Maria duduk di bangku beton sebuah taman. Sore sudah mulai beranjak senja. Anaknya, Lio, yang masih berusia 3 tahun ia biarkan berlarian di sudut taman. Sore itu hanya ada Jay, Maria dan satu pasangan kekasih yang duduk sedikit menjauh dari mereka.

“Aku tau Jay. Aku tau perasaanmu. Demikian pula aku, aku merasakan hal yang sama dengan kamu,” ujar Maria

Maria, perempuan muda dengan kulit bak pualam, dengan binar mata yang indah memang selalu mempesona Jay. Maria telah meluluh lantakkan perasaan Jay sejak pertama kali mengenalnya. Maria, meski sudah memiliki seorang anak lelaki, tak menyurutkan cinta Jay, meski hubungan mereka terpisahkan oleh jarak dan status.

“Kamu tau Jay, emotional affair itu jauh lebih bahaya dan menyiksa daripada physical contact. Aku ingin menghindari semua ini, Jay,”
“Aku tau, Maria. Tapi aku tak akan pernah bisa untuk melupakanmu. Bahkan menyimpannya dalam laci hati paling dalam sekalipun,”

Keduanya diam. Lalu mata mereka bersirobok dalam pantulan senja yang keemasan. Jay menatap dalam mata Maria. Maria tersenyum. Dalam bilik hati terdalam, Maria juga merasakan hal yang sama seperti Jay. Tak pernah ia bisa melupakan lelaki yang pernah membuatnya benar-benar merasakan jatuh cinta. Tapi semuanya sudah berubah.

Di kejauhan, Lio berlarian di bawah pohon kenari. Memelorotkan celana lalu terdengar seperti air gemericik membasahi rindang pohon kenari. Mereka menoleh. Sontak, terbahak.

“Itu Ayahnya yang mengajari Lio kencing di bawah pohon,”

.
*Terimakasih untuk Ike dan Lio*