features


Sudah lama kiranya, saya tidak menulis atau minimal mengisi blog ini. Seperti posting terakhir, energy untuk menulis itu meredup. Menulis membutuhkan “energy”. Tapi kabar baiknya, rindu itu kini menyala lagi. Semangat untuk kembali mengisi lembaran-lembaran postingan kembali saya dapatkan meski kobarnya masih tak seberapa.

Baiklah. untuk kali ini, saya mau membawa anda untuk menikmati sebuah pertunjukkan teater yang dimainkan Stage Corner Community. Judulnya keren, “Techno Ken Dedes”. Saat pertama kali saya mendengar judulnya, saya terhenyak. pasti ada sesuatu yang baru dalam pertunjukkan Techno Ken Dedes. Dan benar saja, kali ini, Ken Dedes memperlihatkan wajahnya yang lain. Ia lahir dalam tiga generasi yang berbeda kultur. Pentas Techno Ken Dedes memperlihatkan sisi-sisi persoalan wanita. Mulai dari feminism hingga harga diri perempuan.

Pentas Teatrikal Techno Ken Dedes yang dimainkan Stage Corner Community di Gedung Kesenian Jakarta 18-19 Oktober lalu, barangkali sengaja dihadirkan untuk memperlihatkan bagaimana benturan-benturan antara masa lalu dan masa kini. Perjalanan waktu yang terus bergulir dengan rentetan perubahan-perubahan telah mempertemukan Ken Dedes masa kini (techno) dengan Ken Dedes masa lalu (purba). Benturan sosial, feminisme dan harga diri menjadi persoalan yang campur aduk.

Pentas dibuka dengan suara music etnik berbaur dengan instrument techno. Lalu satu persatu para dedes muncul bergantian. Diawali Dedes Rahim. Ia muncul dari balik batu. Berjalan sembari menari diatas cobek yang disusun. Dialah Dedes Rahim. Dedes yang melahirkan para dedes. Dia lah rahim purba techno. Tempat segala terlahir dan tertimbun. Takdir telah menggariskan jejak bagi sang rahim, jejak kaki Ken Dedes. Dialah silsilah yang tak punah hingga telanjangnya zaman

Lalu, muncul Ken Dedes Techno (YG Threnov) dari dalam bathtub. Melepaskan jubah hitam yang membalutnya. Dari tubuhnya tampak gambar menyerupai mesin. Lalu dia melangkah perlahan keluar dari bathtub. Sementara, berdiri diatas batu, Ken Dedes Purba (Sintya Syakaraw) diam menatapnya. Wajahnya menunjukan raut penuh kekhawatiran. Sambil terus menari, Ken Dedes Techno buka suara.

“Aku ingin senggama lagi. Agar aku dapat lebih mengenal jejakku. Aku ingin senggama. Akan aku lahirkan tubuh-tubuh sepertiku, Aku ingin telanjang,”
“Jaga lidahmu” tutur Dedes Purba. Matanya mendelik.
“Wahai Dedes, Wahai peradaban, menarilah bersamaku,”
“Kau hilang akal. Tubuh barumu harus diruwat, Dedes,” hardik, Dedes Purba kesal

Dalam pentas ini, para dedes, tampil dengan karakter masing-masing. Dedes Purba mewakili peradaban masa lalu tempat ia terbelenggu dengan aturan dan tata karma Dari tampilan saja tabrakan itu sudah terlihat. Ken Dedes Purba menggambarkan sosok perempuan masa lalu dengan balutan kain kemban. Sementara Dedes Techno lebih memperlihatkan gambaran kekinian. Dialah lakon dari peradaban masa kini yang feminim, yang serba bebas, serba hedon. Tempat dimana tak ada lagi aturan-aturan yang membatasi pergaulan seorang perempuan di jaman yang serba terbuka dan modern. Dia menampilkan jejaknya sendiri mengikuti zaman. Narasinya penuh dengan kekecewaan.

“Akulah Dedes yang terlahir kembali. Dedes yang tersenyum. Darah keperawananku membawaku pada singgasana paramesywari,” tegas Dedes Techno

Sedangkan kemunculan Dedes Rahim, lebih kepada sebagai penengah. Penengah diantara benturan-benturan yang dimunuculkan antara masa lalu dan masa kini. Antara Dedes Purba dan Dedes Techno.

“Aku Rahimmu. Rahim yang kau lupakan. Putarlah wajah pada cahaya bulan, biarkan ingatanmu memimpinmu. Kau tubuh Purba cahaya. Lempeng baja juga mesin-mesin,menempatkan diriku hanya pada sebuah kenangan. Kenangan yang berubah ilusi. Ilusi masa lalu dan masa depan,” ujar Dedes Rahim, suatu ketika.

