tari Wajah Nila memerah, mungkin gerah. Satu dua bulir peluh menetes di keningnya. Tapi dia tersenyum, sambil mengibaskan selendang merah yang menjuntai kepanjangan di pinggangnya. Lalu, satu kakinya melangkah kedepan, kepalanya berpaling ke kiri, pelan, kemudian kembali tegak menghadap ke depan.

Itu Rabu, sekitar pukul setengah empat sore, Nila tak sendiri. Di teras depan Museum Ronggowarsito di bilangan Kalibanteng Semarang, masih ada belasan anak sebayanya. Perempuan semua.

Dari sudut teras berukuran 8×4 meter itu, gerakan mereka selaras dengan nada pentatonis gamelan yang keluar dari Sony Hi-Fi di sudut. Juga dengan teriakan gadis muda yang berdiri di depan.

“Satu, dua, maju, jengkeng… satu, dua, maju tangan singkep!”

Di bangku panjang depan teras itu, saya duduk bersama deretan ibu-ibu yang tengah asik mengobrol. Hawa dingin teras yang meruap ke atas, cukup ampuh mengusir sisa panas hari yang melelahkan ini.

“Daripada di rumah terus, Mas, di sini ‘kan dia jadi banyak teman,” tutur Bu Eko memberi alasan mendaftarkan putri bungsunya, Nila, yang masih berusia 9 tahun ke Sanggar Kesenian Lindu Panon.

“Nila itu berbakat lho, Mas. Lihat saja, baru masuk sini, langsung diajak pentas,”
“Pentas,”
“Iya, pentas. Minggu lalu kan ada pentas di Raden Saleh?” tukas Bu Eko. Saya manggut-manggut. Kurang riset rupanya.

Obrolan kami terhenti sejenak ketika tangis bayi yang digendong seorang ibu muda tidak jauh di depan saya tiba-tiba meledak. Kontan saya meliriknya. Ibu muda itu sigap membuka dua kancing atas bajunya, lalu mendekatkan kepala sang bayi ke puncak belahan dada kirinya. Secepat kilat saya kembali menatap bu Eko, yang entah kenapa, tersenyum jenaka.

“Terus terang saya khawatir, Mas. Anak-anak sekarang tingkahnya macem-macem. Penggennya ke Mall terus. Minta ini-lah, itu-lah. Kebanyakan nonton tivi kali, ya?”

***

Sanggar Lindu Panon berdiri pada 1988. Sejak awal berdiri Lindu Panon menggariskan cita-citanya pada kelestarian kesenian Jawa, khususnya tari dan karawitan. Nguri-nguri Budaya Jawa, istilahnya. Tapi kini, boleh dibilang hanya tari Jawa saja yang bertahan. Sementara kesenian karawitan, karena sepi peminat, tidak lagi seaktif dulu. Padahal, selama hampir 15 tahun lindu panon eksis, puluhan gelar juara sudah diraihnya. Dalam sepuluh tahun terakhir itu, 25 juara tingkat nasional kategori anak-anak disabet. Jumlah nasional untuk ukuran itu, sudah bisa dibilang hebat. Total Jenderal kira-kira 2-3 gelar juara bisa digapai dalam setahun. Selama sepuluh tahun terakhir itu pula empat puluh lima karya tari lahir dari sanggar Lindu Panon.

Sebagaimana umumnya sekolah tari, Lindu Panon membagi kelas berdasarkan tingkat usia, yakni pra-indria, indria, pra-madya, madya, pra-remaja dan remaja. Total anggotanya, mulai anaik-anak sampai remaja, sekitar 200-an orang.

Operasional sanggar sebagian besar bersal dari iuran anggota. 10ribu per bulannya. Sumbangan dari pemerintah memang ada. Tapi, jumlahnya sedikit. Paling-paling kalo ada momen tertentu. Dari sponsor, apalagi. Menurut Eny Haryanti, yang saat itu menjadi ketua harian sangar, meskipun tidak begitu mencukupi, iuran anggora ditambah donasi sana-sini masih dapat menutup operasional sanggar.

***

Minggu, pukul 11 kembali saya mendatangi museum Ronggowarsito. Suasana museum menjelang tengah hari ini begitu ingar. Beberapa pengunjung Museum yang terletak di Jalan Abdurahman Saleh ini melongok-longok melihat anak-anak yang menari. Seorang pelatih tari teriak-teriak memberi aba-aba, ibu-ibu ngerumpi di bangku panjang, beberapa pasang muda-mudi berbisik-bisik, semua dibalut alunan gamelan yang mendebur di salah satu sudut ruangan.

Duduk di pojok teras itu, saya ditemani Dwi Aprianti. Gadis ini satu dari enam pelatih di sanggar tari Lindu Panon. Dwi masih kuliah di Teknik Kimia Undip. Dwi cerita kalau dia belajar tari sejak kelas 5 SD.

