twilight_book_cover1Saya tak melihat sebuah kelebihan apapun dari sosok drakula macam Edward Cullen dalam film Twilight selain dia gesit, kuat, dan jago memanjat—yah barangkali sebagian orang melihat dia tampan.

Saya justru melihat si Cullen itu (anda boleh membacanya si Cullun) sebagai sosok lelaki seperti pada umumnya. Ya, bedanya mungkin karena dia drakula dan peminum darah. Soal cinta yang menjadi inti cerita film ini, ah, saya pikir sama dengan saya. Sama dengan anda pembaca, atau barangkali dalam hal menaklukkan perempuan, malah jauh lebih hebat dari sampeyan.

Terus terang, saya baru sadar ketika saya menonton film ini dan dipaksa mendengar ocehan Samirun, kawan saya dari Semarang.

“Tau nggak bro,” kata Samirun lewat sambungan telepon. Ah, dasar Samirun ini kalau telepon memang tidak peduli waktu. Saat itu sudah pukul tiga pagi, saya baru mau berangkat tidur. Mata sudah terpejam.
“Paan, Su?”
“Si vampire yang menjadi dambaan perempuan-perempuan itu, ternyata sama seperti lelaki pada umumnya,”
“Vampire apaan?” tanya saya heran. Itu saya bertanya karena saya belum menonton Twilight. Saya masih malas nonton film yang penuh sesak. Lagi pula saya tidak terlalu peduli dengan tren dan kebetulan malam itu saya sudah ngantuk.
“Belum nonton Twilight ya?” gantian Samirun bertanya.
“Auk ah,”

Samirun lalu dengan bangga cerita. Bahwa Edward Cullen yang memiliki mata emas, dan tampan itu sebagai sosok lelaki biasa. Samirun mengulas, bagaimana si Cullen itu berlaku sok misterius yang justru dari situlah kelebihannya hingga banyak perempuan yang menggilainya.

“Ingat,” kata Samirun. “Sebagian perempuan suka dengan lelaki yang misterius. Dan si vampire ganteng itu masuk dalam kriteria itu,”
“Hmm,”

Menurut Samirun, Bella Swan yang baru pindah ke Forks, kota yang selalu di gelayuti mendung itu juga memiliki feromon yang sangat kuat. Tak hanya Eric dan Mike Newton yang menggilainya, si Cullen juga menghirup wangi feromon yang sama hingga ia kemudian pura-pura menutup hidung.

“Hehe.. Aku nggak yakin saat Bella ada di samping kipas angin itu, si Cullen membaui darah Bella. Aku justru yakin, si Cullen bau perempuan,” kekeh Samirun
“Maksudmu,”
“Yah.. kayak kamu lah, Bro. Kalo ada cewe cantik dari jarak 20 meter juga sudah bau. Mata langsung jelalatan,” tawa Samirun meledak
“Ah eek, lu!”

Banyak hal sebenarnya yang diulas Samirun dari kaca mata lelaki macam dia. Salah satunya, karena si Cullen mampu memberikan kejutan-kejutan kecil dalam hidup Bella, memberikan Bella percik “kembang api”, warna warni pelangi dan wangi bunga-bunga kehidupan. Semua perlakuan itu, menurut Samirun, akan membuat setiap perempuan jatuh berkalang asmara.

Seperti yang dilakukan Samirun pada setiap perempuan tentunya. Ya, atau bahkan mungkin anda juga sering memperlakukan perempuan seperti itu. Membuat perempuan nyaman, dan mendapatkan kesenangan, terbukti memang bisa menjadi salah satu daya tarik untuk menaklukkan perempuan. Tak perlu lah menjadi penghisap darah, gesit, kuat, pintar memanjat atau barangkali memiliki wajah setampan Edward Cullen.

“Satu lagi, Bro,”
“Paan lagi?” saya mulai terusik
“Hehe.. tenang coy. Gak usah emosi gitu,”
“Iya paan?”
“Kamu tau, kenapa saat Bella minta untuk digigit Cullen, justru si Cullen menolak?”
“Lah, kenapa?”
“Hehe.. itu karena si vampire tidak ingin Bella menjadi abadi. Cullen ingin terus muda, dan membiarkan Bella tua. Kemudian Cullen cari cewe yang lebih muda lagi. Cullen itu laki-laki, cuy!!” Samirun ngakak.
“Ngawur!! Ah sudah ah,”

klik!!

Saya menyudahi pembicaraan saya dengan Samirun. Ulasan Samirun pagi itu benar-benar ngawur dan hanya sepihak. Tapi anehnya itu justru meracuni pikiran saya. Dan kemarin saya nonton Twilight, saya tertawa. Saya ingat Samirun. Ternyata memang tidak ada beda.

Ah.. dasar lelaki!!