Honda Jazz warna biru metalik keluar dari pertokoan Sarinah, berbelok, lalu membelah Jalan Sudirman. Sisa hujan lebat sejak sore masih menyisakan genangan. Pantulan cahayanya mirip abstraksi gerak mengikuti laju putaran roda. Gerimis masih menyisakan bintik-bintik mengotori kaca hingga kemudian hilang disaput wiper yang bergerak pelan.

Perempuan dengan aroma floral, duduk di belakang setir sambil mengunyah Big Mac. Di sampingnya, tergeletak majalah wanita dewasa dan novel John Grisham. Kepalanya bergerak-gerak mengikuti The Cranberries mendendangkan Linger yang keluar dari DVD player.

Tengah malam sekarang. Jalan Sudirman memang tak pernah sepi dari lalu lalang kendaraan. Bias cahaya kendaraan selalu menghidupi Jakarta yang tak pernah mati, tak pernah sepi, meski dini hari.

Mobil berbelok ke kiri, menuju arah pejompongan. Masuk terowongan, lalu lurus melewati gerombolan anak-anak muda yang berdiri sepanjang jalan menonton adu balap motor, hingga waktu membawanya ke gerbang sebuah apartemen. Lampu sign berkedip, pelan-pelan berbelok dan berhenti di depan pos penjaga.

“Malam, mbak,”

Perempuan itu menurunkan kaca mobil. Tersenyum, menjulurkan tiket dan menempelkannya di kotak pemindai. Portal pintu warna orange terbuka secara otomatis. Lalu gas terinjak menggerakkan roda menuju basement.

***

Lampu kamar 506 Tower B, menyala seketika. Terang, menerangi seluruh isi ruang berisi sofa, televisi, Sony Hi Fi, foto gadis telanjang punggung berukuran besar di dinding dan aksesoris ruang lainnya. Perempuan itu melempar jaket di sofa, High Heels dibiarkan berserak, melepas kancing, memutar Me and Mrs Jones-Michael Buble, lalu menyalakan shower berpenghangat. 20 menit kemudian, keluar dengan handuk membalut kulit putihnya.

Ponselnya menyala. Berkedip. Di layar, tertulis Friska Amalia

“Hai Kat!”
“Kenapa Friska?”
“Baru dateng ya? Dari mana lo? Mobil masih basah tuh,”
“Haha… biasalah, Fris, besok deadline. So, malam ini harus lembur. Gimana?”
“Cuman mastiin aja, besok malam dateng kan?”
“Oke-oke. Makanya malam ini aku kelarin semua,”
“Sip. Pasific Place, 20.00 PM. Night Kat!”
“CU,”
Klik.

Kat, merebahkan diri di sofa, matanya terpejam. Michael Bubble sudah berganti menyanyi Home. Kat membuka mata, melirik high heels yang masih berserak di pintu apartemen. Dengan sedikit malas, ia beranjak, memungutnya, lalu masuk kamar tidur dan membiarkan senandung Michael Bubble mengantarnya lelap dalam tidur.

***

Di tower terpisah, masih dalam satu apartemen, Friska Amalia keluar dari mobil Ford escape warna hitam. Di samping tempat ia parkir, nampak mobil Kat masih basah oleh rintik hujan. Friska berjalan di lorong basement melewati satpam di depan lift yang membawanya ke lantai 10 tower A. Tangannya menenteng tas belanjaan berisi baju dan sepatu.

Di saat bersamaan, disudut kamar 504 tower B, perempuan muda terhuyung dipapah lelaki setengah baya. Berdua mereka berusaha membuka pintu kamar yang hanya dibatasi lampu dinding yang tertempel di sebelah pintu kamar Kat. Pintu terbuka, bergegas mereka masuk kamar.
Brakk… lalu sunyi..