Sejak ia ikut menjadi salah satu pelatih tari di Lindu Panon, ia merasakan ada grafik peningkatan. Salah satu indikasinya adalah makin banyaknya murid yang menjadi anggota sanggar. Tapi di sisi lain, hal itu menyebabkan ketatnya pembagian jadwal latihan. Dari yang tadinya tiga jam menjadi lima jam, tiap minggu pagi dan rabu sore.

“Mari, Mas. Itu bu Siti datang. Mari saya antar,” tukas Dwi, begitu melihat orang yang saya tunggu tiba.

Siti Salbiyah adalah koordinator pelatih tari di Sangar Lindu Panon. Sorot mata perempuan ini teduh. Parasnya keibuan.

“Sudah berpuluh tahun saya menari,”

Begitu ia menjawab pertanyaan awal saya. Tenang, tersenyum.

***

Kota semarang dalam beberapa bulan ini boleh saja dibilang sebagai kota konser, beragam pertunjukan live music yang menghadirkan artis-artis papan atas Indonesia, ramai-ramai menyambangi kota Loenpia ini. Di café, lapangan terbuka semuanya menyuguhkan hingar musik massif. Belum di kampus-kampus. Pentas tari tradisional? Alih-alih pertunjukan tari, gedung kesenian di Taman Budaya Raden Saleh seringkali dipakai untuk konser music daripada seni budaya.

Tapi memang, ketimbang aktifitas Lindu Panon, tentu saja konser-konser itu lebih populer. Liputan media, gelimang artis, daya tarik massa, gencarnya promosi dan tentu saja derasnya aliran fulus, adalah beberapa hal yang menyebabkan mengapa konser-konser itu nampak lebih mendominasi wacana di perbincangan kita sehari-hari. Berbeda dengan aktivitas tari seperti di Lindu Panon, konser musik massif, jauh lebih potensial menyedot massa.

Kecilnya perhatian pemerintah ini dirasakan betul oleh Eni Haryanti, ketua harian sanggar Lindu Panon. Keprihatinan senada diungkapkan Darmanto Jatman, budayawan kota Semarang. Darmanto menganggap hal tersebut sebagai konsekuensi yang harus dihadapi. Lebih jauh ia menambahkan bahwa sanggar-sanggar semacam Lindu Panon bukanlah pelarian dari desakan budaya massa.

Mengidentikkan eksistensi kesenian lokal di satu pihak dengan idealisme berkesenian di lain pihak justru cenderung akan menyesatkan, dan karenanya amat berpeluang terjerambab dalam bentuk-bentuk sinisme.

Disini, lanjut Darmanto, melihat gempuran budaya massa di satu pihak dengan kesenian tradisional di lain pihak hanyalah sekedar persoalan politik identitas.

“Nanti kalo sudah besar kan tidak lagi,” ujarnya datar

Agak berlainan dengan Darmanto, Gunawan Budi Susanto, seorang pekerja seni di Semarang, melihat sisi positif Lindu Panon dari aspek pendidikan. Keberadaan Lindu Panon dilihatnya sebagai wahana alternatif eksplorasi kreativitas, terutama terhadap kesenian.

Menurutnya, sistem pendidikan di Indonesia yang salah kaprah telah menyebabkan anak-anak cenderung bersikap masa bodoh terhadap kesenian. Gunawan lantas mencontohkan kegiatan Taman Kanak-Kanak. Tempat yang seharusnya berfungsi sebagai taman bermain, ternyata kini lebih cenderung diisi kegiatan menghapal, menghitung dan membaca. Pada akhirnya, arena bermain anak-anak hilang. Ini menyebabkan tidak terjadinya elaborasi kreativitas, sekaligus mengakibatkan terhentinya perkembangan bakat. Dengan kata lain, salah kaprah pendidikan tidak saja telah membunuh kreativitas, melainkan juga mematikan masa kanak-kanak.

***

Lewat tengah hari, teras sudah sepi. Tak ada lagi ingar. Setelah berpamitan dengan Siti Salbiyah, Dwi Apriyanti mengantar saya sampai depan. Berdua kami berjalan melintasi teras museum yang luas itu. Namun sebelum sampai luar, entah kenapa saya perlu berhenti sebentar. Teras ini dingin. Lantainya dari marmer lokal. Berjalan di atasnya tanpa alas kaki di tengah hari seperti ini membuat tubuh jadi nyaman. Cocok memang untuk tempat bermain anak-anak. Cocok juga untuk melamun.
Di beranda ini angin tak kedengaran lagi…
Dwi tersenyum. Mungkin dia tahu kalau bibirku bergerak sendiri, berbicara, meski dengan bunyi yang aku sendiri nyaris tak mendengarnya **

.
*Tulisan ini pernah dimuat di majalah Mahaprika Undip. Atas beberapa alasan, tulisan ini sengaja saya tulis ulang, dengan tambahan dan pengurangan kalimat disana-sini. Tak perlu minta ijin penulisnya, karena tulisan tersebut dibuat atas nama pemilik blog.