imaji


Maria duduk di bangku beton sebuah taman. Sore sudah mulai beranjak senja. Anaknya, Lio, yang masih berusia 3 tahun ia biarkan berlarian di sudut taman. Sore itu hanya ada Jay, Maria dan satu pasangan kekasih yang duduk sedikit menjauh dari mereka.

“Aku tau Jay. Aku tau perasaanmu. Demikian pula aku, aku merasakan hal yang sama dengan kamu,” ujar Maria

Maria, perempuan muda dengan kulit bak pualam, dengan binar mata yang indah memang selalu mempesona Jay. Maria telah meluluh lantakkan perasaan Jay sejak pertama kali mengenalnya. Maria, meski sudah memiliki seorang anak lelaki, tak menyurutkan cinta Jay, meski hubungan mereka terpisahkan oleh jarak dan status.

“Kamu tau Jay, emotional affair itu jauh lebih bahaya dan menyiksa daripada physical contact. Aku ingin menghindari semua ini, Jay,”
“Aku tau, Maria. Tapi aku tak akan pernah bisa untuk melupakanmu. Bahkan menyimpannya dalam laci hati paling dalam sekalipun,”

Keduanya diam. Lalu mata mereka bersirobok dalam pantulan senja yang keemasan. Jay menatap dalam mata Maria. Maria tersenyum. Dalam bilik hati terdalam, Maria juga merasakan hal yang sama seperti Jay. Tak pernah ia bisa melupakan lelaki yang pernah membuatnya benar-benar merasakan jatuh cinta. Tapi semuanya sudah berubah.

Di kejauhan, Lio berlarian di bawah pohon kenari. Memelorotkan celana lalu terdengar seperti air gemericik membasahi rindang pohon kenari. Mereka menoleh. Sontak, terbahak.

“Itu Ayahnya yang mengajari Lio kencing di bawah pohon,”

.
*Terimakasih untuk Ike dan Lio*

Advertisements

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Honda Jazz warna biru metalik keluar dari pertokoan Sarinah, berbelok, lalu membelah Jalan Sudirman. Sisa hujan lebat sejak sore masih menyisakan genangan. Pantulan cahayanya mirip abstraksi gerak mengikuti laju putaran roda. Gerimis masih menyisakan bintik-bintik mengotori kaca hingga kemudian hilang disaput wiper yang bergerak pelan.

Perempuan dengan aroma floral, duduk di belakang setir sambil mengunyah Big Mac. Di sampingnya, tergeletak majalah wanita dewasa dan novel John Grisham. Kepalanya bergerak-gerak mengikuti The Cranberries mendendangkan Linger yang keluar dari DVD player.

Tengah malam sekarang. Jalan Sudirman memang tak pernah sepi dari lalu lalang kendaraan. Bias cahaya kendaraan selalu menghidupi Jakarta yang tak pernah mati, tak pernah sepi, meski dini hari.

Mobil berbelok ke kiri, menuju arah pejompongan. Masuk terowongan, lalu lurus melewati gerombolan anak-anak muda yang berdiri sepanjang jalan menonton adu balap motor, hingga waktu membawanya ke gerbang sebuah apartemen. Lampu sign berkedip, pelan-pelan berbelok dan berhenti di depan pos penjaga.

“Malam, mbak,”

Perempuan itu menurunkan kaca mobil. Tersenyum, menjulurkan tiket dan menempelkannya di kotak pemindai. Portal pintu warna orange terbuka secara otomatis. Lalu gas terinjak menggerakkan roda menuju basement.

***

Lampu kamar 506 Tower B, menyala seketika. Terang, menerangi seluruh isi ruang berisi sofa, televisi, Sony Hi Fi, foto gadis telanjang punggung berukuran besar di dinding dan aksesoris ruang lainnya. Perempuan itu melempar jaket di sofa, High Heels dibiarkan berserak, melepas kancing, memutar Me and Mrs Jones-Michael Buble, lalu menyalakan shower berpenghangat. 20 menit kemudian, keluar dengan handuk membalut kulit putihnya.

Ponselnya menyala. Berkedip. Di layar, tertulis Friska Amalia

“Hai Kat!”
“Kenapa Friska?”
“Baru dateng ya? Dari mana lo? Mobil masih basah tuh,”
“Haha… biasalah, Fris, besok deadline. So, malam ini harus lembur. Gimana?”
“Cuman mastiin aja, besok malam dateng kan?”
“Oke-oke. Makanya malam ini aku kelarin semua,”
“Sip. Pasific Place, 20.00 PM. Night Kat!”
“CU,”
Klik.

