resensi


Sudah lama kiranya, saya tidak menulis atau minimal mengisi blog ini. Seperti posting terakhir, energy untuk menulis itu meredup. Menulis membutuhkan “energy”. Tapi kabar baiknya, rindu itu kini menyala lagi. Semangat untuk kembali mengisi lembaran-lembaran postingan kembali saya dapatkan meski kobarnya masih tak seberapa.

Baiklah. untuk kali ini, saya mau membawa anda untuk menikmati sebuah pertunjukkan teater yang dimainkan Stage Corner Community. Judulnya keren, “Techno Ken Dedes”. Saat pertama kali saya mendengar judulnya, saya terhenyak. pasti ada sesuatu yang baru dalam pertunjukkan Techno Ken Dedes. Dan benar saja, kali ini, Ken Dedes memperlihatkan wajahnya yang lain. Ia lahir dalam tiga generasi yang berbeda kultur. Pentas Techno Ken Dedes memperlihatkan sisi-sisi persoalan wanita. Mulai dari feminism hingga harga diri perempuan.

Pentas Teatrikal Techno Ken Dedes yang dimainkan Stage Corner Community di Gedung Kesenian Jakarta 18-19 Oktober lalu, barangkali sengaja dihadirkan untuk memperlihatkan bagaimana benturan-benturan antara masa lalu dan masa kini. Perjalanan waktu yang terus bergulir dengan rentetan perubahan-perubahan telah mempertemukan Ken Dedes masa kini (techno) dengan Ken Dedes masa lalu (purba). Benturan sosial, feminisme dan harga diri menjadi persoalan yang campur aduk.

Pentas dibuka dengan suara music etnik berbaur dengan instrument techno. Lalu satu persatu para dedes muncul bergantian. Diawali Dedes Rahim. Ia muncul dari balik batu. Berjalan sembari menari diatas cobek yang disusun. Dialah Dedes Rahim. Dedes yang melahirkan para dedes. Dia lah rahim purba techno. Tempat segala terlahir dan tertimbun. Takdir telah menggariskan jejak bagi sang rahim, jejak kaki Ken Dedes. Dialah silsilah yang tak punah hingga telanjangnya zaman

Lalu, muncul Ken Dedes Techno (YG Threnov) dari dalam bathtub. Melepaskan jubah hitam yang membalutnya. Dari tubuhnya tampak gambar menyerupai mesin. Lalu dia melangkah perlahan keluar dari bathtub. Sementara, berdiri diatas batu, Ken Dedes Purba (Sintya Syakaraw) diam menatapnya. Wajahnya menunjukan raut penuh kekhawatiran. Sambil terus menari, Ken Dedes Techno buka suara.

“Aku ingin senggama lagi. Agar aku dapat lebih mengenal jejakku. Aku ingin senggama. Akan aku lahirkan tubuh-tubuh sepertiku, Aku ingin telanjang,”
“Jaga lidahmu” tutur Dedes Purba. Matanya mendelik.
“Wahai Dedes, Wahai peradaban, menarilah bersamaku,”
“Kau hilang akal. Tubuh barumu harus diruwat, Dedes,” hardik, Dedes Purba kesal

Dalam pentas ini, para dedes, tampil dengan karakter masing-masing. Dedes Purba mewakili peradaban masa lalu tempat ia terbelenggu dengan aturan dan tata karma Dari tampilan saja tabrakan itu sudah terlihat. Ken Dedes Purba menggambarkan sosok perempuan masa lalu dengan balutan kain kemban. Sementara Dedes Techno lebih memperlihatkan gambaran kekinian. Dialah lakon dari peradaban masa kini yang feminim, yang serba bebas, serba hedon. Tempat dimana tak ada lagi aturan-aturan yang membatasi pergaulan seorang perempuan di jaman yang serba terbuka dan modern. Dia menampilkan jejaknya sendiri mengikuti zaman. Narasinya penuh dengan kekecewaan.