Cerita “Techno Ken Dedes” yang terpilih sebagai peraih Hibah Seni Kelola 2011 itu memang lebih banyak menyoal tentang feminisme. Benturan-benturan dilakukan, lalu ditengahi dengan kemunculan Dedes Rahim. Dalam bahasa sang sutradara, Dadang Badoet, itulah kunci untuk “pulang kembali” sesuai khitahnya.

Lewat pementasan ini, Dadang memang berusaha mengeksporasi dan mereinterpretasi tokoh perempuan dengan kehormatan dan harga dirinya yang tinggi dengan perwatakan karakter yang kuat. Semuanya itu disampaikannya lewat kemunculan narasi yang kental metaforanya.

Dadang Badoet juga sengaja memunculkan sosok Ken Dedes karena dianggap cukup mewakili persoalan yang ingin diangkat karena kisah kehidupannya yang intrik. Munculnya tiga Dedes dalam karakter yang berbeda, menjadikan pementasan ini lebih kaya akan persoalan.

Tak lupa, pentas ini juga sengaja menghadirkan Ken Arok. Namun, Arok dalam pementasan ini, tak lebih hanya tempelan belaka. Arok dihadirkan sebagai rangsangan cerita, yang kadang, justru melemahkan narasi yang sudah terbangun kuat. Atau barangkali ia muncul hanya sebagai tempelan agar penonton tak terlalu serius. Toh banyak banyolan sejak munculnya Arok.

Stage Corner Community dalam produksinya yang kelima juga sengaja mengkolaborasikan susunan properti panggung yang mendukung perwatakan karakter. Property cobek dari batu di atas panggung yang menjadi tempat berpijak Ken Dedes Purba. Oleh Dadang dilambangkan sebagai jejak-jejak purba yang masih ada. Sedangkan bathtub disimbolkan sebagai sesuatu yang bersih dan rapi dari peradaban kini. Karena itulah Ken Dedes Techno muncul dari bathtub. Secara garis besar, pentas ini sangat menarik dengan narasi dan isu yang kuat. (*)

Advertisements

Suka Balet? Atau setidaknya anda pernah menonton pertunjukkan balet di panggung kesenian besar? Jika tidak suka atau belum pernah sekalipun menonton, sebaiknya anda segera menonton. Apalagi, jika koreografinya dari Farida Oetoyo.

Farida Oetoyo ini, kalau orang seni bilang, dia lah salah satu maestro balet Indonesia. Dia dengan ide-idenya, telah mencipta puluhan bahkan ratusan koreografi balet yang penuh dengan keindahan, kelincahan dan kelenturan tubuh pemainnya. Balet ditangan Farida Oetoyo menjadi sebuah karya seni yang sungguh indah untuk dinikmati. Tentu, tanpa perlu anda memahami tetek bengek istilah dalah dunia balet.

Seperti dalam pembukaan festival Schouwburg IX di Gedung Kesenian Jakarta, beberapa pekan lalu. Dua karya Farida, Survival dan Serdtse di pentaskan ulang, yang tentunya tetap mengundang decak kagum penonton.

Saya berkesempatan untuk menontonnya. Malam itu, panggung Gedung Kesenian Jakarta dihiasai cahaya warna merah menyala. Ditengahnya, penari dengan topeng warna putih bergulat bersama kain warna merah menyala yang membelit tubuh mereka. Pelan mereka bergerak seiring dengan music yang banyak diwarnai detail piano, bass dan gesekan biola.

Pelan, mereka mencoba lepas dari lilitan kain tersebut. Alih-alih lpeas, mereka justru terjebak. Masuk menyelip dalam belitan kain panjang warna merah menyala. Bergerak, menyumbat lalu diam tak bergerak. Tak berapa lama, para penari ini terlepas, muncul dengan wajah barunya. Kali ini tanpa mengenakan topeng.

“Ini adalah sebuah pertunjukkan yang memang inspirasinya dari dalam diri saya sendiri. Ini merupakan pengalaman yang saya lakoni,” kata Farida Oetoyo

Inspirasi yang dimaksud Farida Oetoyo adalah pertunjukkan Serdtse atau The Heart yang malam tersebut disajikan dengan diringi kemasan music live oleh anaknya Aksan Sjuman. Serdtse atau The Heart, merupakan jenis tari Ballet dengan unsure kontemporer yang sangat kental. Farida yang lebih banyak menganut aliran ballet klasik, menyelipkan jenis tarian kontemporer yang indah dan sangat artistic di karyanya kali ini.

“Tidak semuanya kontemporer. Karena unsur balletnya juga sangat kental. Karena memang akar saya di ballet, jadi saya tidak bisa meninggalkan ballet dalam semua karya-karya saya ini,” tegas Farida Oetoyo.