Kat, merebahkan diri di sofa, matanya terpejam. Michael Bubble sudah berganti menyanyi Home. Kat membuka mata, melirik high heels yang masih berserak di pintu apartemen. Dengan sedikit malas, ia beranjak, memungutnya, lalu masuk kamar tidur dan membiarkan senandung Michael Bubble mengantarnya lelap dalam tidur.

***

Di tower terpisah, masih dalam satu apartemen, Friska Amalia keluar dari mobil Ford escape warna hitam. Di samping tempat ia parkir, nampak mobil Kat masih basah oleh rintik hujan. Friska berjalan di lorong basement melewati satpam di depan lift yang membawanya ke lantai 10 tower A. Tangannya menenteng tas belanjaan berisi baju dan sepatu.

Di saat bersamaan, disudut kamar 504 tower B, perempuan muda terhuyung dipapah lelaki setengah baya. Berdua mereka berusaha membuka pintu kamar yang hanya dibatasi lampu dinding yang tertempel di sebelah pintu kamar Kat. Pintu terbuka, bergegas mereka masuk kamar.
Brakk… lalu sunyi..

cintaBahunya bergoyang, pipinya memerah, sesekali ada tawa ringan keluar dari wajah cantik perempuan berambut panjang itu. Didepannya, dokter kulit berkacamata minus merayunya hingga membuatnya merona dan tergelak.

Gadis itu Anita. Perempuan berkulit putih yang memiliki binar mata laksana cahaya mercusuar. Anita, seorang mantan jurnalis yang kemudian beralih profesi sebagai juru wicara lembaga swadaya asing.

“Besok, kontrol lagi ya,”
“Baik, dok,”

Anita berdiri, mengambil tas hitam lalu mengantungkannya di lengan. Rambutnya ia biarkan tergerai hingga leher jenjangnya tersembunyikan. Belum sempat membuka pintu keluar, dokter itu menarik gagang pintu dan menyilahkan Anita. Tak lupa melemparkan senyum untuknya.

Itu sepenggal kisah dua tahun silam. Awal jumpa pertama Anita dengan dokter muda yang baru lulus mengambil spesialis kulit dan kecantikan. Kisah yang membawanya pada debar asmara yang kemudian mempengaruhi perjalanan hidupnya.

Anita adalah seorang gadis idealis yang tak mudah jatuh cinta. Banyak lelaki yang terkapar dalam kerlingnya, tapi bukan untuk memiliki hati seorang Anita. Tapi dua tahun lalu, hanya dari perjumpaan singkat dengan dokter yang memeriksanya, hati Anita luluh lantak. Diserahkannya idealismenya untuk tak lagi mencintai lelaki, setelah sejarah mencatat, betapa hancur hati Anita ditinggal selingkuh pacarnya lima tahun silam.

“Aku pergoki pacarku masuk ke hotel dengan perempuan lain,” kata Anita saat kami duduk di kedai kopi di kawasan Erlangga Semarang, beberapa tahun lalu. “Sejak saat itu, tak lagi aku percayai semua lelaki,”
“Kenapa kau benci lelaki?”
“Karena lelaki egois. Mudah menyakiti,”

Saya cengengesan. Mendengar cerita Anita, tiba-tiba saya bangga jadi lelaki.

Kini dua tahun sudah, Anita resmi berpacaran dengan dokter spesialis kulit di bilangan Jakarta itu. Berdua mereka kerap menghabiskan waktu bersama. Memamerkan kebersamaan dan romantisme hubungan mereka.

Hingga dua pekan lalu, Anita menelepon saya. Ada kepedihan mendalam dalam nada suaranya. Dia meminta saya untuk bertemu dikedai kopi kawasan Kemang. Saya sanggupi.

Benar dugaan saya, tak berapa lama, ia mulai cerita. Konon, Anita memergoki dokter pujaan hatinya itu bercumbu dengan suster jaga di selembar matras tempat tidur pasien. Itu terjadi setelah sebulan tak pernah Anita beroleh kabar, setelah apa yang ia miliki ia berikan semua. Tangisnya meledak. Saya diam.

