cintaBahunya bergoyang, pipinya memerah, sesekali ada tawa ringan keluar dari wajah cantik perempuan berambut panjang itu. Didepannya, dokter kulit berkacamata minus merayunya hingga membuatnya merona dan tergelak.

Gadis itu Anita. Perempuan berkulit putih yang memiliki binar mata laksana cahaya mercusuar. Anita, seorang mantan jurnalis yang kemudian beralih profesi sebagai juru wicara lembaga swadaya asing.

“Besok, kontrol lagi ya,”
“Baik, dok,”

Anita berdiri, mengambil tas hitam lalu mengantungkannya di lengan. Rambutnya ia biarkan tergerai hingga leher jenjangnya tersembunyikan. Belum sempat membuka pintu keluar, dokter itu menarik gagang pintu dan menyilahkan Anita. Tak lupa melemparkan senyum untuknya.

Itu sepenggal kisah dua tahun silam. Awal jumpa pertama Anita dengan dokter muda yang baru lulus mengambil spesialis kulit dan kecantikan. Kisah yang membawanya pada debar asmara yang kemudian mempengaruhi perjalanan hidupnya.

Anita adalah seorang gadis idealis yang tak mudah jatuh cinta. Banyak lelaki yang terkapar dalam kerlingnya, tapi bukan untuk memiliki hati seorang Anita. Tapi dua tahun lalu, hanya dari perjumpaan singkat dengan dokter yang memeriksanya, hati Anita luluh lantak. Diserahkannya idealismenya untuk tak lagi mencintai lelaki, setelah sejarah mencatat, betapa hancur hati Anita ditinggal selingkuh pacarnya lima tahun silam.

“Aku pergoki pacarku masuk ke hotel dengan perempuan lain,” kata Anita saat kami duduk di kedai kopi di kawasan Erlangga Semarang, beberapa tahun lalu. “Sejak saat itu, tak lagi aku percayai semua lelaki,”
“Kenapa kau benci lelaki?”
“Karena lelaki egois. Mudah menyakiti,”

Saya cengengesan. Mendengar cerita Anita, tiba-tiba saya bangga jadi lelaki.

Kini dua tahun sudah, Anita resmi berpacaran dengan dokter spesialis kulit di bilangan Jakarta itu. Berdua mereka kerap menghabiskan waktu bersama. Memamerkan kebersamaan dan romantisme hubungan mereka.

Hingga dua pekan lalu, Anita menelepon saya. Ada kepedihan mendalam dalam nada suaranya. Dia meminta saya untuk bertemu dikedai kopi kawasan Kemang. Saya sanggupi.

Benar dugaan saya, tak berapa lama, ia mulai cerita. Konon, Anita memergoki dokter pujaan hatinya itu bercumbu dengan suster jaga di selembar matras tempat tidur pasien. Itu terjadi setelah sebulan tak pernah Anita beroleh kabar, setelah apa yang ia miliki ia berikan semua. Tangisnya meledak. Saya diam.

***

Dalam diam, tiba-tiba khayalan saya melayang. Menembus sanubari Anita melewati batas logika. Suatu ketika, Anita mengamit lengan dokter jaga itu sambil menggelendot manja. Suara sepatu stiletto-nya bergema di lorong klinik 24 jam yang hanya dijaga seorang dokter yang tak lain pacarnya. Sudah biasa ia mendatangi klinik tempat dokter itu jaga, hanya sekedar untuk beradu lidah di atas meja praktek, kali lain bersenggama di tempat tidur pasien.

Tapi, malam itu Anita membawa misi lain. Dikuncinya pintu ruang praktek. Lalu mendorong dokter itu ke tempat tidur pasien. Bercumbu mereka dengan liar. Sebuah ciuman dahsyat terakhir yang ia berikan. Lalu, dalam gelora yang masih membara, ia kenakan sarung tangan karet.

Lantas mengikat kedua tangan pasangannya dengan sabuk kulit di sela-sela tempat tidur pasien, lalu menyuntikkan cairan potassium chloride ke lengan dokter itu, tepat disaat menjelang puncak kenikmatan sebuah persetubuhan.

Ah.. ternyata khayalan saya terlalu berlebihan!!