Senja hampir lewat. Siluet keemasan pelan-pelan pudar dihantam awan hitam di ujung timur. Kabut berangsur-angsur turun menutupi sebagian ngarai dengan liku anak sungai di ujung terdalam.

Beberapa pasang remaja asik duduk sambil becanda. Rombongan lainnya berpose di pagar besi tepi taman Panorama Ngarai Sianouk, Bukittinggi. Meski senja hampir lewat, taman ini masih ramai. Satu pasang turis asing lewat tepat di depan saya duduk. Mereka melemparkan senyum, lantas mengangguk. Saya balas dengan senyuman.

Di bangku beton sudut taman, saya duduk bersama Muhammad Zamroni. Ia biasa disapa Zam, pemandu wisata yang membawa saya dan rombongan dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) melihat objek wisata Sumbar pasca gempa. Ia orang Medan, tapi sudah lama tinggal di Padang. Sudah berpuluh tahun ia menjadi pemandu wisata.

Sambil mengobrol, Zam membuka bungkusan warna hitam yang ia bawa. Pelan-pelan, ia membukanya. Tercium bau harum bika mariana. Makanan yang kami beli sepulang dari Danau Singkarak. Saya mengambil sepotong. Gurih.

Sembari mengunyah, mata saya lurus menatap ngarai yang mulai gelap. Jika saya datang lebih awal, mungkin siluet dan pemandangan bukit dari tempat saya duduk ini akan lebih indah. Cocok dipakai untuk melamun. Cocok pula dipakai untuk mengobrol. Tak mengherankan jika di tempat ini banyak pasangan muda berbisik-bisik di sudut taman.

“Sebelum gempa Padang,  taman ini dulunya banyak dikunjungi turis Singapura dan Malaysia. Tapi, kini sepi,” kata Zam mengagetkan lamunan saya

Zam teringat saat-saat sebelum gempa meluluh lantakkan Padang. Kala itu, hampir setiap hari ia menemani wisatawan asing. Turis Belanda, Singapura dan Malaysia merupakan pelanggan tetapnya. Turis-turis ini menyukai Sumbar karena keelokan alamnya.

“Setelah puas berjalan-jalan, biasanya mereka selalu ingin datang lagi ke Sumbar,” terangnya.

Zam menghela nafas. Saya menyimak. Sejak ramai berita yang mengabarkan gempa di Padang, turis asing yang hendak berkunjung ke Sumbar mendadak membatalkan kunjungannya. Apa boleh buat, Padang memang destinasi paling dekat jika hendak meneruskan perjalanan mengunjungi objek wisata di Sumbar. Hasilnya, periode Oktober, nyaris tidak ada jadwal tour pariwisata dari Eropa maupun asia.

“Mereka umumnya hanya mendengar Padang hancur. Padahal tidak sama sekali. Bandara masih kokoh berdiri,” tegas Zam

Zam benar, bandara dan akses jalan menuju objek wisata di Sumbar sama sekali tidak hancur. Jalanan masih mulus. Bahkan jalanan menuju Danau Maninjau yang berkelok-kelok pun tetap halus dan lancar. Nyaris tidak ada kerusakan berarti. Artinya, harus ada yang meluruskan informasi jika akses menuju Padang terhambat.

Zam terus bercerita. Sambil mendengar, saya menikmati bika mariana dan sesekali menatap Ngarai Sianouk. Bika Mariana ini jenis makanan khas Padang selain Keripik Balado yang ekstra pedas itu. Bika terbuat dari parutan kelapa dan gula. Bedanya, bika ini dipanggang di dalam periuk dengan api yang justru diletakkan sebagai penutupnya. Didalam periuk yang tertutup nyala api itu, adonan bika diberi alas daun pisang, yang membuat aroma bika makin sedap terpanggang. Tapi, bagaimanapun cara memasaknya, jika kelapa dan gula dipanggang, pasti akan berasa gurih dan sedap.

Di Taman Panorama Ngarai Sianouk, kawan-kawan saya mulai bergerak menuju Lobang Jepang. Lobang Jepang ini satu kawasan dengan objek wisata taman panorama. Letakknya berada di bawah tanah taman panorama. Lebih tepatnya, posisi kami duduk saat ini berada di atas Lobang Jepang. Zam beranjak. “Ayo!” ajak Zam.

Saya diam. Tercenung. Zam lantas duduk lagi. Nampaknya ia mengetahui kecemasan saya. Bagaimana tidak, mengunjungi objek wisata goa dalam keadaan usai gempa seperti ini benar-benar mengkhawatirkan. Saya jadi teringat saat masih di Jogja beberapa bulan pasca Gempa Jogja. Seorang peneliti dari Universitas Gajah Mada (UGM) berkali-kali mengingatkan agar wisatawan tidak dulu mengunjungi goa. Tanah yang masih labil, sangat berpotensi untuk runtuh dan menutup goa. Saya jadi semakin cemas. Zam tersenyum, sepertinya membaca gelagat kecemasan saya.

“Tak apa-apa. Konon Jepang mendesain lubang ini anti goncangan. Dari gempa sekalipun,” hibur Zam.

Sedikit ragu, akhirnya saya melangkahkan kaki menuju Lobang Jepang. Kawan-kawan saya dari Depbudpar sudah menunggu di depan pintu masuk. Zam tidak ikut. Dia malah duduk sambil tertawa-tawa di depan pintu masuk Lobang Jepang. Sial.

Di Lobang Jepang, kami dipandu oleh salah satu pemandu wisata disana. Saat kaki baru melangkah masuk, hawa dingin langsung meruap. Semakin ke dalam, semakin dingin dan gelap. Uniknya, masuk lorong disini tidak akan ada gaung, galibnya goa kebanyakan. Lobang Jepang juga didesain Jepang sangat kuat. Dengan panjang 1400 meter, tempat persembunyian yang dibangun pada 1942 ini dibagi menjadi lorong-lorong yang seram.

Bagaimana tidak seram, Lobang Jepang ini dibuat oleh tangan-tangan pekerja paksa Indonesia. Jumlahnya ratusan, mungkin ribuan. Bahkan konon, seluruh pekerja paksa tewas di bunuh Jepang di lorong ini. Jasadnya di potong-potong dalam ruangan khusus, sebelum kemudian dibuang melalui celah yang tersambung langsung ke ngarai. Saya jadi merinding. Sungguh mengerikan kisahnya.

Usai menelusuri lorong demi lorong Lobang Jepang, kami pun keluar. Di luar sudah gelap. Rintik hujan mulai membasahi Bukittinggi. Sambil berlari kecil, kami putuskan untuk masuk bus. Sebelum masuk, saya sempatkan untuk berdiri di belakang bus dan melongok Ngarai Sianouk. Ngarai sudah gelap, kabut telah menutupnya. Beberapa lampu taman mulai menyala. Pendarnya tak terang, tapi cukup ampuh untuk membawa angan-angan mengunjungi tempat ini kembali.