***

Dalam diam, tiba-tiba khayalan saya melayang. Menembus sanubari Anita melewati batas logika. Suatu ketika, Anita mengamit lengan dokter jaga itu sambil menggelendot manja. Suara sepatu stiletto-nya bergema di lorong klinik 24 jam yang hanya dijaga seorang dokter yang tak lain pacarnya. Sudah biasa ia mendatangi klinik tempat dokter itu jaga, hanya sekedar untuk beradu lidah di atas meja praktek, kali lain bersenggama di tempat tidur pasien.

Tapi, malam itu Anita membawa misi lain. Dikuncinya pintu ruang praktek. Lalu mendorong dokter itu ke tempat tidur pasien. Bercumbu mereka dengan liar. Sebuah ciuman dahsyat terakhir yang ia berikan. Lalu, dalam gelora yang masih membara, ia kenakan sarung tangan karet.

Lantas mengikat kedua tangan pasangannya dengan sabuk kulit di sela-sela tempat tidur pasien, lalu menyuntikkan cairan potassium chloride ke lengan dokter itu, tepat disaat menjelang puncak kenikmatan sebuah persetubuhan.

Ah.. ternyata khayalan saya terlalu berlebihan!!

gambar-ini-diunduh-dari-situs-deviant-art1Ia hanya mampu menenggelamkan dirinya dalam selimut warna-warni macam rajutan perca. Matanya telah basah oleh air mata. Terdiam dan mencoba memejamkan mata. Namun sialnya, bayang-bayang lelaki itu justru menari-nari. Bebas berlari dan menelusup dalam pori-pori.

Jarum jam sudah bergerak hampir di angka tiga dini hari. Ia meraba telepon genggam miliknya. Memasukkan nama, password dan mencoba berselancar dalam dunia maya.

Lagi-lagi nyala ID YM lelaki itu yang pertama kali keluar dari layar kecil telepon genggam. Hatinya semakin runyam. Sulur-sulur rindu telah mengoyak benteng pertahanan hatinya.

Itu gara-gara pemutar musik miliknya yang tiba-tiba mendendangkan Loving You milik d’cinammons. Lagu yang lagi-lagi melemparkan dirinya pada kenangan masa silam. Masa dimana ia berasa seperti sepasang merpati.

Loving you it hurt sometimes,
I’m standing here you just don’t bye
I’m always there you just don’t feel
Or you just don’t wanna feel
Don’t wanna be hurt that way
It doesn’t mean I’m givin’ up
I wanna give you more
And more and more’

“Damn,”

Ia sembunyikan kepalanya di balik selimut. Lelaki itu, ya lelaki itu, diam-diam telah menyiksa dirinya. Berlarian di kepala tanpa ada sapa dan hanya diam tak bersuara. Hanya ID yang menyala dan sebentuk gambar senyum yang seolah terus mengejeknya.

“Kamu tau, Blue. Dia kembaranku, tapi dibungkus kulit laki-laki,”
“Oya,”
“Ya. Hanya jika kau mengenalnya dengan baik, kau akan merasakan hal yang sama sekali tak beda. Sekali lagi dia laki-laki dan aku perempuan,”

***

Ia kembali mencoba memejamkan mata. Melirik telepon genggam yang masih saja memintanya untuk menyapa lelaki yang ia cinta. Tapi ia tahan. Batinnya seperti diterjang gelombang. Keangkuhannya telah membuyarkan benteng yang ia bangun dengan susah payah. Segala macam kesibukan atas pekerjaanya, selancar di dunia maya, tetap saja tak mampu menahan gempuran rasa. Ia benci. Tapi benci pada apa? Benci karena telah dibuat tak berdaya? Benci akan jatuh cinta? apa? Ia tak tau. Ia berusaha memejamkan mata. Lalu membiarkan dirinya terjun bebas tanpa parasut. Membiarkan dirinya lena akan gravitasi.

Padahal ia sadar, hanya dengan keanggunan dan kecantikannya, banyak lelaki yang akan tertarik padanya. Hanya untuk berganti-ganti pasangan akan dengan mudah ia dapatkan. Seperti saat ini. Pesonanya telah menarik perhatian lelaki di sekitarnya. Yah, semacam cahaya yang menyinari tanpa henti. Dan lelaki hanya seperti binatang phototaksis yang tertarik akan cahaya, akan pesona.

Tapi itu justru membuatnya makin tersiksa. Karena semua tak mampu mengantikan cintanya. Jauh di dalam hatinya, ia tetap menyayangi lelaki yang ia kenal dalam pelatihan calon pegawai beberapa tahun silam. Cinta yang kemudian ia biarkan kandas hanya karena sebuah keyakinan. Karena logikanya berkata, bagaimana pun bentuknya, keyakinan harus sama.