Serdtse sendiri menceritakan tentang seorang danseur atau ballerino (sebutan untuk penari balet laki-laki) yang menjalani hari-harinya. Ada denyut kehidupan, ketenangan, aneka persoalan hingga sebuah kematian. Dialah sosok yang terbelit kain merah, hingga di akhir episodenya harus mati.

Dalam koreografi kali ini, Farida mengibaratkan kain warna merah tersebut adalah pembuluh darah yang mengalir ke dalam jantung. Dan dalam perjalanan hidupnya, ayah Farida Oetoyo, R Oetoyo Ramelan meninggal karena penyakit jantung yang diderita.

“Gadis yang berjalan keluar di tengah-tengah laki-laki yang terkapar di tengah tad, adalah gambaran bahwa inilah masa depan ballet. Ada generasi balet baru yang lahir,” tandas Farida.

Serdtse sendiri merupakan karya terbaik yang pernah dipentaskan oleh Farida Oetoyo. Sebelumnya, Serdtse pernah juga dipentaskan pada September 2006 di GEdung Kesenian Jakarta. Untuk pentas kedua ini, Farida Oetoyo menambah beberapa detail koreografi dan tekanan pada music, hingga tersaji pertunjukkan yang lebih hidup, penuh gairah dan lebih manusiawi.

Dalam festival Schouwburg IX—schouwburg adalah nama gedung kesenian Jakarta pada masa lalu—kali ini Serdtse merupakan tari pembuka kedua dalam festival kali ini. Di tempat dan hari yang sama, Farida Oetoyo menampilkan terlebih dahulu tari ballet klasik Survival.

Dalam tari Survival ini, Farida Oetoyo yang memang memiliki akar ballet klasik, menyelipkan sedikit sentuhan neo klasik di dalamnya. Gerakan-gerakan indah ballet klasik disajikan tanpa cerita, hanya komponen koreo tari ballet yang indah, gembira lewat Survival.

“Dalam karya Survival ini memang tidak ada jalan cerita atau maksud tertentu. Saya ingin membiarkan penonton menikmati gerak tari tanpa harus repot-repot memikirkan jalan cerita. Nikmati saja gerakan dan musikalitasnya,” tegas Farida

Dan memang, dalam Survival ini, Farida lebih banyak menonjolkan keindahan gerakan dari penari-penari balet semata. Gerakan ballet klasik dipentaskan dengan keindahan, keanggunan lewat penari-penarinya.

Dengan musikalitas dari composer Sergei Prokofiev, Farida hendak menampilkan eksistensi balet dalam Survival. (*)

Saya tengah tertegun di bawah patung kepala Patih Gajahmada yang gagah tertempel di dinding Galeri Nasional. Saya menatap tajam ke arahnya. Entah kenapa, patung kepala gajah mada yang ditempel dalam pameran Keris For The World 2010 itu membuat batin saya bergelora. Ada semacam percik api yang membakar adrenalin saya hingga ada semacam semangat yang berkobar di dalamnya. Itu masih patung. Coba jika patih kerajaan Majapahit itu berdiri gagah dengan rambut digelung berteriak diantara pasukan kerajaan. Sungguh saya tak bisa membayangkan.

Malam itu, di Galeri Nasional sedang ada pameran Keris For The World 2010. Ini adalah pameran keris terbesar yang pernah saya lihat. Ada ratusan keris tergeletak rapi dengan ragam bentuk.

Diantara ratusan keris yang dipamerkan, terdapat keris bernama Kanjeng Kyai Yudhoyono, Kyai Kanjeng Budiono dan Kyai Kanjeng Obama Panandito. Keris ini koleksi seorang budayawan, pelukis sekaligus kolektor keris H Hardi.

Lalu ada juga Keris luk 9 milik Soegeng Prasetyo. Bentuk keris ini berlekuk sembilan, sehingga dinamakan luk 9, dapur panimbal, dengan pamor yang bergelar Pedaringan kebak. Keris ini buatan jaman mataram-ki supe anom. Dengan warangka ladrang cendana wangi, jejeran Yudaningratan, selut berlian dan pendok blewahan perak.

Istilah dalam Keris memang beragam. Warangka, dalam keris berarti sarung atau tempat bagian terluar dari keris. Warangka pun terbagi menjadi dua dilihat dari bentuknya, yakni jenis warangka ladrang yang terdiri dari bagian-bagian : angkup, lata, janggut, gandek, godong (berbentuk seperti daun), gandar, serta cangkring. Dan jenis lainnya adalah jenis warangka gayaman (gandon) yang bagian-bagiannya hampir sama dengan warangka ladrang tetapi tidak terdapat angkup, godong, dan gandek.

