foto-debarSaya terkesiap begitu mendengar dering handphone di pertengahan malam. Hati saya sontak bergelora tatkala mengetahui nama yang muncul di layar handphone. Itu kawan saya, yang sedang menuju ke Kemang untuk merencanakan pertemuan kami.

“Nanti saya kabari lokasi persisnya. Datang ya?” kata suara perempuan di seberang.
“Baiklah,”

Itu pertemuan yang menurut saya istimewa. Saya senang, sekaligus gemetar karena saya akan bertemu kawan-kawan yang sebelumnya hanya saya kenal lewat dunia maya. Kawan yang jika batin ini lelah, selalu membuat keceriaan-keceriaan yang entah kenapa selalu membangkitkan jiwa saya.

Baiklah, saya menyepakati pertemuan itu. Setelah ada urusan kecil dengan abang saya, akhirnya dengan debar mirip dara yang akan bertemu pujaan hatinya, saya menyusuri jalanan Prapanca. Saya biarkan dingin malam menampar muka saya.  Saya ajak serta abang untuk menemani meski sebelumnya mengeluhkan tak enak badan.

Dan seperti yang saya duga, itu perjumpaan yang teramat mengasikan. Romantika yang terbangun layaknya camar-camar yang kembali ke sarangnya usai bertahun-tahun terbang dari pulau satu ke pulau lainnya. Rasa haru menyusuri lorong-lorong hati saya, ketika tangan-tangan hangat membelai telapak saya.

Dan entah kenapa, saya tiba-tiba menjadi teramat gugup. Mungkinkah ada debar yang sebelumnya tersulut oleh kekaguman? Entahlah.

Sayang, saya tak bisa menemani kawan-kawan saya itu hingga pagi menjelang.

.

**Terima kasih Oscar Hariman (Pepen), Ivan, Emyou, Aprikot dan Indahwidi. Kalian seperti percik kembang api yang membuat saya selalu terkesima dengan warna-warni di langit.

.

foto koleksi indahwidi