“Ah.. masa bodo,”

Bergegas ia tekan nomor telepon biro perjalanan 24 jam. Ia akan gadaikan idealismenya. Ia akan mendatanginya. Ia akan berikan kejutan kecil untuk melepas rindu layaknya dulu saat menjadi sepasang merpati.

“Hallo, masih ada tempat untuk weekend hari ini, mbak”
“Iya. Pagi-pagi sekali. Bisa pesan satu?”
“Oke. Terima kasih,”
Klik

Ia tersenyum. Memejamkan mata untuk dua jam. Dan berharap lekas pagi datang demi sebuah perjalanan ke kota tempat pujaan hatinya. Ia akan berdiri di depan pintu kamar sewa dan berharap wajah yang selalu ia impikan tiap malam menyambutnya.

***

Jauh di kota lain, lelaki itu masih duduk di depan meja. Laptopnya menyala. Lampu kamar dibiarkan meremang. Hanya cahaya layar berukuran 14 inci menerangi wajahnya. Tak ada keberanian untuk menyapa, meski beberapa saat lalu, ID YM perempuan itu menyala.

Ia hanya diam. Terpaku. Dan membiarkan palu godam memecahkan segala logika-logika di kepala. Bergegas, ia berdiri. Menyiapkan ransel punggung, helm dan beberapa baju ganti untuk beberapa hari.

Pagi yang dingin. Ia stater motor dan menarik gas dalam-dalam. Ia hanya bisa berharap tak sampai sepenggalah ujung matahari akan tiba di Jakarta. Lalu memberikan kejutan kecil pada seorang perempuan yang rupanya juga tengah ia rindukan.

.

Kemanggisan, 26 maret 2009, 04.21

* Untuk seseorang yang tengah terbelenggu rindu. Judul postingan ini diambil dari sebuah lagu milik The Poques dengan judul yang sama. Sebuah lagu soundtrack dari film PS : I Love You.

membunuh-rindu“Blue, kau tau, bagaimana membunuh Rindu?”

Saya setengah kaget menerima SMS itu. Masih pukul 3 pagi sebenarnya dan mata saya masih juga belum terpejam, saat Samirun, kawan saya dari Semarang mengirimkan sinyal berbentuk tulisan itu ke handphone saya.

“Kenapa kau ingin membunuh Rindu? Apakah kau sedang terlibat dalam lingkar cinta terlarang?” balas saya seketika. Saya mencoba memejamkan mata. Dan berhasil, saya ketiduran.

Itu pukul 10 pagi, ketika saya bangun dan menerima dua SMS plus tujuh misscall. Semuanya dari Samirun. Saya membuka SMS-nya. Isinya.

“Kau tau caranya membunuh rindu, tak? Itu saja dan bukan malah balik tanya,” itu SMS dia yang pertama. SMS kedua lebih singkat. “Kampret!! Turu kowe, Su!!”

Saya terbahak, tapi tak lama. Selang beberapa saat, saya telepon Samirun.

Itu Samirun mengangkat teleponnya. Dia memaki, tapi saya mendinginkannya dengan tawa, lalu dia mulai cerita. Dan seperti yang saya duga, Samirun sedang jatuh cinta. Ah, cinta. Bosan saya sebenarnya, tapi saya tetap mendengar raung dan ceritanya yang terdengar manja.

“Aku jatuh cinta, Blue. Aku jatuh cinta hanya dalam sehari aku berjumpa dengannya. Tawanya teramat manja, kerlingnya menggoda dan perlakuannya, sungguh membuatku mendadak mati sesak,” cecarnya. Saya diam.
“Kau tau, bagaimana cara membunuh, Rindu?”
“Sebentar. Kenapa kau nekat mau membunuh perasaaanmu?”
“Jujur, aku menyukainya. Tapi aku tak ingin membuatnya tersiksa, biarlah aku simpan perasaanku, Blue. Aku ingin membunuh rinduku,”

Ah.. Samirun. Sayang sekali, saya tak tau bagaimana cara membunuh rindu. Terkadang, saya juga mengalami kerinduan, dan itu benar-benar menyiksa. Membuat nafas kadang tersenggal. Sulur-sulur rindu memang bisa tumbuh dalam setiap kondisi. Rindu kadang identik dengan sunyi. Ketika kesepian, kau mampu membunuhnya dengan mendatangi pusat-pusat keramaian. Tapi kesunyian? Dia bisa berada ditengah-tengah hingar, ditengah tawa orang-orang disekitar, sedang sepi tak. Begitu pula Rindu. Sulur rindu bisa tumbuh ditengah-tengah keramaian, dibawah bayang lalu lalang orang. Lalu, bagaimana cara kau membunuhnya?

