menjadi jandaItu Jumat 3 Juli 2009 lalu, saat saya ikut roadshow ke lima kota di Jawa bersama rombongan dari Jakarta. Kami berkunjung ke Banten, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Jogja yang hanya ditempuh dalam waktu dua hari. Sungguh, itu perjalanan yang melelahkan. Singgah ke kota-kota itu hanya dua jam, acara, selesai, lalu terbang ke kota lainnya. Badan ini serasa pegal sekali. Butuh pijatan untuk memperlancar darah-darah yang berasa menggumpal.

Dalam dua hari itu, kami menginap di Semarang. Di hotel Grand Candi yang sebanarnya tak jauh dari rumah orang tua saya di daerah Banyumanik sana. Saya memilih menginap di hotel itu karena mau buat tulisan sekalian mau istirahat.

Itu sekitar pukul 7 malam, ketika handphone saya berdering-dering. Biasanya saya paling malas menganggat telepon jam-jam segitu. Saya lirik handphone, ternyata Maharani. Dia itu kawan nongkrong saya di Semarang. Saya biasa memanggilnya dengan Rani. Kebetulan sekali.

Saya angkat.

“Kamu masih sibuk? Dikantor ya?,” kata Rani
“Enggak. Aku lagi di Semarang nih. Di Grand Candi. Kenapa Ran?,”

Rani terperanjat. Itu saya bisa menebak dari nada suaranya. Dia diam beberapa saat, lalu sejurus kemudian, dia ingin mengajak ketemuan. Dia mau menjemput saya, katanya. Dengan segera saya sanggupi, kebetulan memang tak ada lagi acara.

“Emang kamar berapa?”
“811. Kau tunggu di lobby aja, nanti aku turun,” balas saya.
“Oke,”

Klik

Telepon ditutup. Saya lantas lekas mandi.

Selang empat puluh menit kemudian, pintu diketuk. Ada pula suara bel. Bergegas saya buka. Saya masih memakai celana jins dan bertelanjang dada. Pintu terbuka, Rani rupanya. Saya kaget.

“Sorry, tadi males nunggu di bawah. Jadi langsung naek,” dalih Rani. Rupanya Rani juga kaget.

Bergegas, saya meminta Rani masuk. Saya tak enak hati membiarkan perempuan berdiri di depan kamar hotel. Saya memintanya menunggu barang beberapa menit untuk menyelesaikan beberapa tulisan dan mengirimnya ke Jakarta. Rani memilih duduk di ranjang dan memilah channel televisi kabel.

Saya sempat mencium aroma wangi tubuh Rani. Hampir tiga tahun saya tak berjumpa dengannya. Sejak saya memutuskan keluar dari Semarang, sejak itu saya tak lagi bisa bertatap muka dengannya. Tapi sungguh, penampilannya tak banyak berubah. Rani masih terlihat muda meski sudah dikaruniai seorang buah hati. Maklumlah, usianya belum juga menginjak 28.

Malam itu, Rani datang memakai jaket merah dengan celana jins ketat. Aromanya membuat saya tak cukup memiliki konsentrasi. Sambil mengetik, saya mengajaknya bicara. Beberapa kali terdengar tawa terbahak dari mulutnya. Iya, itu tawa yang saya kenal. Tak berubah rupanya. Hingga kemudian saya menanyakan kabar keluarganya.

“Keluarga sehat, Ran?”
“Alhamdullilah sehat,” jawabnya singkat
“Suami?”

Tak ada jawaban. Sedetik dua detik, sunyi. Hanya suara televisi. Rani diam. Saya lirik, dia justru asik memencet-mencet remote televisi. Saya menoleh. Rani malah menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Saya mulai bertanya-tanya. Hmm.. ada yang tak beres rupanya.

“Kenapa, Ran?” tanya saya

Untuk menutupi rasa bersalah, saya pura-pura bego. Rani masih diam, dia menghela nafas panjang. Justru saya yang makin seperti orang bego beneran.

“Itu maksud aku ketemu, Bro. Aku mau cerita,”
“Hmm.. oke. Kenapa?”
“Aku ingin cerai,”

Dentam!! Seperti ada godam yang menghajar kepala saya. Pandangan saya yang sebelumnya menghadap netbook di meja, langsung berputar perhatian. Tak terbersit pun ada dalam pikiran saya kata-kata cerai keluar dari mulutnya. Selama lebih dari lima tahun silam, saya pikir Rani bahagia dengan kehidupan rumah tangga.

Rani memang menikah muda. Ia menikah saat kami masing-masing sedang kuliah tingkat akhir. Rani memang tidak satu kampus dengan saya. Dia hanya kawan yang kebetulan dekat karena kami satu lulusan di SMA. Sejak SMA, dia memang sudah menjalin hubungan dengan lelaki yang kelak menjadi suaminya. Seorang lelaki anak pemilik pengusaha biro perjalanan besar di Semarang. Pernikahan yang terjadi karena diwaktu yang bersamaan, Rani harus menjaga isi perut yang terlihat semakin membesar.

