plasa Semanggi, dua insan berhadapan ditemani sepiring French Fries, Hot Chocolate, Caramel Macchiato dan dua potong Tiramisu.

“Aku tipikal laki-laki seperti pada umumnya, Maria,” kata Jay membuka percakapan.
“Hm.. Ya. Dan kau tidak akan pernah jujur jika kelak menemukan perempuan lain,”
“Bukan begitu..”
“Alah…,” potong Maria. Jay terkekeh.

Maria, perempuan dengan retina mata bercahaya, pemilik suara renyah dan sesungging senyum yang mampu membuat lelaki bertekuk lutut dihadapannya. Maria, perempuan usia 25 tahunan yang menikah muda, karena pilihan orang tua.

Maria, perempuan yang kehilangan masa mudanya yang menggelegak karena di usia mudanya, harus menghadapi selulit rumah tangga. Menyisakan segumpal dusta dalam sandiwara.

“Masih adakah cinta di dunia ini, Jay?”
“Maksudmu?”
“Masih adakah lelaki yang setia dengan cintanya?”

Jay menghela nafas. Menyeruput Caramel Macchiato kesukaannya. Menatap kekosongan mata Maria.

“Bolehkah aku pesan Whisky?”
“Tak perlu kau lari dari masalah, Maria,”
“Seteguk saja, mungkin dapat melunturkan bebal,”
“Tak perlu, Maria,”
“Kamu merokok? ada rokok?”
“Aku tak lagi merokok,”

Maria bersungut, ia ambil tas Louis Vuitton, ia keluarkan Avolution Menthol kesukaannya. Mengambil sebatang dan memercikkan api yang sontak menerangi wajahnya. Segumpal asap keluar dari mulutnya.

“Terkadang aku ingin berlari seperti kijang,” ujar Maria lirih. Matanya menerawang melihat keelokan cahaya di puncak Jakarta.
“Berlari dengan riang, memamerkan tubuh dan tandukku yang indah. Adakah kau masih tertarik dengan aku?” goda Maria

Jay tersenyum kecut. Jay tak mampu memungkiri kata hatinya. Perempuan yang ia kenal melalui dunia maya itu telah mengalirkan darah segar di aorta, membuat malam-malamnya penuh gemerlap cahaya. Meski Jay sadar, cepat atau lambat, hatinya akan kembali luka.

.
Kemanggisan, 06 November 2008
*Terimakasih, atas inspirasinya.