“Akulah Dedes yang terlahir kembali. Dedes yang tersenyum. Darah keperawananku membawaku pada singgasana paramesywari,” tegas Dedes Techno

Sedangkan kemunculan Dedes Rahim, lebih kepada sebagai penengah. Penengah diantara benturan-benturan yang dimunuculkan antara masa lalu dan masa kini. Antara Dedes Purba dan Dedes Techno.

“Aku Rahimmu. Rahim yang kau lupakan. Putarlah wajah pada cahaya bulan, biarkan ingatanmu memimpinmu. Kau tubuh Purba cahaya. Lempeng baja juga mesin-mesin,menempatkan diriku hanya pada sebuah kenangan. Kenangan yang berubah ilusi. Ilusi masa lalu dan masa depan,” ujar Dedes Rahim, suatu ketika.

Cerita “Techno Ken Dedes” yang terpilih sebagai peraih Hibah Seni Kelola 2011 itu memang lebih banyak menyoal tentang feminisme. Benturan-benturan dilakukan, lalu ditengahi dengan kemunculan Dedes Rahim. Dalam bahasa sang sutradara, Dadang Badoet, itulah kunci untuk “pulang kembali” sesuai khitahnya.

Lewat pementasan ini, Dadang memang berusaha mengeksporasi dan mereinterpretasi tokoh perempuan dengan kehormatan dan harga dirinya yang tinggi dengan perwatakan karakter yang kuat. Semuanya itu disampaikannya lewat kemunculan narasi yang kental metaforanya.

Dadang Badoet juga sengaja memunculkan sosok Ken Dedes karena dianggap cukup mewakili persoalan yang ingin diangkat karena kisah kehidupannya yang intrik. Munculnya tiga Dedes dalam karakter yang berbeda, menjadikan pementasan ini lebih kaya akan persoalan.

Tak lupa, pentas ini juga sengaja menghadirkan Ken Arok. Namun, Arok dalam pementasan ini, tak lebih hanya tempelan belaka. Arok dihadirkan sebagai rangsangan cerita, yang kadang, justru melemahkan narasi yang sudah terbangun kuat. Atau barangkali ia muncul hanya sebagai tempelan agar penonton tak terlalu serius. Toh banyak banyolan sejak munculnya Arok.

Stage Corner Community dalam produksinya yang kelima juga sengaja mengkolaborasikan susunan properti panggung yang mendukung perwatakan karakter. Property cobek dari batu di atas panggung yang menjadi tempat berpijak Ken Dedes Purba. Oleh Dadang dilambangkan sebagai jejak-jejak purba yang masih ada. Sedangkan bathtub disimbolkan sebagai sesuatu yang bersih dan rapi dari peradaban kini. Karena itulah Ken Dedes Techno muncul dari bathtub. Secara garis besar, pentas ini sangat menarik dengan narasi dan isu yang kuat. (*)

Advertisements

Suka Balet? Atau setidaknya anda pernah menonton pertunjukkan balet di panggung kesenian besar? Jika tidak suka atau belum pernah sekalipun menonton, sebaiknya anda segera menonton. Apalagi, jika koreografinya dari Farida Oetoyo.

Farida Oetoyo ini, kalau orang seni bilang, dia lah salah satu maestro balet Indonesia. Dia dengan ide-idenya, telah mencipta puluhan bahkan ratusan koreografi balet yang penuh dengan keindahan, kelincahan dan kelenturan tubuh pemainnya. Balet ditangan Farida Oetoyo menjadi sebuah karya seni yang sungguh indah untuk dinikmati. Tentu, tanpa perlu anda memahami tetek bengek istilah dalah dunia balet.

Seperti dalam pembukaan festival Schouwburg IX di Gedung Kesenian Jakarta, beberapa pekan lalu. Dua karya Farida, Survival dan Serdtse di pentaskan ulang, yang tentunya tetap mengundang decak kagum penonton.

Saya berkesempatan untuk menontonnya. Malam itu, panggung Gedung Kesenian Jakarta dihiasai cahaya warna merah menyala. Ditengahnya, penari dengan topeng warna putih bergulat bersama kain warna merah menyala yang membelit tubuh mereka. Pelan mereka bergerak seiring dengan music yang banyak diwarnai detail piano, bass dan gesekan biola.

