foto dari blog mas ArifMaria duduk di bawah angsana. Semilir angin membawa angannya berlari di antara sisa-sisa jeda istirahat jam pertama. Pagi tadi, Maria kembali mendapati sebuah surat yang dibungkus dalam amplop bergaris jingga. Surat kelima yang ironisnya, ia tak pernah tau, siapa tuan pengirimnya

Memang hanya berisi sebuah puisi. Tapi, sebab itulah yang justru membuatnya ingin berlari tiap pagi, bersikejar dengan dentang bel dan derit pagar sekolah. Di laci meja kelas, ia selalu dapati selembar surat tanpa nama. Hanya sebuah garis jingga dan debar yang selalu mengganggunya.

Sehari sebelumnya, hanya secarik kertas dalam amplop yang sama ia temukan tergeletak di atas meja. Sekali lagi, tanpa nama dan hanya garis jingga.

“Senyummu selalu membuatku rindu”

Hanya selarik kalimat yang ada, yang ironisnya membuat batin Maria bergemuruh. Jantungnya seperti terpompa oleh debar asmara. Maria, semakin penasaran dengan pengemar rahasianya.

Ini kali kedua Maria merasakan debar yang sama setelah dua tahun lalu cinta pernah mengelabuhinya. Hati Maria luka, setelah cinta pertamanya kandas oleh lekuk tubuh perempuan lain yang menyebabkan Bayu berpaling darinya. Bayu kepergok memboncengkan Pizka yang merangkulnya dengan ketat. Tawa mereka telah meruntuhkan kepercayaan Maria.

Kini, hati Maria kembali berdebar. Amplop bergaris jingga itu telah membuat hatinya bimbang. Ingin ia segera membuka sudutnya dan mengeluarkan secarik kertas didalamnya. Namun batinnya bergolak. Ia tak ingin hatinya kembali mengalami nasib yang sama. Tapi sisi hatinya yang lain memintanya untuk segera beranjak mencari tambatan hati.

Maria putuskan membukanya. Sebuah puisi dengan tulisan tangan yang teramat rapi.

Cinta adalah sembilu angin lalu,
Terbentang bersama perih dan senyum yang pilu.
Memurni bersama embun pagi,
Dalam dingin bukit hati

Cinta adalah senyummu
Terbentang bersama riang di hati
Memurni untuk saling berbagi
Dalam hangat mentari pagi

Batin Maria bergolak. Dadanya membumbung. Tak pernah ia merasakan debar yang begitu dahsyat pasca cinta yang pernah mengelabuhinya. Meski Maria tak mengerti puisi sama sekali, tapi ia mengerti arti rangkaian kalimat untuknya.

Maria melipatnya. Memasukkan dalam amplop jingga, lalu bergegas ia tempelkan di dada. Senyum Maria menggembang, ia putuskan untuk kembali membuka hatinya. Maria tak akan pernah peduli, jika kelak cinta kembali menyayat hatinya. Karena Maria tahu, sembilu yang kelak menyayatnya, tak kan tergantikan manakala ia berhasil menemukan pujaan hatinya. Cinta, kelak akan membuat jiwanya semakin dewasa, membuat langkahnya seringan kapas, semurni embun pagi.

***

Dari balik jendela kaca kelas, aku hanya bisa tersenyum melihat roman muka Maria. Maria, yang telah mencuri hari-hariku. Senyum dan aroma wangi yang disebarkan dalam kelas telah membuat mataku terbutakan oleh kemilau rindu. Aroma yang tercium jelas karena Maria selalu memilih duduk bersebelahan denganku.

“Oh Tuhan, Kenapa kau takdirkan aku sebagai perempuan?”

.
**Cerita mini ini telah dimuat di kolom gaul sebuah surat kabar, dengan nama samaran.
Mas arif, maaf aku curi foto di blogmu. Aku pinjam.