Saya tengah tertegun di bawah patung kepala Patih Gajahmada yang gagah tertempel di dinding Galeri Nasional. Saya menatap tajam ke arahnya. Entah kenapa, patung kepala gajah mada yang ditempel dalam pameran Keris For The World 2010 itu membuat batin saya bergelora. Ada semacam percik api yang membakar adrenalin saya hingga ada semacam semangat yang berkobar di dalamnya. Itu masih patung. Coba jika patih kerajaan Majapahit itu berdiri gagah dengan rambut digelung berteriak diantara pasukan kerajaan. Sungguh saya tak bisa membayangkan.

Malam itu, di Galeri Nasional sedang ada pameran Keris For The World 2010. Ini adalah pameran keris terbesar yang pernah saya lihat. Ada ratusan keris tergeletak rapi dengan ragam bentuk.

Diantara ratusan keris yang dipamerkan, terdapat keris bernama Kanjeng Kyai Yudhoyono, Kyai Kanjeng Budiono dan Kyai Kanjeng Obama Panandito. Keris ini koleksi seorang budayawan, pelukis sekaligus kolektor keris H Hardi.

Lalu ada juga Keris luk 9 milik Soegeng Prasetyo. Bentuk keris ini berlekuk sembilan, sehingga dinamakan luk 9, dapur panimbal, dengan pamor yang bergelar Pedaringan kebak. Keris ini buatan jaman mataram-ki supe anom. Dengan warangka ladrang cendana wangi, jejeran Yudaningratan, selut berlian dan pendok blewahan perak.

Istilah dalam Keris memang beragam. Warangka, dalam keris berarti sarung atau tempat bagian terluar dari keris. Warangka pun terbagi menjadi dua dilihat dari bentuknya, yakni jenis warangka ladrang yang terdiri dari bagian-bagian : angkup, lata, janggut, gandek, godong (berbentuk seperti daun), gandar, serta cangkring. Dan jenis lainnya adalah jenis warangka gayaman (gandon) yang bagian-bagiannya hampir sama dengan warangka ladrang tetapi tidak terdapat angkup, godong, dan gandek.

Pamor sendiri berarti hiasan, atau bentuk yang terdapat pada badan keris, yang timbul karena teknik penempaan keris oleh mpu pembuatnya. Pamor dalam setiap keris tidak pernah sama. Itulah yang menyebabkan kenapa keris memiliki nilai seni yang tinggi. Karena dari ribuan keris, hampir semuanya memiliki bentuk dan gelar yang berbeda. Sedangkan dapur atau wilahan adalah bagian utama dari keris. Sama seperti pamor, bentuk dapur juga sangat beragam yang umumnya menjadi daya tarik utama dari keris-keris ini.

Keris, bagi bangsa Indonesia adalah sebuah warisan budaya yang tak ternilai. Dia lah benda yang berubah menjadi sebuah “harta karun” tak ternilai, karena nilai historis dan kekayaan seninya yang bernilai tinggi.

Jauh sebelum UNESCO memberi pengakuan kepada keris sebagai warisan budaya dunia tak benda bersama batik dan wayang, Keris telah menjadi kebanggan bangsa ini sejak abad ke 9. Dari zaman kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Mataram hingga kasultanan Yogyakarta dan Solo, Keris telah menjadi sebuah benda yang mampu membuat pemiliknya berwibawa.

Kini, keris memang berubah fungsi sebagai sebuah hiasan, tak lagi ada embel-embel spiritual dan pengkultusan layaknya benda keramat yang disematkan kepadanya. Meski demikian, bagi penggemarnya, Keris tetap menjadi sebuah kebanggan dan merbawani untuk di koleksi dan disimpan dalam rumah.

Berdasarkan tahun pembuatannya, keris memang mengalami pergeseran periodesasi. saat ini keris digolongkan menjadi dua, yakni eris Sepuh dan Kamardikan. Keris sepuh, sesuai dengan namanya yang diambil dalam bahasa Jawa, berarti tua. Keris sepuh ini, digolongkan pada tahun pembuatannya yang konon dibuat pada masa kerajaan-kerajaan di Indonesia. Sedangkan keris Kamardikan, merupakan keris yang dibuat pada zaman sekarang.

Dan di pameran yang dibuka oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik ini, percaya atau tidak, keris sepuh, banyak dipamerkan. Ini menjadi pertanda bahwa keris jaman kerajaan di Indonesia, masih banyak beredar. Menjadi sebuah harta karun yang tak ternilai harganya.

“Ini adalah sebuah harta karun yang tak ternilai,” kata Inisiator pameran Keris for the world 2010, H. Hardi.

Pelukis dan budayawan ini mengatakan keris memiliki kekayaan seni yang sangat tinggi. Keris, untuk saat ini tak lagi sebagai sebuah senjata untuk melukai, melainkan sebuah seni. Keris sekarang hanya menjadi benda untuk dikoleksi dan hiasan yang dipakai dalam baju adat.

“Saya berani menjamin tidak ada keris dalam pameran ini yang pernah dipakai untuk melukai apalagi membunuh. Saya juga tidak lagi percaya ada sebuah sugesti yang dikeramatkan,” tegas Hardi

Ketua panitia Keris for the world, Toni Junus mengatakan, selama ini memang ada pergeseran periodesasi keris. Keris kamardikan umumnya dibuat oleh mpu pembuat keris pada masa abad ke 19. Pada jaman ini, keris kamardikan seolah berjalan menapak tilas teknologi mpu masa lalu dengan “social message” yang menjanjikan suatu kemerdekaan. Keris-keris ini, mulai kembali menata tradisinya, dan membuat pemahaman kultural terhadap nilai keluhurannya.

“Keris kamardikan akan tampil berbobot luar dalam, dengan meterial yang unggul, dan penggarapan melalui teknik yang lebih maju,” ujar Toni.

Saya yang memang suka dengan berbagai seni budaya asli Indonesia, sungguh sangat bangga dengan warisan budaya ini. Bayangkan saja, bentuk dari senjata khas Indonesia ini sangat cantik. Konon, selain sebagai senjata, dulu Keris banyak dipakai orang hanya untuk pamor dari pemiliknya. Dan semoga, warisan budaya bangsa kita ini, tetap terjaga. Tak peduli klaim dari bangsa lain.