Pamor sendiri berarti hiasan, atau bentuk yang terdapat pada badan keris, yang timbul karena teknik penempaan keris oleh mpu pembuatnya. Pamor dalam setiap keris tidak pernah sama. Itulah yang menyebabkan kenapa keris memiliki nilai seni yang tinggi. Karena dari ribuan keris, hampir semuanya memiliki bentuk dan gelar yang berbeda. Sedangkan dapur atau wilahan adalah bagian utama dari keris. Sama seperti pamor, bentuk dapur juga sangat beragam yang umumnya menjadi daya tarik utama dari keris-keris ini.

Keris, bagi bangsa Indonesia adalah sebuah warisan budaya yang tak ternilai. Dia lah benda yang berubah menjadi sebuah “harta karun” tak ternilai, karena nilai historis dan kekayaan seninya yang bernilai tinggi.

Jauh sebelum UNESCO memberi pengakuan kepada keris sebagai warisan budaya dunia tak benda bersama batik dan wayang, Keris telah menjadi kebanggan bangsa ini sejak abad ke 9. Dari zaman kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Mataram hingga kasultanan Yogyakarta dan Solo, Keris telah menjadi sebuah benda yang mampu membuat pemiliknya berwibawa.

Kini, keris memang berubah fungsi sebagai sebuah hiasan, tak lagi ada embel-embel spiritual dan pengkultusan layaknya benda keramat yang disematkan kepadanya. Meski demikian, bagi penggemarnya, Keris tetap menjadi sebuah kebanggan dan merbawani untuk di koleksi dan disimpan dalam rumah.

Berdasarkan tahun pembuatannya, keris memang mengalami pergeseran periodesasi. saat ini keris digolongkan menjadi dua, yakni eris Sepuh dan Kamardikan. Keris sepuh, sesuai dengan namanya yang diambil dalam bahasa Jawa, berarti tua. Keris sepuh ini, digolongkan pada tahun pembuatannya yang konon dibuat pada masa kerajaan-kerajaan di Indonesia. Sedangkan keris Kamardikan, merupakan keris yang dibuat pada zaman sekarang.

Dan di pameran yang dibuka oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik ini, percaya atau tidak, keris sepuh, banyak dipamerkan. Ini menjadi pertanda bahwa keris jaman kerajaan di Indonesia, masih banyak beredar. Menjadi sebuah harta karun yang tak ternilai harganya.

“Ini adalah sebuah harta karun yang tak ternilai,” kata Inisiator pameran Keris for the world 2010, H. Hardi.

Pelukis dan budayawan ini mengatakan keris memiliki kekayaan seni yang sangat tinggi. Keris, untuk saat ini tak lagi sebagai sebuah senjata untuk melukai, melainkan sebuah seni. Keris sekarang hanya menjadi benda untuk dikoleksi dan hiasan yang dipakai dalam baju adat.

“Saya berani menjamin tidak ada keris dalam pameran ini yang pernah dipakai untuk melukai apalagi membunuh. Saya juga tidak lagi percaya ada sebuah sugesti yang dikeramatkan,” tegas Hardi

Ketua panitia Keris for the world, Toni Junus mengatakan, selama ini memang ada pergeseran periodesasi keris. Keris kamardikan umumnya dibuat oleh mpu pembuat keris pada masa abad ke 19. Pada jaman ini, keris kamardikan seolah berjalan menapak tilas teknologi mpu masa lalu dengan “social message” yang menjanjikan suatu kemerdekaan. Keris-keris ini, mulai kembali menata tradisinya, dan membuat pemahaman kultural terhadap nilai keluhurannya.

“Keris kamardikan akan tampil berbobot luar dalam, dengan meterial yang unggul, dan penggarapan melalui teknik yang lebih maju,” ujar Toni.

Saya yang memang suka dengan berbagai seni budaya asli Indonesia, sungguh sangat bangga dengan warisan budaya ini. Bayangkan saja, bentuk dari senjata khas Indonesia ini sangat cantik. Konon, selain sebagai senjata, dulu Keris banyak dipakai orang hanya untuk pamor dari pemiliknya. Dan semoga, warisan budaya bangsa kita ini, tetap terjaga. Tak peduli klaim dari bangsa lain.

Siapa tak kenal panganan Kerak Telor? Bagi anda yang tinggal di Jakarta, Kerak Telor tentu tak lagi asing. Makanan ini menjadi sebuah santapan tradisi bagi warga Betawi.

