Seorang kawan menelepon ketika saya sedang dikejar deadline. Saya angkat. Ia meminta saya datang ke Wetiga karena Arif Kurniawan menyambangi kawan-kawan di warung angkringan .

Saya terkesiap. Itu Arif Kurniawan adalah Bangaip. Orang yang selama ini hanya bisa saya sapa lewat komentar di blognya. Orang yang dari tulisan-tulisannya terkadang membuat batin saya ngilu, satire, kadang serius hingga membuat saya bersungut.

Sayangnya, saat itu, saya tidak bisa ke Wetiga. Saya menyesal. Saya hanya nitip salam buat bangaip, jika memang malam itu saya tidak bisa menemuinya. Saya sedih. Hingga kemudian, kawan saya yang lain mengabarkan bangaip hendak ke Gambir.

Saya girang bukan kepalang. Batin saya mengombak, bergemuruh seperti deru air terjun Niagara. Saya telepon, bangip. Tidak diangkat. (mungkin dijalan) lalu saya di SMS.

“Kakak”
Itu sms bangaip. Kakak? Apa ini maksudnya? Lalu saya balas.
“Bangaip?”

Sekejap kemudian bangaip telepon. Dan terjadi kesepakatan pertemuan saya dengan bangaip.

Sungguh, tak pernah terbayangkan sebelumnya saya bisa berjabat tangan dengan dia. Rasa-rasanya, ketuban saya mau pecah, lalu mbrojol keluar bayi yang lama disimpan. Lega luar biasa. (saya tidak tau, apakah melahirkan itu lega atau sakit luar biasa. Yang jelas saya senang. Maaf jika perumpamaanya ngawur)

Sungguh bangaip ini orang baik, meski saya baru pertama kali kenal dia. Oh bukan. Bukan karena saya suka memelototi blognya. Bukan pula karena saya ditawari donat. Tapi sungguh, ini karena ada anak kecil yang meminta donat padanya.

“Nyanyi dulu lah. Mau donat kan?” kata bangaip. Itu bangaip meminta si anak kecil itu nyanyi untuk mendapatkan donat. “Bisa baca puisi, pantomim atau nari?. Katanya mau donat?”

Tentu, anak kecil itu hanya diam dan hanya cengengesan. Lalu bangaip ngasih donat. Kurang baik apa coba?

Saya datang ketemu bangaip di Gambir. Dan bukan karena saya ingin membawa buku Cilincing Brotherhood yang saya impikan (saelah emang sampe ngimpi gitu?). Tapi karena saya ingin ketemu bangaip. Itu saja.

Makasih bang. Akhirnya saya bisa berjabat tangan dengan sampeyan.

Oya, buku edisi khusus : Baca Dulu, Bayar Belakangan yang saya pegang, ditulisi :

Untuk Sofian. Janganlah Kau Bermuram Durja. Hari ini sungguh cerah. Ayo kita berenang.
06/04/09
Stasiun Gambir
Indonesia.