Awan putih berarak pelan. Angin sepoi menyaputnya menjauhi bukit. Hari masih siang, perjalanan pulang masih empat jam. Saya dan rombongan memilih beristirahat di sebuah kedai kopi sambil menikmati bukit Buntu Kabobong, di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.

Kata pelayan kedai, orang bule sering menyebutnya erotic mountain, atau bukit nona karena bentuknya mirip kemaluan wanita. Sungguh, yang saya lihat saat ini seperti saya melihat sebuah arsitektur alam yang megah, sebuah maket alam yang indah, tapi ini versi gedhenya.

Duduk saya di samping Rina, salah satu rombongan yang semobil dengan saya. Kopi toraja dan segepok pisang goreng terhidang di depan kami, lengkap sudah.

“Mirip ya, mbak?” tanya saya. Sungguh itu pertanyaan konyol. Saya nggak sadar waktu ngomong itu.
“Apanya yang mirip?” jawab Rina
“Itu bukitnya. Kalo yang ini versi gedhenya,”
“Emang kau sudah pernah lihat versi aslinya?”

Saya cengengesan. Saya lirik kawan saya itu, ia sedikit mengulas senyum. Saya perhatikan wajahnya. Ia juga menatap lekat mata saya. Lalu pandangan mata saya berangsur menuruni tubuhnya. Sebelum sampai ke bagian yang menjadi obyek pembicaraan kami, tiba-tiba tangan kawan saya itu mengaplok pipi saya. Rina cengengesan, saya merona. Bergegas, saya seruput kopi hitam sedikit pait itu.

***

Pekan lalu, saya diajak jalan-jalan ke Makale, Tana Toraja. Bersama rombongan, kami diantar dengan pesawat carter. Kami transit di Makasar. Cuaca teramat buruk, sehingga rombongan meneruskan ke Tana Toraja dengan perjalanan darat.

Ah sungguh, saat sedang sedikit flu seperti ini, saya paling malas untuk bepergian. Bukan kenapa-kenapa, tapi karena saya harus menahan sakit luar biasa di telinga sesaat sebelum pesawat mendarat.

Fenomena biasa saja sebenarnya, karena ketika badan sedang tidak enak badan, flu atau pilek, tekanan udara di angkasa membuat membran mukosa telinga kita tertekan. Perubahan tekanan udara yang tiba-tiba di luar telinga tengah ini, menyebabkan tuba eustachius gagal untuk membuka dengan sempurna. Rasanya sakit sekali, urat kepala seperti menegang, membuat telinga sakit luar biasa, dan ketika tiba di darat, telinga pun masih berdengung. Sebenarnya bukan hanya telinga saja yang bermasalah, konon, ketika pesawat udara berada di ketinggian 30.000 kaki, indra perasa manusia juga mengalami gangguan. Indra perasa menjadi tidak begitu peka dengan rasa makanan. Cita rasa akan sangat berubah, ketika makanan di hidangkan di ketinggian 30.000 kaki. Jadi wajar, jika makanan maskapai penerbangan tidak seenak di daratan.

Telinga saya masih saja berdengung, meski perjalanan darat sudah kami tempuh selama dua jam. Itu lah sebabnya, kenapa saya malas terbang jika sedang flu seperti ini. Itu juga mungkin yang menjadi penyebab, kenapa anak balita sabaiknya tidak perlu naik pesawat terbang kalau bepergian. Sebabnya, anak di bawah lima tahun tidak menyadari apakah dirinya sedang tidak enak badan atau tidak. Meski mengulum permen sekalipun.

***

Enam jam perjalanan menuju Makale. Lelah, seperti hilang ketika sampai di tujuan. Tana Toraja memang cantik. Dimana-mana, rumah adat Tongkonan dengan atap melengkung, tanduk kerbau dan tengkorak kerbau menghiasi sepanjang perjalanan di Ke’te Ke’su, dusun tradisonal Tana Toraja.

Di sepanjang perjalanan, bukit-bukit berkapur nan hijau dan keputihan melingkari Tana Toraja seperti melindunginya. Daerah ini, memang terkenal akan adat untuk menjaga alam. Alam menjadi sahabat, alam menjadi semacam kekasih yang harus dijaga dan cintai. Mungkin karena itu, ketika ada orang Toraja yang meninggal dunia, jasadnya di “kembalikan” ke alam dengan meletakkan di dalam erong di atas bebatuan.

“Di atas Londa itu juga banyak boneka kayu nangka,” kata kawan saya, saat kami melewati Londa, bukit tempat penguburan jenazah.
“Iya, diukir mirip dengan wajah orang yang meninggal, bukan,”
“Hanya bangsawan yang dibuatkan boneka Tau Tau, itu,”

Sayangnya, kami tidak sempat jalan-jalan menikmati Tana Toraja lebih lama. Protokoler yang ketat dengan jadwal membuat kami hanya mampu berangan-angan mendatangi kembali tempat ini dan berjalan-jalan lebih lama.

***

Saya berdiri diatas perbukitan di Bandara Pongtiku Makale, Tana Toraja. Bandara ini teramat unik, karena letaknya di atas bukit. Ujung landasannya langsung mengarah ke ngarai. Saya memang tidak ikut dalam rombongan yang menuju ke Makasar dengan pesawat Twin Otter berpenumpang 18 orang itu. Saya memilih ikut rombongan yang kembali ke Makasar dengan jalan darat. Saya ingin sekali menikmati perjalanan kali ini dengan bermobil, meski kami harus menghabiskan perjalanan selama lebih dari enam jam (karena di kawal Voorijder).

Pesawat sudah berangkat sesaat. Angin menampar-nampar wajah saya. Saya masih berdiri di depan bandara Pongtiku, Tana Toraja. Saya pandangi keindahan pebukitan. Awan putih yang berarak pelan, burung berkicauan, angin sepoi-sepoi dan bukit hijau yang menjulang membuat batin saya terasa tenteram. Sayangnya, tak ada pelangi disini.

Bergegas, saya telepon seseorang.