Kerak telor merupakan makanan asli Jakarta. Biasanya, dijual pakai gerobak pikul dengan tungku bara yang mengepul untuk memasaknya. Kerak Telor menjadi santapan yang enak manakala campuran antara beras ketan putih, telur ayam/bebek, ebi (udang kering yang diasinkan) disangrai kering diatas tungku dengan wajan yang terbalik. Lalu ada bawang merah goreng, diracik dengan bumbu yang dihaluskan berupa kelapa sangrai, cabai merah, kencur, jahe, merica butiran, garam dan gula pasir hingga menjadikan makanan tradisional ini memiliki rasa gurih, yang menjadi cita rasa khas Indonesia.

Ya, Indonesia memang memiliki ragam masakan yang beraneka rupa. Puluhan bahkan ratusan masakan asli Indonesia tersebar dari penjuru tanah air dengan aneka rasa sesuai khas penghuninya. Masakan khas Indonesia, tentu menjadi kekayaan milik Indonesia yang tak pernah habis.

Hampir di setiap daerah, memiliki kekhasan dalam makanan. Bahkan soal rasa, seringkali disesuaikan dengan kebiasaan serta indra perasa masing-masing. Jika di Jakarta, ada kerak telor, ketoprak, soto betawi hingga Nasi Uduk yang gurih, tentu berbeda dengan Yogyakarta. Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masakan-masakan yang bercita rasa asin seperti di Jakarta, kurang diminati.

Di DIY dan Jawa Tengah, masakan bercitarasa manis jadi adonan yang mengasikkan untuk disantap. Tentu anda tak asing dengan masakan Gudeg. Masakan khas Yogyakarta dan Jawa Tengah ini memiliki citarasa yang manis.

Gudeg terbuat dari nangka muda yang dimasak dengan santan. Untuk membuat adonan yang enak dan empuk, perlu waktu berjam-jam untuk membuat masakan ini. Warna coklat biasanya dihasilkan oleh daun jati yang dimasak bersamaan, dengan campuran bumbu-bumbu lainnya. Gudeg dimakan dengan nasi dan disajikan dengan kuah santan kental (areh), ayam kampung, telur, tahu dan sambal goreng krecek

Telor ayam kampung sendiri, direbus dengan campuran kecap dan gula merah hingga membuat, cita rasa telor dalam campuran Gudeg pun jadi teramat manis. Di daerah Yogyakarta, Solo atau Jawa Tengah, Gudeg sendiri disajikan dalam tiga adonan yang berbeda. Yakni gudeg kering, dimana makanan ini disajikan dengan areh kental, jauh lebih kental daripada santan pada masakan padang. Lalu ada gudeg basah, yaitu gudeg yang disajikan dengan areh encer. Dan Gudeg Solo, yaitu gudeg yang arehnya berwarna putih. Semuanya memiliki cita rasa yang berbeda.

Itu baru Gudeg, belum makanan dari daerah lainnya di Indonesia, seperti Rawon, Tengkleng, soto lamongan, Rendang, Sate Madura, Ayam Betutu khas Bali, Ayam Taliwang, Coto Makassar, colo-colo khas Maluku, hingga Mi Aceh. Semuanya memiliki keragaman rasa yang berbeda.

Namun, seolah sudah menjadi makanan keseharian yang sering dinikmati, terkadang hadirnya masakan tradisional ini malah di tinggalkan. Bahkan untuk mencari masakan khas daerah, butuh tempat tersendiri. (terkecuali masakan padang yang memang sudah menjamur dimana-mana)

Bahkan di mall-mall yang tersebar di seluruh daerah, justru hegemoni masakan cepat saji menjadi penguasa tunggal bisnis makanan di Indonesia. Mulai dari crepes, donat, burger hingga ayam goreng tepung.

Bisnis waralaba Kentucky Fried Chicken (KFC) misalnya, hadirnya di Indonesia sudah seperti gurita. Masuk di Indonesia pada tahun 1979, gerai yang dulu dikembangkan oleh Kolonel Sanders ini hingga kini sudah memiliki gerai lebih dari 368 yang tersebar di seluruh penjuru tanah air.

Motivator Tung Desem Waringin bahkan dalam beberapa kesempatan mengatakan kunci keberhasilan KFC bukan sekadar infrastruktur, akan tetapi sumber daya manusia di dalamnya yang memberikan pelayanan. Ketatnya persaingan pada bisnis waralaba di Indonesia, membutuhkan inovasi tidak saja kepada produk, tetapi juga strategi pemasaran.

Tentu saja, susah untuk menyandingkan antara masakan tradisional Indonesia dengan masakan cepat saji seperti KFC, atau bisnis Crepes yang menjamur. Bahkan soalan ini tak hanya bicara soal makanan semata, tapi juga persoalan bisnis.

Konsumen Indonesia saat ini, khususnya di Ibukota, memang cenderung menyukai makanan-makanan cepat saji yang disajikan di mall-mall. Inovasi yang terus berkembang dengan menu-menu yang terus berubah, menjadikan masyarakat ingin terus mencoba dan membeli. Hasilnya, masakan cepat saji jadi idola masyarakat saat ini.