“Itu mungkin opsi terakhir yang aku pilih. Opsi yang mungkin juga tak berani aku lakoni,”

Rani mulai terisak. Saya mengerti betapa berat beban di hatinya. Saya serba salah. Saya hanya diam dan mencoba menghibur dengan mendengar ia bercerita. Saya sebenarnya paling benci melihat perempuan menangis dihadapan saya. Bukan karena apa, hanya karena tak tahan saja.

Rani sendiri tak tau bagaimana jika nanti suaminya mengabulkan permintaan cerainya. Cerai baginya hanya akan meniupkan aroma ngeri. Bukan pada materi, tapi nasib anak lelaki buah hatinya. Ia paham betul perceraian hanya akan menggoreskan luka psikologi anaknya. Ia tak ingin anaknya ikut menanggung dosa yang ditimbulkan oleh ego kedua orang tuanya.

Tak pula ia sanggup menghadapi cercaan orang tua, mendengar gosip tetangga, maupun menyandang status janda. Mungkin pada awalnya tidak masalah menyandang status baru. Bebas pulang malam, enak belanja, bepergian tanpa ada yang melarang. Tapi tetap saja miris hatinya jika kelak melihat seorang perempuan dan lelaki bergandengan mengendong anak.

Bagaimana pula ia harus menjawab anak lelakinya jika ditengah malam buta tiba-tiba ia mencari ayahnya. “Aku tak sanggup menjawabnya. Aku ngeri membayangkan jika tiba-tiba dia cari ayahnya. Adek kangen Ayah, Bunda? Kapan Ayah pulang?”

Rani masih terisak. Saya peluk Rani untuk menenangkan diri. Tapi isaknya justru makin kuat. Saya makin tak enak. Rani cerita, badai persoalan itu datang setahun lalu, ketika tak ada lagi kehangatan dalam rumah tangganya.

Kata Rani, suaminya sering kali pulang larut malam. Semula ia tak curiga, namun sebagai istri yang menampingi selama bertahun-tahun, Rani merasakan gelagat yang aneh. Dan benar dugaan, suaminya tengah menjalin hubungan dengan perempuan lain.

Kali pertama ketahuan, Rani marah besar. Terbakar hatinya. Rani mengancam meninggalkan suminya. Sayangnya, suami Rani melarang. Bahkan suaminya sempat meminta maaf dan menangis di pelukan Rani. Luluh hati Rani.

Sebulan kemudian, rumah tangganya kembali normal. Namun dasar lelaki, kejadian itu diulang kembali. Rani merasa kali ini suaminya tak lagi memiliki hati. Ancaman yang di lontarkan Rani untuk meninggalkannya dianggap angin lalu. Rani merasa kelak perceraian itu benar-benar terjadi.

“Bicara baik-baik, Ran,”
“Sudah sering. Kau pikir aku diam saja? Watak lelaki memang tak pernah bisa diam melihat perempuan,”

Saya diam. Saya tertohok. Saya juga lelaki.

Saya jadi ingat Lily, seorang perempuan yang tak sengaja saya kenal di sebuah restoran 24 jam di daerah Mangga Besar, Jakarta. Dia memiliki cerita mirip-mirip yang dialami Rani. Lily ini seorang Lady Companion (LC) sebuah karaoke di bilangan Mangga Besar. Kerjaannya menemani tamu.

Seringnya dia menemani tamu lelaki, membuat dia berkesimpulan jika lelaki banyak memiliki uang, kecenderungannya akan dibuat untuk senang-senang. Tentu, tak menutup kemungkinan dengan perempuan lain. Seperti yang dialami Lily, yang dialami Rani.

***

Malam itu, akhirnya kami memutuskan keluar kamar. Tak enak rasanya berlama-lama di dalam kamar dengan istri orang. Saya mengajak Rani ke kedai jagung bakar, dikawasan Simpang Lima. Disana, Rani semakin banyak bercerita. Tengah malam, kami memutuskan pulang. Saya bilang, saya mau tidur di rumah, tak mau kembali ke hotel. Rani mengangguk, kami lantas naik taksi. Saya menawarkan mengantar Rani sampai depan rumah, tapi Rani menolak, tak enak sama tetangga katanya, lagipula tengah malam sekarang.

Sebelum kami berpisah, saya sempat bilang

“Menjadi janda juga pilihan yang terhormat, Ran! Buat apa kau mencintai seseorang jika itu tak membuatmu bahagia?”

Saya lihat, Rani tersenyum. Kami akhirnya pulang, Di dalam taksi, saya masih terbayang Rani. Malam itu perasaan saya campur aduk, antara malu dan bangga jadi lelaki.

.
*Tulisan ini juga dapat anda nikmati di ngerumpi.com