membunuh-rindu“Blue, kau tau, bagaimana membunuh Rindu?”

Saya setengah kaget menerima SMS itu. Masih pukul 3 pagi sebenarnya dan mata saya masih juga belum terpejam, saat Samirun, kawan saya dari Semarang mengirimkan sinyal berbentuk tulisan itu ke handphone saya.

“Kenapa kau ingin membunuh Rindu? Apakah kau sedang terlibat dalam lingkar cinta terlarang?” balas saya seketika. Saya mencoba memejamkan mata. Dan berhasil, saya ketiduran.

Itu pukul 10 pagi, ketika saya bangun dan menerima dua SMS plus tujuh misscall. Semuanya dari Samirun. Saya membuka SMS-nya. Isinya.

“Kau tau caranya membunuh rindu, tak? Itu saja dan bukan malah balik tanya,” itu SMS dia yang pertama. SMS kedua lebih singkat. “Kampret!! Turu kowe, Su!!”

Saya terbahak, tapi tak lama. Selang beberapa saat, saya telepon Samirun.

Itu Samirun mengangkat teleponnya. Dia memaki, tapi saya mendinginkannya dengan tawa, lalu dia mulai cerita. Dan seperti yang saya duga, Samirun sedang jatuh cinta. Ah, cinta. Bosan saya sebenarnya, tapi saya tetap mendengar raung dan ceritanya yang terdengar manja.

“Aku jatuh cinta, Blue. Aku jatuh cinta hanya dalam sehari aku berjumpa dengannya. Tawanya teramat manja, kerlingnya menggoda dan perlakuannya, sungguh membuatku mendadak mati sesak,” cecarnya. Saya diam.
“Kau tau, bagaimana cara membunuh, Rindu?”
“Sebentar. Kenapa kau nekat mau membunuh perasaaanmu?”
“Jujur, aku menyukainya. Tapi aku tak ingin membuatnya tersiksa, biarlah aku simpan perasaanku, Blue. Aku ingin membunuh rinduku,”

Ah.. Samirun. Sayang sekali, saya tak tau bagaimana cara membunuh rindu. Terkadang, saya juga mengalami kerinduan, dan itu benar-benar menyiksa. Membuat nafas kadang tersenggal. Sulur-sulur rindu memang bisa tumbuh dalam setiap kondisi. Rindu kadang identik dengan sunyi. Ketika kesepian, kau mampu membunuhnya dengan mendatangi pusat-pusat keramaian. Tapi kesunyian? Dia bisa berada ditengah-tengah hingar, ditengah tawa orang-orang disekitar, sedang sepi tak. Begitu pula Rindu. Sulur rindu bisa tumbuh ditengah-tengah keramaian, dibawah bayang lalu lalang orang. Lalu, bagaimana cara kau membunuhnya?

Tapi, Run. Rindu, bukan penjahat yang harus kau babat dan penjarakan. Biarkan dia mengapung di bilik sempit hatimu.

“Pokoknya, aku mau membunuh rindu. Titik,”

Ah.. tahukah kau kawan, bagaimana cara membunuh rindu?

.
Djakarta, 12 Maret 2009