Lagipula selama ini juga tak ada franchise Kerak Telor yang didagangkan di both-both makanan di mall. Padahal, di kota besar makan tak lagi menjadi kewajiban untuk mengisi perut saja, tetapi juga rekreasi. Bayangkan, betapa nikmatnya jika bisa menikmati kerak telor sembari menyeruput kopi di tengah lalu lalang orang yang tengah berbelanja dompet merk Versace, Gucci atau memilah-milah underwear Triumph dan Sorella.

Medio 1960-an, masyarakat pernah dimanjakan oleh sepak terjang pendekar sakti mandraguna. Mengenakan topeng buruk rupa dan pakaian seadanya. Dialah Panji Tengkorak. Pendekar bertopeng yang membabi buta dalam memberantas kejahatan.

Tahun-tahun itu, hingga pertengahan tahun 1980-an, siapa tak kenal Hans Jaladara. Dialah ayah kandung Panji tengkorak. Tokoh yang melahirkan sang pendekar hingga besar dan menjadi fenomena kala itu. Panji Tengkorak memang hanya tokoh yang ada di komik. Tapi, kala itu, sepak terjangnya mengalahkan tontonan apapun. Banyak orang mengira dia tokoh yang ada. Memang ada. Tapi hanya hidup dalam kertas gambar.

Tahun-tahun itu, memang masa keemasan komikus klasik Indonesia. Komik-komik silat sedang meledak. Sebut saja komikus macam Djair, Hans Jaladara, Jan Mintaraga, Teguh Santosa, Ganesh TH, Gerdi WK. Mereka semua adalah pendekar komik Indonesia.

Panji Tengkorak merupakan salah satu komik laris setelah Ganesh TH melahirkan si Buta Dari Goa Hantu. Hans Jalandara menciptakan Panji Tengkorak bukan mengikuti jejak Si Buta, meski sama-sama pendekar pemberantas kejahatan, Panji Tengkorak memiliki tampang jelek, dan berkostum compang-camping. Panji Tengkorak terdiri dari 5 jilid. Komik ini merupakan karya masterpiece Hans, selain Walet Merah, Si Rase Terbang.

Selain Hans, penggemar komik pasti tau Ganesh TH. Dialah “pendekar” yang pertama kali mempopulerkan kisah kepahlawanan seorang pendekar dalam saputan gambar yang indah. Dialah komikus yang pertama kali melahirkan Si Buta dari Goa Hantu. Ganesh cekatan menciptakan tokoh pendekar buta yang hanya ditemani seekor monyet di pundaknya. Pendekar buta yang selalu menggembara ini nyaris tak terkalahkan, semua musuh-musuhnya dihabisi, meski ia buta.

Coretan Ganesh dalam komik si Buta dari Goa Hantu juga teramat dahsyat. Ibaratnya, pembaca komik disuguhi cerita bergambar yang seolah-olah hidup. Berkelabat dengan tongkat, layaknya seorang balerina. Pembaca juga disuguhi pemandangan alam yang tergambar dengan indah, dengan blocking gambar yang terarsir rapi.

Pada masanya, komik ini sangat laris luar biasa. Dilahirkan pada 1967 lewat terbitan UP Soka Jakarta, si Buta dari Goa Hantu langsung membabat dunia persilatan komik di tanah air.

Komik yang digambar indah oleh Ganesh, mengisahkan tentang Barda Mandrawata, seorang pemuda tani di sebuah desa pelosok Banten, tengah menanti hari pernikahannya dengan Marni Dewianti saat seorang buta yang sakti tapi telengas, Si Mata Malaekat, mampir di desanya dan berbuat onar.

Ia membunuh Ganda Lelajang, ayahanda Marni, karena soal sepele. Barda dan kawan-kawannya dari Perguruan Elang Putih mencoba menuntut balas. Paksi Sakti Indrawata, ayahanda Barda sekaligus ketua perguruan, menantang duel Si Mata Malaekat. Namun, ia tewas.

Barda yang merasa kalah jago dari si pembunuh pergi meninggalkan desanya dan menyepi di sebuah gua untuk memperdalam ilmu silat. Ia ingin membalas dendam. Berkaca pada musuhnya, ia berupaya mempelajari ilmu membedakan suara yang tak tergantung pada mata. Lalu dengan golok, ia menggores sepasang matanya. Mulai saat itulah Bard menjadi buta. Dengan mengandalkan insting, Barda menjelma menjadi si Buta dari Goa Hantu. Dengan baju kulit, tongkat dan seekor monyet yang menggelendot di bahunya, SI Buta dari Goa Hantu berpetualang ke penjuru nusantara. Memberantas kejahatan dengan ilmu yang ia tempa di gua. (more…)

Senja hampir lewat. Siluet keemasan pelan-pelan pudar dihantam awan hitam di ujung timur. Kabut berangsur-angsur turun menutupi sebagian ngarai dengan liku anak sungai di ujung terdalam.