Pelan, mereka mencoba lepas dari lilitan kain tersebut. Alih-alih lpeas, mereka justru terjebak. Masuk menyelip dalam belitan kain panjang warna merah menyala. Bergerak, menyumbat lalu diam tak bergerak. Tak berapa lama, para penari ini terlepas, muncul dengan wajah barunya. Kali ini tanpa mengenakan topeng.

“Ini adalah sebuah pertunjukkan yang memang inspirasinya dari dalam diri saya sendiri. Ini merupakan pengalaman yang saya lakoni,” kata Farida Oetoyo

Inspirasi yang dimaksud Farida Oetoyo adalah pertunjukkan Serdtse atau The Heart yang malam tersebut disajikan dengan diringi kemasan music live oleh anaknya Aksan Sjuman. Serdtse atau The Heart, merupakan jenis tari Ballet dengan unsure kontemporer yang sangat kental. Farida yang lebih banyak menganut aliran ballet klasik, menyelipkan jenis tarian kontemporer yang indah dan sangat artistic di karyanya kali ini.

“Tidak semuanya kontemporer. Karena unsur balletnya juga sangat kental. Karena memang akar saya di ballet, jadi saya tidak bisa meninggalkan ballet dalam semua karya-karya saya ini,” tegas Farida Oetoyo.

Serdtse sendiri menceritakan tentang seorang danseur atau ballerino (sebutan untuk penari balet laki-laki) yang menjalani hari-harinya. Ada denyut kehidupan, ketenangan, aneka persoalan hingga sebuah kematian. Dialah sosok yang terbelit kain merah, hingga di akhir episodenya harus mati.

Dalam koreografi kali ini, Farida mengibaratkan kain warna merah tersebut adalah pembuluh darah yang mengalir ke dalam jantung. Dan dalam perjalanan hidupnya, ayah Farida Oetoyo, R Oetoyo Ramelan meninggal karena penyakit jantung yang diderita.

“Gadis yang berjalan keluar di tengah-tengah laki-laki yang terkapar di tengah tad, adalah gambaran bahwa inilah masa depan ballet. Ada generasi balet baru yang lahir,” tandas Farida.

Serdtse sendiri merupakan karya terbaik yang pernah dipentaskan oleh Farida Oetoyo. Sebelumnya, Serdtse pernah juga dipentaskan pada September 2006 di GEdung Kesenian Jakarta. Untuk pentas kedua ini, Farida Oetoyo menambah beberapa detail koreografi dan tekanan pada music, hingga tersaji pertunjukkan yang lebih hidup, penuh gairah dan lebih manusiawi.

Dalam festival Schouwburg IX—schouwburg adalah nama gedung kesenian Jakarta pada masa lalu—kali ini Serdtse merupakan tari pembuka kedua dalam festival kali ini. Di tempat dan hari yang sama, Farida Oetoyo menampilkan terlebih dahulu tari ballet klasik Survival.

Dalam tari Survival ini, Farida Oetoyo yang memang memiliki akar ballet klasik, menyelipkan sedikit sentuhan neo klasik di dalamnya. Gerakan-gerakan indah ballet klasik disajikan tanpa cerita, hanya komponen koreo tari ballet yang indah, gembira lewat Survival.

“Dalam karya Survival ini memang tidak ada jalan cerita atau maksud tertentu. Saya ingin membiarkan penonton menikmati gerak tari tanpa harus repot-repot memikirkan jalan cerita. Nikmati saja gerakan dan musikalitasnya,” tegas Farida

Dan memang, dalam Survival ini, Farida lebih banyak menonjolkan keindahan gerakan dari penari-penari balet semata. Gerakan ballet klasik dipentaskan dengan keindahan, keanggunan lewat penari-penarinya.

Dengan musikalitas dari composer Sergei Prokofiev, Farida hendak menampilkan eksistensi balet dalam Survival. (*)

Sudah sebulan ini, Gedung Kesenian Jakarta menggelar pentas budaya Jakarta Anniversary Festival VIII. Saya, nyaris tak pernah absen datang ke GKJ, sekedar untuk menonton festival budaya yang jarang ada ini.

