Sudah lama kiranya, saya tidak menulis atau minimal mengisi blog ini. Seperti posting terakhir, energy untuk menulis itu meredup. Menulis membutuhkan “energy”. Tapi kabar baiknya, rindu itu kini menyala lagi. Semangat untuk kembali mengisi lembaran-lembaran postingan kembali saya dapatkan meski kobarnya masih tak seberapa.

Baiklah. untuk kali ini, saya mau membawa anda untuk menikmati sebuah pertunjukkan teater yang dimainkan Stage Corner Community. Judulnya keren, “Techno Ken Dedes”. Saat pertama kali saya mendengar judulnya, saya terhenyak. pasti ada sesuatu yang baru dalam pertunjukkan Techno Ken Dedes. Dan benar saja, kali ini, Ken Dedes memperlihatkan wajahnya yang lain. Ia lahir dalam tiga generasi yang berbeda kultur. Pentas Techno Ken Dedes memperlihatkan sisi-sisi persoalan wanita. Mulai dari feminism hingga harga diri perempuan.

Pentas Teatrikal Techno Ken Dedes yang dimainkan Stage Corner Community di Gedung Kesenian Jakarta 18-19 Oktober lalu, barangkali sengaja dihadirkan untuk memperlihatkan bagaimana benturan-benturan antara masa lalu dan masa kini. Perjalanan waktu yang terus bergulir dengan rentetan perubahan-perubahan telah mempertemukan Ken Dedes masa kini (techno) dengan Ken Dedes masa lalu (purba). Benturan sosial, feminisme dan harga diri menjadi persoalan yang campur aduk.

Pentas dibuka dengan suara music etnik berbaur dengan instrument techno. Lalu satu persatu para dedes muncul bergantian. Diawali Dedes Rahim. Ia muncul dari balik batu. Berjalan sembari menari diatas cobek yang disusun. Dialah Dedes Rahim. Dedes yang melahirkan para dedes. Dia lah rahim purba techno. Tempat segala terlahir dan tertimbun. Takdir telah menggariskan jejak bagi sang rahim, jejak kaki Ken Dedes. Dialah silsilah yang tak punah hingga telanjangnya zaman

Lalu, muncul Ken Dedes Techno (YG Threnov) dari dalam bathtub. Melepaskan jubah hitam yang membalutnya. Dari tubuhnya tampak gambar menyerupai mesin. Lalu dia melangkah perlahan keluar dari bathtub. Sementara, berdiri diatas batu, Ken Dedes Purba (Sintya Syakaraw) diam menatapnya. Wajahnya menunjukan raut penuh kekhawatiran. Sambil terus menari, Ken Dedes Techno buka suara.

“Aku ingin senggama lagi. Agar aku dapat lebih mengenal jejakku. Aku ingin senggama. Akan aku lahirkan tubuh-tubuh sepertiku, Aku ingin telanjang,”
“Jaga lidahmu” tutur Dedes Purba. Matanya mendelik.
“Wahai Dedes, Wahai peradaban, menarilah bersamaku,”
“Kau hilang akal. Tubuh barumu harus diruwat, Dedes,” hardik, Dedes Purba kesal

Dalam pentas ini, para dedes, tampil dengan karakter masing-masing. Dedes Purba mewakili peradaban masa lalu tempat ia terbelenggu dengan aturan dan tata karma Dari tampilan saja tabrakan itu sudah terlihat. Ken Dedes Purba menggambarkan sosok perempuan masa lalu dengan balutan kain kemban. Sementara Dedes Techno lebih memperlihatkan gambaran kekinian. Dialah lakon dari peradaban masa kini yang feminim, yang serba bebas, serba hedon. Tempat dimana tak ada lagi aturan-aturan yang membatasi pergaulan seorang perempuan di jaman yang serba terbuka dan modern. Dia menampilkan jejaknya sendiri mengikuti zaman. Narasinya penuh dengan kekecewaan.

“Akulah Dedes yang terlahir kembali. Dedes yang tersenyum. Darah keperawananku membawaku pada singgasana paramesywari,” tegas Dedes Techno

Sedangkan kemunculan Dedes Rahim, lebih kepada sebagai penengah. Penengah diantara benturan-benturan yang dimunuculkan antara masa lalu dan masa kini. Antara Dedes Purba dan Dedes Techno.

“Aku Rahimmu. Rahim yang kau lupakan. Putarlah wajah pada cahaya bulan, biarkan ingatanmu memimpinmu. Kau tubuh Purba cahaya. Lempeng baja juga mesin-mesin,menempatkan diriku hanya pada sebuah kenangan. Kenangan yang berubah ilusi. Ilusi masa lalu dan masa depan,” ujar Dedes Rahim, suatu ketika.

Cerita “Techno Ken Dedes” yang terpilih sebagai peraih Hibah Seni Kelola 2011 itu memang lebih banyak menyoal tentang feminisme. Benturan-benturan dilakukan, lalu ditengahi dengan kemunculan Dedes Rahim. Dalam bahasa sang sutradara, Dadang Badoet, itulah kunci untuk “pulang kembali” sesuai khitahnya.

Lewat pementasan ini, Dadang memang berusaha mengeksporasi dan mereinterpretasi tokoh perempuan dengan kehormatan dan harga dirinya yang tinggi dengan perwatakan karakter yang kuat. Semuanya itu disampaikannya lewat kemunculan narasi yang kental metaforanya.

Dadang Badoet juga sengaja memunculkan sosok Ken Dedes karena dianggap cukup mewakili persoalan yang ingin diangkat karena kisah kehidupannya yang intrik. Munculnya tiga Dedes dalam karakter yang berbeda, menjadikan pementasan ini lebih kaya akan persoalan.

Tak lupa, pentas ini juga sengaja menghadirkan Ken Arok. Namun, Arok dalam pementasan ini, tak lebih hanya tempelan belaka. Arok dihadirkan sebagai rangsangan cerita, yang kadang, justru melemahkan narasi yang sudah terbangun kuat. Atau barangkali ia muncul hanya sebagai tempelan agar penonton tak terlalu serius. Toh banyak banyolan sejak munculnya Arok.

Stage Corner Community dalam produksinya yang kelima juga sengaja mengkolaborasikan susunan properti panggung yang mendukung perwatakan karakter. Property cobek dari batu di atas panggung yang menjadi tempat berpijak Ken Dedes Purba. Oleh Dadang dilambangkan sebagai jejak-jejak purba yang masih ada. Sedangkan bathtub disimbolkan sebagai sesuatu yang bersih dan rapi dari peradaban kini. Karena itulah Ken Dedes Techno muncul dari bathtub. Secara garis besar, pentas ini sangat menarik dengan narasi dan isu yang kuat. (*)