Beberapa pasang remaja asik duduk sambil becanda. Rombongan lainnya berpose di pagar besi tepi taman Panorama Ngarai Sianouk, Bukittinggi. Meski senja hampir lewat, taman ini masih ramai. Satu pasang turis asing lewat tepat di depan saya duduk. Mereka melemparkan senyum, lantas mengangguk. Saya balas dengan senyuman.

Di bangku beton sudut taman, saya duduk bersama Muhammad Zamroni. Ia biasa disapa Zam, pemandu wisata yang membawa saya dan rombongan dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) melihat objek wisata Sumbar pasca gempa. Ia orang Medan, tapi sudah lama tinggal di Padang. Sudah berpuluh tahun ia menjadi pemandu wisata.

Sambil mengobrol, Zam membuka bungkusan warna hitam yang ia bawa. Pelan-pelan, ia membukanya. Tercium bau harum bika mariana. Makanan yang kami beli sepulang dari Danau Singkarak. Saya mengambil sepotong. Gurih.

Sembari mengunyah, mata saya lurus menatap ngarai yang mulai gelap. Jika saya datang lebih awal, mungkin siluet dan pemandangan bukit dari tempat saya duduk ini akan lebih indah. Cocok dipakai untuk melamun. Cocok pula dipakai untuk mengobrol. Tak mengherankan jika di tempat ini banyak pasangan muda berbisik-bisik di sudut taman.

“Sebelum gempa Padang,  taman ini dulunya banyak dikunjungi turis Singapura dan Malaysia. Tapi, kini sepi,” kata Zam mengagetkan lamunan saya

Zam teringat saat-saat sebelum gempa meluluh lantakkan Padang. Kala itu, hampir setiap hari ia menemani wisatawan asing. Turis Belanda, Singapura dan Malaysia merupakan pelanggan tetapnya. Turis-turis ini menyukai Sumbar karena keelokan alamnya.

“Setelah puas berjalan-jalan, biasanya mereka selalu ingin datang lagi ke Sumbar,” terangnya.

Zam menghela nafas. Saya menyimak. Sejak ramai berita yang mengabarkan gempa di Padang, turis asing yang hendak berkunjung ke Sumbar mendadak membatalkan kunjungannya. Apa boleh buat, Padang memang destinasi paling dekat jika hendak meneruskan perjalanan mengunjungi objek wisata di Sumbar. Hasilnya, periode Oktober, nyaris tidak ada jadwal tour pariwisata dari Eropa maupun asia.

“Mereka umumnya hanya mendengar Padang hancur. Padahal tidak sama sekali. Bandara masih kokoh berdiri,” tegas Zam

Zam benar, bandara dan akses jalan menuju objek wisata di Sumbar sama sekali tidak hancur. Jalanan masih mulus. Bahkan jalanan menuju Danau Maninjau yang berkelok-kelok pun tetap halus dan lancar. Nyaris tidak ada kerusakan berarti. Artinya, harus ada yang meluruskan informasi jika akses menuju Padang terhambat.

Zam terus bercerita. Sambil mendengar, saya menikmati bika mariana dan sesekali menatap Ngarai Sianouk. Bika Mariana ini jenis makanan khas Padang selain Keripik Balado yang ekstra pedas itu. Bika terbuat dari parutan kelapa dan gula. Bedanya, bika ini dipanggang di dalam periuk dengan api yang justru diletakkan sebagai penutupnya. Didalam periuk yang tertutup nyala api itu, adonan bika diberi alas daun pisang, yang membuat aroma bika makin sedap terpanggang. Tapi, bagaimanapun cara memasaknya, jika kelapa dan gula dipanggang, pasti akan berasa gurih dan sedap.

Di Taman Panorama Ngarai Sianouk, kawan-kawan saya mulai bergerak menuju Lobang Jepang. Lobang Jepang ini satu kawasan dengan objek wisata taman panorama. Letakknya berada di bawah tanah taman panorama. Lebih tepatnya, posisi kami duduk saat ini berada di atas Lobang Jepang. Zam beranjak. “Ayo!” ajak Zam.

Saya diam. Tercenung. Zam lantas duduk lagi. Nampaknya ia mengetahui kecemasan saya. Bagaimana tidak, mengunjungi objek wisata goa dalam keadaan usai gempa seperti ini benar-benar mengkhawatirkan. Saya jadi teringat saat masih di Jogja beberapa bulan pasca Gempa Jogja. Seorang peneliti dari Universitas Gajah Mada (UGM) berkali-kali mengingatkan agar wisatawan tidak dulu mengunjungi goa. Tanah yang masih labil, sangat berpotensi untuk runtuh dan menutup goa. Saya jadi semakin cemas. Zam tersenyum, sepertinya membaca gelagat kecemasan saya.