Saya memang suka dengan gelaran budaya semacam ini. Ditengah hiburan dan gemerlap musik techno yang menggila, GKJ tetap setia menyuguhkan pentas budaya. Gempuran musik-musik barat, nampaknya hanya menggerus dinding terluar GKJ. Sementara, di dalam gedung warisan dari Belanda ini, musik-musik tradisional, tari, hingga teater hidup dengan dunianya, meski kadang nafas mereka kembang kempis karena kerja keras mereka tak banyak diapresiasi oleh penonton di Ibukota.

Gelaran terakhir Jakarta Aniversary Festival, kemarin menghadirkan EKI Dance Company lewat produksi mereka Jakarta Love Riot. Ini adalah hiburan segar sekaligus pagelaran paling sukses, karena selama tiga hari penuh, tiket sold out.

Jakarta Love Riot adalah sebuah kisah tentang cinta, citra, dan arti sebuah pertemanan dalam potret kehidupan kota metropolitan.

Mengusung konsep drama komedi musical, Eksotika Karmawibhangga Indonesia (EKI) Dance Company mencoba menawarkan sebuah teater kontemporer yang lucu, satir sekaligus menyelipkan banyak pesan moral.

Dengan mengkombinasikan antara cerita-cerita yang lucu, akting menawan dari pemainnya dan musik yang indah, Jakarta Love Riot: Cinta Campur Citra Cuma Cari Cekcok menjadikan produksi EKI Dance Company kali ini sukses luar biasa

Jakarta Love Riot sendiri bercerita tentang sepasang anak muda yang saling jatuh cinta. Namun, karena keduanya memiliki status sosial yang berbeda, membuat cinta mereka jadi sumber masalah.

Adalah Genk Rempong, gerombolan remaja Jakarta masa kini dengan dandanan modis, gaul dan serba hedon. Merekalah potret kehidupan remaja meteropolitan yang sering kali mengikuti tren yang berkembang.

Nala adalah salah satu anggota dari mereka. Nala, anak seorang desainer terkenal yang kaya raya. Namun, kehidupan Nala bagaikan hidup dalam sebuah aquarium. Ia dibatasi oleh keindahan-keindahan dan tata krama untuk bergaul dengan dunia luar.

Hingga kemudian, Nala bertemu dengan Toto. Pemuda sepantaran yang ganteng, namun bermasalah dengan kehidupan sosialnya. Toto hanyalah anak seorang penjual soto di emperan Manggarai. Dialah Toto yang nyaris tak pernah mengikuti tren remaja masa kini.

Pertemuan sepasang kekasih dalam status sosial yang berbeda inilah yang kemudian memantik konflik, menimbulkan kecurigaan, kepanikan, dan kekisruhan di keluarga dan komunitas masing-masing. Dalam kasus ini, mereka memiliki berbagai alasan untuk tidak merestui hubungan keduanya. (more…)

Pecinta film dengan genre slasher macam sequel Saw, atau Hostel tentu tak akan melewatkan film ini. Film slasher pertama besutan sineas muda Indonesia ini akan membawa penonton dalam ketakutan

Industri film di Indonesia sempat dibuai oleh film genre horor klasik yang menampilkan hantu berambut panjang dengan gaun putih yang menjuntai kepanjangan. Atau kali lain dihidangkan hantu paling menakutkan seperti pocong yang membuat bulu kuduk berdiri. Mendekati pekan-pekan ini, jenis film horor dengan hantu seksi dengan aroma berbau-bau sex juga banyak dijumpai di Layar Bioskop yang ironisnya, justru film-film semacam ini lah yang laku dipasaran.

Tapi awal tahun 2010, jangan kaget jika Mo Brother (Kimo Stamboel dan Timo Tjahjanto) akan menghantui anda dengan film Rumah Dara. Sama-sama mengundang kengerian, film versi panjang dari film Macabre ini akan menghantui tanpa perlu menghadirkan sosok hantu klasik yang justru terlihat lucu akhir-akhir ini.

