Sudah sebulan ini, Gedung Kesenian Jakarta menggelar pentas budaya Jakarta Anniversary Festival VIII. Saya, nyaris tak pernah absen datang ke GKJ, sekedar untuk menonton festival budaya yang jarang ada ini.

Saya memang suka dengan gelaran budaya semacam ini. Ditengah hiburan dan gemerlap musik techno yang menggila, GKJ tetap setia menyuguhkan pentas budaya. Gempuran musik-musik barat, nampaknya hanya menggerus dinding terluar GKJ. Sementara, di dalam gedung warisan dari Belanda ini, musik-musik tradisional, tari, hingga teater hidup dengan dunianya, meski kadang nafas mereka kembang kempis karena kerja keras mereka tak banyak diapresiasi oleh penonton di Ibukota.

Gelaran terakhir Jakarta Aniversary Festival, kemarin menghadirkan EKI Dance Company lewat produksi mereka Jakarta Love Riot. Ini adalah hiburan segar sekaligus pagelaran paling sukses, karena selama tiga hari penuh, tiket sold out.

Jakarta Love Riot adalah sebuah kisah tentang cinta, citra, dan arti sebuah pertemanan dalam potret kehidupan kota metropolitan.

Mengusung konsep drama komedi musical, Eksotika Karmawibhangga Indonesia (EKI) Dance Company mencoba menawarkan sebuah teater kontemporer yang lucu, satir sekaligus menyelipkan banyak pesan moral.

Dengan mengkombinasikan antara cerita-cerita yang lucu, akting menawan dari pemainnya dan musik yang indah, Jakarta Love Riot: Cinta Campur Citra Cuma Cari Cekcok menjadikan produksi EKI Dance Company kali ini sukses luar biasa

Jakarta Love Riot sendiri bercerita tentang sepasang anak muda yang saling jatuh cinta. Namun, karena keduanya memiliki status sosial yang berbeda, membuat cinta mereka jadi sumber masalah.

Adalah Genk Rempong, gerombolan remaja Jakarta masa kini dengan dandanan modis, gaul dan serba hedon. Merekalah potret kehidupan remaja meteropolitan yang sering kali mengikuti tren yang berkembang.

Nala adalah salah satu anggota dari mereka. Nala, anak seorang desainer terkenal yang kaya raya. Namun, kehidupan Nala bagaikan hidup dalam sebuah aquarium. Ia dibatasi oleh keindahan-keindahan dan tata krama untuk bergaul dengan dunia luar.

Hingga kemudian, Nala bertemu dengan Toto. Pemuda sepantaran yang ganteng, namun bermasalah dengan kehidupan sosialnya. Toto hanyalah anak seorang penjual soto di emperan Manggarai. Dialah Toto yang nyaris tak pernah mengikuti tren remaja masa kini.

Pertemuan sepasang kekasih dalam status sosial yang berbeda inilah yang kemudian memantik konflik, menimbulkan kecurigaan, kepanikan, dan kekisruhan di keluarga dan komunitas masing-masing. Dalam kasus ini, mereka memiliki berbagai alasan untuk tidak merestui hubungan keduanya. (more…)

Advertisements