“Tak apa-apa. Konon Jepang mendesain lubang ini anti goncangan. Dari gempa sekalipun,” hibur Zam.

Sedikit ragu, akhirnya saya melangkahkan kaki menuju Lobang Jepang. Kawan-kawan saya dari Depbudpar sudah menunggu di depan pintu masuk. Zam tidak ikut. Dia malah duduk sambil tertawa-tawa di depan pintu masuk Lobang Jepang. Sial.

Di Lobang Jepang, kami dipandu oleh salah satu pemandu wisata disana. Saat kaki baru melangkah masuk, hawa dingin langsung meruap. Semakin ke dalam, semakin dingin dan gelap. Uniknya, masuk lorong disini tidak akan ada gaung, galibnya goa kebanyakan. Lobang Jepang juga didesain Jepang sangat kuat. Dengan panjang 1400 meter, tempat persembunyian yang dibangun pada 1942 ini dibagi menjadi lorong-lorong yang seram.

Bagaimana tidak seram, Lobang Jepang ini dibuat oleh tangan-tangan pekerja paksa Indonesia. Jumlahnya ratusan, mungkin ribuan. Bahkan konon, seluruh pekerja paksa tewas di bunuh Jepang di lorong ini. Jasadnya di potong-potong dalam ruangan khusus, sebelum kemudian dibuang melalui celah yang tersambung langsung ke ngarai. Saya jadi merinding. Sungguh mengerikan kisahnya.

Usai menelusuri lorong demi lorong Lobang Jepang, kami pun keluar. Di luar sudah gelap. Rintik hujan mulai membasahi Bukittinggi. Sambil berlari kecil, kami putuskan untuk masuk bus. Sebelum masuk, saya sempatkan untuk berdiri di belakang bus dan melongok Ngarai Sianouk. Ngarai sudah gelap, kabut telah menutupnya. Beberapa lampu taman mulai menyala. Pendarnya tak terang, tapi cukup ampuh untuk membawa angan-angan mengunjungi tempat ini kembali.

tari Wajah Nila memerah, mungkin gerah. Satu dua bulir peluh menetes di keningnya. Tapi dia tersenyum, sambil mengibaskan selendang merah yang menjuntai kepanjangan di pinggangnya. Lalu, satu kakinya melangkah kedepan, kepalanya berpaling ke kiri, pelan, kemudian kembali tegak menghadap ke depan.

Itu Rabu, sekitar pukul setengah empat sore, Nila tak sendiri. Di teras depan Museum Ronggowarsito di bilangan Kalibanteng Semarang, masih ada belasan anak sebayanya. Perempuan semua.

Dari sudut teras berukuran 8×4 meter itu, gerakan mereka selaras dengan nada pentatonis gamelan yang keluar dari Sony Hi-Fi di sudut. Juga dengan teriakan gadis muda yang berdiri di depan.

“Satu, dua, maju, jengkeng… satu, dua, maju tangan singkep!”

Di bangku panjang depan teras itu, saya duduk bersama deretan ibu-ibu yang tengah asik mengobrol. Hawa dingin teras yang meruap ke atas, cukup ampuh mengusir sisa panas hari yang melelahkan ini.

“Daripada di rumah terus, Mas, di sini ‘kan dia jadi banyak teman,” tutur Bu Eko memberi alasan mendaftarkan putri bungsunya, Nila, yang masih berusia 9 tahun ke Sanggar Kesenian Lindu Panon.

“Nila itu berbakat lho, Mas. Lihat saja, baru masuk sini, langsung diajak pentas,”
“Pentas,”
“Iya, pentas. Minggu lalu kan ada pentas di Raden Saleh?” tukas Bu Eko. Saya manggut-manggut. Kurang riset rupanya.

Obrolan kami terhenti sejenak ketika tangis bayi yang digendong seorang ibu muda tidak jauh di depan saya tiba-tiba meledak. Kontan saya meliriknya. Ibu muda itu sigap membuka dua kancing atas bajunya, lalu mendekatkan kepala sang bayi ke puncak belahan dada kirinya. Secepat kilat saya kembali menatap bu Eko, yang entah kenapa, tersenyum jenaka.

“Terus terang saya khawatir, Mas. Anak-anak sekarang tingkahnya macem-macem. Penggennya ke Mall terus. Minta ini-lah, itu-lah. Kebanyakan nonton tivi kali, ya?” (more…)

Next Page »