Kedua Sineas muda ini mengajak penonton menikmati kesadisan dan kengerian dalam film bergenre Slasher. Jenis film sadis yang jarang dibuat di Indonesia setelah Pintu Terlarang besutan Joko Anwar. Mo Brother adalah dua orang yang disatukan karena memiliki kesamaan nama Mo. Kecintaan mereka pada film dengan jenis slasher membuat perkawanan mereka makin akrab dan sama-sama membuat film dengan genre sejenis. Film awal yang mereka buat yakni Alone (Sendiri) film slasher yang tak kalah mengerikan. Kedua, film Rumah Dara yang merupakan versi panjang dari film pendek besutan mereka berjudul Dara, atau yang di Singapore berjudul Darah dah Macabre versi Inggris.

Kimo dan Timo mampu membuat penonton menjerit ngeri, tanpa harus melihat sosok hantu yang menakutkan. Namanya saja film slasher, yang ada justru penonton disuguhi adegan kekerasan yang cenderung kejam, dengan tangan yang patah (sampai terlihat tulang yang mencuat), darah yang semburat, dan adegan-adegan menegangkan lainnya. Film Rumah Dara yang versi uncensored sendiri sebenarnya sudah mulai bisa dinikmati sejak pagelaran Jiffes beberapa pekan lalu di Jakarta.

Rumah Dara sendiri bercerita tentang pembantaian yang dilakukan oleh keluarga Dara (Shareffa Danish), Maya (Imelda Therine), Adam (Arifin Putra) dan Arman (Ruli Lubis) keluarga yang telah hidup ratusan tahun itu membunuh satu demi satu kelompok anak muda yang terjebak dirumah mereka.

Cerita dimulai ketika kelompok anak muda Ladya (Julie Estelle), Adjie (Aryo bayu), Astrid (Sigi Wimala), Jimi (VJ Daniel), Eko (Dendy Subangil) dan Alam (Mike Lucock) sedang melakukan perjalanan dari Bandung menuju Jakarta. Namun ditengah jalan, mereka hampir menabrak Maya. Dalam salah satu bagian cerita, Maya merupakan korban perampokan. Karena kasihan, kelompok Anak muda itu kemudian mengantar mereka ke rumah Maya.

Disinilah kemudian cerita terus bergulir memacu adrenalin hampir tanpa henti. Pembantaian demi pembantaian disajikan dengan nyata dan berdarah-darah. Jalinan cerita menjadi tidak penting lagi karena lebih dari separuh film ini menyajikan adegan kekerasan cenderung ke kejam. Bagi penggemar film slasher, sudah barang tentu akan menyukai setiap adegan dalam film ini. mata yang tertusuk stiletto, kepala yang terpenggal, kaki patah, tangan terpotong, hingga jari-jari tertusuk pisau disajikan dengan nyata (more…)

twilight_book_cover1Saya tak melihat sebuah kelebihan apapun dari sosok drakula macam Edward Cullen dalam film Twilight selain dia gesit, kuat, dan jago memanjat—yah barangkali sebagian orang melihat dia tampan.

Saya justru melihat si Cullen itu (anda boleh membacanya si Cullun) sebagai sosok lelaki seperti pada umumnya. Ya, bedanya mungkin karena dia drakula dan peminum darah. Soal cinta yang menjadi inti cerita film ini, ah, saya pikir sama dengan saya. Sama dengan anda pembaca, atau barangkali dalam hal menaklukkan perempuan, malah jauh lebih hebat dari sampeyan.

Terus terang, saya baru sadar ketika saya menonton film ini dan dipaksa mendengar ocehan Samirun, kawan saya dari Semarang.

