perempuan-keduaBuih bersikejar dengan ombak yang datang bergelombang. Senja sudah mulai condong ke barat menciptakan bayang sepenggalah. Saya ditemani Keita duduk di ujung dermaga pantai Ancol. Sebentar lagi gelap, malam minggu segera tiba.
Mobil-mobil mewah dan sepeda motor semakin rapat. Bisik-bisik orang berpacaran semakin jelas terdengar karena jarak kami duduk saat ini dengan beberapa pasangan lain semakin dekat, semakin rapat.

“Kalo gue ngeliat dia jalan ma perempuan itu, rasanya sakit bang,”
“Normal,” kata saya. “Bukankah elo memang mencari sensasi macam itu?”
“Iya sih, tapi kadang begitu menyakitkan,”

Sore itu saya sedang duduk berdua menikmati senja dengan Keita. Keita ini kawan saya. Susahnya melafalkan namanya membuat saya sering memanggilnya dengan Ketek. Nah, si Ketek sengaja mengajak saya ke Ancol ceritanya mau curhat. Saya memang selalu ketiban sial untuk mendengarkan orang berkeluh bahagia macam ini.

Keita kawan saya itu, nampaknya sedang jatuh cinta. Jatuh cinta pada lelaki yang sudah beristri. Buset!! Memangnya nggak ada lelaki lain, hingga Keita terdorong mencintai seorang lelaki yang sudah beristri? Cinta memang dahsyat bahkan kadang logika menjadi terkaburkan olehnya.

Galibnya roman percintaan, drama Keita dengan lelaki beristri itu bermula dari pertemuan mata keduanya di sebuah sudut café di mall beberapa bulan lalu. Dari sudut café, berlanjut ke gedung bioskop, menghabiskan sisa sore dengan belanja, kali lain bercengkrama dengan rintik air di bundaran HI. Bagi mereka, malam-malam terlewati begitu indah, begitu menyenangkan. Senja pun jadi nampak begitu kemilau dimata mereka, meski keduanya sadar status kelak akan memisahkan mereka.

“Suatu ketika, dia menghilang. Gue benci kalau dia menghilang,” kata Keita.
Keita diam. Dalam diam, dia menatap lekat wajah saya. Ia ambil nafas panjang, lalu pandangan matanya lurus menatap bayang senja yang terpantulkan indah oleh gelombang lautan.
“Gue tanya dia, kenapa dia selalu menghilang. Elo tau bang, apa jawabnya?”
Saya diam. Menyimak cerita selanjutnya.
“Karena dia sayang gue,”

Dentam!! Batin saya seperti ikut tergetar merasakan sesaknya hati Keita saat mendengar jawaban lelaki pujaannya itu.

“Dia meninggalkan gue, karena dia sayang gue bang,”
“Mungkin itu pilihan paling baik dari dia kali,”
“Tapi kenapa jadi dia yang menutup cerita hidup gue?” potong Keita. “Bukankah seharusnya gue yang menutup tirai panggung kehidupan gue? Kenapa dia ninggalin gue, kalau memang dia sayang gue?”

Saya diam. Dalam diam, saya berpikir keras. Pertanyaan Keita sore itu berdengung di kepala saya. Sejak pertemuan dengan Keita sore itu, kalimat terakhir darinya begitu menganggu saya. Cinta memang seperti puzzle. Kita harus sabar menatanya untuk beroleh gambar yang sebenarnya. Kadang pecahan puzzle begitu rumit, kadang begitu mudah. Kenapa sebagian perempuan begitu tak peduli dengan status, itu saja sudah membuat saya berpikir ektra keras.

Bagi sebagian perempuan, status memang tidak pernah menghalangi ketika cinta sudah berlabuh di sudut hati. Jangankan pacar orang, lelaki beristri saja tak peduli, meski badai merintangi.

Iseng, saya pernah bertanya dengan seorang kawan tentang fenomena macam ini. Sebut saja namanya Jeng Piz. Dia kawan yang secara tak sengaja saya temukan di dunia maya. Saya tanya saat dia online melalui YM.