Tapi, Run. Rindu, bukan penjahat yang harus kau babat dan penjarakan. Biarkan dia mengapung di bilik sempit hatimu.

“Pokoknya, aku mau membunuh rindu. Titik,”

Ah.. tahukah kau kawan, bagaimana cara membunuh rindu?

.
Djakarta, 12 Maret 2009

foto dari blog mas ArifMaria duduk di bawah angsana. Semilir angin membawa angannya berlari di antara sisa-sisa jeda istirahat jam pertama. Pagi tadi, Maria kembali mendapati sebuah surat yang dibungkus dalam amplop bergaris jingga. Surat kelima yang ironisnya, ia tak pernah tau, siapa tuan pengirimnya

Memang hanya berisi sebuah puisi. Tapi, sebab itulah yang justru membuatnya ingin berlari tiap pagi, bersikejar dengan dentang bel dan derit pagar sekolah. Di laci meja kelas, ia selalu dapati selembar surat tanpa nama. Hanya sebuah garis jingga dan debar yang selalu mengganggunya.

Sehari sebelumnya, hanya secarik kertas dalam amplop yang sama ia temukan tergeletak di atas meja. Sekali lagi, tanpa nama dan hanya garis jingga.

“Senyummu selalu membuatku rindu”

Hanya selarik kalimat yang ada, yang ironisnya membuat batin Maria bergemuruh. Jantungnya seperti terpompa oleh debar asmara. Maria, semakin penasaran dengan pengemar rahasianya.

Ini kali kedua Maria merasakan debar yang sama setelah dua tahun lalu cinta pernah mengelabuhinya. Hati Maria luka, setelah cinta pertamanya kandas oleh lekuk tubuh perempuan lain yang menyebabkan Bayu berpaling darinya. Bayu kepergok memboncengkan Pizka yang merangkulnya dengan ketat. Tawa mereka telah meruntuhkan kepercayaan Maria.

Kini, hati Maria kembali berdebar. Amplop bergaris jingga itu telah membuat hatinya bimbang. Ingin ia segera membuka sudutnya dan mengeluarkan secarik kertas didalamnya. Namun batinnya bergolak. Ia tak ingin hatinya kembali mengalami nasib yang sama. Tapi sisi hatinya yang lain memintanya untuk segera beranjak mencari tambatan hati.

Maria putuskan membukanya. Sebuah puisi dengan tulisan tangan yang teramat rapi.

Cinta adalah sembilu angin lalu,
Terbentang bersama perih dan senyum yang pilu.
Memurni bersama embun pagi,
Dalam dingin bukit hati

Cinta adalah senyummu
Terbentang bersama riang di hati
Memurni untuk saling berbagi
Dalam hangat mentari pagi

Batin Maria bergolak. Dadanya membumbung. Tak pernah ia merasakan debar yang begitu dahsyat pasca cinta yang pernah mengelabuhinya. Meski Maria tak mengerti puisi sama sekali, tapi ia mengerti arti rangkaian kalimat untuknya.

Maria melipatnya. Memasukkan dalam amplop jingga, lalu bergegas ia tempelkan di dada. Senyum Maria menggembang, ia putuskan untuk kembali membuka hatinya. Maria tak akan pernah peduli, jika kelak cinta kembali menyayat hatinya. Karena Maria tahu, sembilu yang kelak menyayatnya, tak kan tergantikan manakala ia berhasil menemukan pujaan hatinya. Cinta, kelak akan membuat jiwanya semakin dewasa, membuat langkahnya seringan kapas, semurni embun pagi.

***

Dari balik jendela kaca kelas, aku hanya bisa tersenyum melihat roman muka Maria. Maria, yang telah mencuri hari-hariku. Senyum dan aroma wangi yang disebarkan dalam kelas telah membuat mataku terbutakan oleh kemilau rindu. Aroma yang tercium jelas karena Maria selalu memilih duduk bersebelahan denganku.

“Oh Tuhan, Kenapa kau takdirkan aku sebagai perempuan?”

.
**Cerita mini ini telah dimuat di kolom gaul sebuah surat kabar, dengan nama samaran.
Mas arif, maaf aku curi foto di blogmu. Aku pinjam.

Next Page »