May 2009


garudaTau Film Knowing? Atau pernah nonton Film Knowing? Iya, itu film yang menggambarkan bencana-bencana yang terjadi di dunia yang diambil dari novel karya Ryne Douglas Pearson. Bintangnya Nicolas Cage. Pernah nonton kan?

Wah dahsyat. Saya sampai dua kali menontonnya, meski saya kecewa dengan akhir film yang terkesan “gampang” karena adanya pertolongan dari Alien. (entah alien atau malaikat berwujud manusia?)

Saya terkesan dengan adegan jatuhnya pesawat terbang. Sungguh, saat pesawat crash dalam adegan itu, saya bergetar. Saya seperti tak sanggup melihatnya. Saya ketakutan, saya gemetar. Saya membayangkan berada di posisi John Koestler (Nicolas Cage), saat melihat dengan kepala sendiri pesawat menukik lalu berdebum ke tanah. Saya ngeri!

Saya ingat kejadian 7 Maret 2007 lalu, saat garuda terbakar di Bandar Udara Adi Sutjipto, Yogyakarta. Saya memang tidak menyaksikan langsung kejadian hard landing Garuda yang menewaskan 22 orang itu. Tapi saya ada di lokasi, beberapa menit setelah mengetahui pesawat crash dan terbakar.

Saya masih mendapati puluhan ambulance hilir mudik dengan sirine meraung-raung, lalu saya ke RS Bethesda, memantau di RS Panti Rapih dan berhari-hari di RS Sardjito. Waktu itu, seharian badan saya bau daging orang terbakar. Meski saya mandi berkali-kali, baunya enggan hilang. Dan Film Knowing, mengingatkan saya akan peristiwa itu.

Hingga kemudian tragedy pesawat jatuh kembali terjadi yang membuat saya kembali merasakan kengerian. Hercules C130 milik TNI AU, jatuh di Magetan Rabu (20/5/2009). 101 orang tewas. Kebanyakan keluarga militer dan warga sipil.

Saya lagi di Pontianak memang. Saya mengetahui tragedy itu dari televisi. Televisi mengabarkan peristiwa itu cepat sekali. (ah.. kalau saja tak ada wartawan, pasti tak akan ada yang memberitakan kejadian yang membuat saya lunglai macam itu. Shit!!)

Badan saya lemas. Bukan karena saya tidak doyan makanan hotel pagi itu, tapi karena tragedy pesawat jatuh milik TNI selalu terulang dan terulang lagi. Yang membuat saya makin lemas, saya sering naik Hercules C130 milik TNI AU skuadron 17 VVIP. Meski beda pesawat dan skuadron, saya merasakan getar yang sama. Saya ngeri.
Ngeri membayangkan Wardi, salah satu saksi mata, melihat dengan kepala mata sendiri melihat pesawat Hercules menukik, menabrak bambu dan menghajar dua rumah. Saya tak bisa membayangkan ketika berada di tempat seperti Wardi. Mungkin Wardi sama ngerinya dengan Nicolas Cage. Kenapa semua itu terjadi? Salah siapa? Adakah kode-kode yang entah dimana, buatan anak kecil yang menggambarkan peristiwa-peristiwa mengerikan itu?

Ah semoga kecelakaan pesawat tak lagi terjadi di bumi pertiwi ini.

.
*untuk korban kecelakaan pesawat Garuda Indonesia Boeing 737-400 GA-200 di Yogyakarta dan Hercules C 130 di Magetan.

Advertisements

apelLily namanya. Saya mengenalnya di restoran 24 jam di Mangga Besar. Dia menjulurkan tangan, sesaat setelah meminjam pemantik api milik abang saya. Lily duduk di depan kami sekarang. Menghembuskan rokok mild mentol dari bibir tipisnya.

Lily, bukan nama sebenarnya. Dia mengakui memakai nama alias itu, sebagai salah satu syarat untuk bisa menjadi Lady Companion (LC) di salah satu hotel berfasilitas karaoke di Mangga Besar.

Menjadi LC memang bukan salah satu cita-cita saat kanak-kanak Lily dulu. Dikampungnya, Sukabumi, Lily  mengaku cita-citanya ingin menjadi guru. Guru bagi anak-anak agar bisa menjadi lebih pintar. Tapi cita-cita itu kandas, setelah orangtuanya menyerah untuk mengekolahkannya hingga tuntas. Tak ada uang untuk biaya sekolah.

Putus SMP, Lily yang konon dikampungnya memang memiliki wajah rupawan itu, diperistri oleh lelaki buruh pasar yang dia kenal seputus sekolah. Lily yang masih bocah, harus mendayung biduk rumah tangga ditengah terjangan gelombang. Lily hanya bertahan selama dua tahun. Dia memilih kabur dari rumah, seketika mengetahui suaminya selingkuh. Beruntung, Lily tidak memiliki anak yang keluar dari rahimnya.

Atas ajakan kawan sekampungnya, Lily pindah ke Jakarta. Dia sempat mencicipi menjadi pelayan hotel, hingga kemudian terjun diwilayah abu-abu. Beralih profesi sebagai striper dan LC.

“Enak ya mas, jadi lelaki itu,”
“Maksudnya apa, mbak?”
“Ya enak saja. Bisa bekerja, banyak duit, lalu menghambur-hamburkannya,”
“Loh bukannya perempuan juga bisa kerja, banyak duit, foya-foya?”
“Perempuan punya banyak duit, tapi mikir kebutuhan mas. Beda ama laki-laki. Punya banyak duit ya buat pesta. Buat selingkuh!”

Saya terperanjat. Lelaki banyak duit buat selingkuh? Apa maksudnya?

***

Lily namanya. Perempuan berparas menarik dengan saputan bedak tipis di wajahnya. Banyak lelaki yang sudah memiliki istri datang padanya. Memintanya untuk menjadi simpanan. Bagi Lily, lelaki hidung belang adalah lumbung uang. Hanya dengan kerlingan mata, menjulurkan betis mulus miliknya, dan menonjolkan isi dada, mudah baginya untuk menjerat mata pria.

“Saya dendam dengan suami saya mas. Dia bisa menjerat perempuan, saya juga bisa melakukan hal yang sama sepertinya,”

Lily menghela nafas.

“Perempuan itu, mas, akan diam jika kamu memberinya banyak uang. Sebaliknya, lelaki itu akan selingkuh jika memiliki banyak uang,”

Saya diam.

.

Jakarta, Tengah Malam