Sanc47 : Saya
Jeng Piz : Kawan saya

Sanc47 : pizz…
BUZZ
Jeng Piz : Kenapa, Blue
Sanc47 : Sibuk?
Jeng Piz : Lagi ngrekap laporan akhir tahun. Nopo?
Sanc47 : Kangen. :p
Jeng Piz : Halah!! Prek.. ora ngaruh.
Sanc47 : hehehehe…
Jeng Piz : Nopo, Su?
Sanc47 : mau nanya. Tapi takut ganggu je, jeng.
Jeng Piz : Napa?
Sanc47 : Kenapa siy cewe nggak peduli dengan status?
Jeng Piz : Maksudmu?
Sanc47 : kenapa saat jatuh cinta, cewe suka gak peduli?
Sanc47 : jangankan cowonya udah punya cewe, cowo beristri juga masa bodo?
Sanc47 : kenapa jeng?
BUZZ
Jeng Piz : hehehehehhehe…
Sanc47 : eh.. eh.. lha kok ngguyu?
Jeng Piz : emange lagu? Jangan gitu sayang, jangan gitu sayang.. (rofl)
Sanc47 : Jawab, cuk!!
Jeng Piz : hehehehehhehe…
Jeng Piz : itu karena ce memang cenderung mengikuti kata hatinya, blue
Sanc47 : logika terabaikan?
Jeng Piz : yup. Eh ya nggak mesti dink…
Sanc47 : trus?
Jeng Piz : suka sama orang itu kan gak bisa dirancang
Jeng Piz : cewe cenderung menuruti kata hatinya,
Jeng Piz : meski pertimbangan logika sudah terpenuhi sekalipun
Sanc47 : dan menurut mereka, karena mereka sayang..
Sanc47 : karena lelaki itu teramat menyenangkan bagi hidupnya.
Sanc47 : Jadi nya mrk gk peduli? Ah.. gak mudeng aku..
Jeng Piz : he eh…seperti tersihir dengan rumusan gak jelas soal 1 banding 9 itu
Jeng Piz : suka sama orang kan urusan hati, yg ntah bagaimana caranya itu teracuni sama pikiran jugak
Jeng Piz : maksudku, kadang apa yg kau pikirkan itu lah yg lama2 merasuk ke perasaan. Jadinya, logika lama kelamaan terabaikan.
Jeng Piz : hehehehehhe bahasaku aneh..
Sanc47 : rumusan 1:9 itu seperti apa?
Jeng Piz : saelah…
Jeng Piz : logika dan perasaan, Blue.
Sanc47 : cewe cenderung pake logika dan perasaan perbandingannya 1:9. Begitu?
Jeng Piz : yup. 1 untuk logika dan 9 perasaan. Kebalikan ma cowo
Sanc47 : hehehehe… benul jugak..
Jeng Piz : wis mudeng?
Sanc47 : nuwun yo…
Jeng Piz : emang napa ik?
Sanc47 : gpp. Oya, foto di YM mu itu, kamu nampak manis.
Jeng Piz : hehehehe…
Sanc47 : utang duit donk piz!
Jeng Piz : Asem!! Mboh..

Sejak chating dengan kawan saya, saya menjadi mudah menyusun puzzle romantika Keita. Saya jadi tak pernah menyalahkan, kenapa Keita begitu ngotot menyukai lelaki yang sudah beristri. Saya sangat paham, hati Keita sedang berbunga-bunga. Keita menemukan percik kembang api yang meskipun terlihat sesaat, tapi begitu indah dan teramat menyenangkan. Keita secara sadar tengah mengalaminya.

“Gue nggak pernah mengharapkan dia jadi suami gue bang. Tapi gue tak ingin percik kembang api itu menghilang,”

Saya diam.

***

Sore selepas hujan sejak siang. Saya duduk sendiri dibangku mall, karena pacar saya pamit ke toilet. Di tangan saya ada telepon genggam dan tas yang dititipkan pacar saya. Dalam kesendirian, tiba-tiba ponsel milik pacar saya bergetar. Itu sebuah pesan singkat masuk. Secara tak sengaja, saya telah membukanya.

“Kalau memang anda mencintai suami saya, saya ikhlas. Tapi tolong cintai suami dan anak-anak saya. Saya titip, sayangi mereka lebih dari sayang saya kepada mereka”

Dentam!! Hati saya sontak bergelora.

.
Kemanggisan, 06 Januari 2009
Terima kasih juga untuk M dan H atas cerita-ceritanya. Juga Jeng Piz atas pencerahannya.