“Tau nggak bro,” kata Samirun lewat sambungan telepon. Ah, dasar Samirun ini kalau telepon memang tidak peduli waktu. Saat itu sudah pukul tiga pagi, saya baru mau berangkat tidur. Mata sudah terpejam.
“Paan, Su?”
“Si vampire yang menjadi dambaan perempuan-perempuan itu, ternyata sama seperti lelaki pada umumnya,”
“Vampire apaan?” tanya saya heran. Itu saya bertanya karena saya belum menonton Twilight. Saya masih malas nonton film yang penuh sesak. Lagi pula saya tidak terlalu peduli dengan tren dan kebetulan malam itu saya sudah ngantuk.
“Belum nonton Twilight ya?” gantian Samirun bertanya.
“Auk ah,”

Samirun lalu dengan bangga cerita. Bahwa Edward Cullen yang memiliki mata emas, dan tampan itu sebagai sosok lelaki biasa. Samirun mengulas, bagaimana si Cullen itu berlaku sok misterius yang justru dari situlah kelebihannya hingga banyak perempuan yang menggilainya.

“Ingat,” kata Samirun. “Sebagian perempuan suka dengan lelaki yang misterius. Dan si vampire ganteng itu masuk dalam kriteria itu,”
“Hmm,”

Menurut Samirun, Bella Swan yang baru pindah ke Forks, kota yang selalu di gelayuti mendung itu juga memiliki feromon yang sangat kuat. Tak hanya Eric dan Mike Newton yang menggilainya, si Cullen juga menghirup wangi feromon yang sama hingga ia kemudian pura-pura menutup hidung.

“Hehe.. Aku nggak yakin saat Bella ada di samping kipas angin itu, si Cullen membaui darah Bella. Aku justru yakin, si Cullen bau perempuan,” kekeh Samirun
“Maksudmu,”
“Yah.. kayak kamu lah, Bro. Kalo ada cewe cantik dari jarak 20 meter juga sudah bau. Mata langsung jelalatan,” tawa Samirun meledak
“Ah eek, lu!”

Banyak hal sebenarnya yang diulas Samirun dari kaca mata lelaki macam dia. Salah satunya, karena si Cullen mampu memberikan kejutan-kejutan kecil dalam hidup Bella, memberikan Bella percik “kembang api”, warna warni pelangi dan wangi bunga-bunga kehidupan. Semua perlakuan itu, menurut Samirun, akan membuat setiap perempuan jatuh berkalang asmara.

Seperti yang dilakukan Samirun pada setiap perempuan tentunya. Ya, atau bahkan mungkin anda juga sering memperlakukan perempuan seperti itu. Membuat perempuan nyaman, dan mendapatkan kesenangan, terbukti memang bisa menjadi salah satu daya tarik untuk menaklukkan perempuan. Tak perlu lah menjadi penghisap darah, gesit, kuat, pintar memanjat atau barangkali memiliki wajah setampan Edward Cullen.

“Satu lagi, Bro,”
“Paan lagi?” saya mulai terusik
“Hehe.. tenang coy. Gak usah emosi gitu,”
“Iya paan?”
“Kamu tau, kenapa saat Bella minta untuk digigit Cullen, justru si Cullen menolak?”
“Lah, kenapa?”
“Hehe.. itu karena si vampire tidak ingin Bella menjadi abadi. Cullen ingin terus muda, dan membiarkan Bella tua. Kemudian Cullen cari cewe yang lebih muda lagi. Cullen itu laki-laki, cuy!!” Samirun ngakak.
“Ngawur!! Ah sudah ah,”

klik!!

Saya menyudahi pembicaraan saya dengan Samirun. Ulasan Samirun pagi itu benar-benar ngawur dan hanya sepihak. Tapi anehnya itu justru meracuni pikiran saya. Dan kemarin saya nonton Twilight, saya tertawa. Saya ingat Samirun. Ternyata memang tidak ada beda.

Ah.. dasar lelaki!!

foto diambil dari rottentomatoes. silahkan di klik kanan

foto diambil dari rottentomatoes.

Kawan saya, bertanya. “Bang, dah nonton laskar pelangi?,”
Saya jawab, “Belum. Napa emang?,”
“Bagus lho,”
“Iya deh, nanti kapan-kapan saya nonton,” Itu saya yang menjawab.

Ya. Konon, Laskar Pelangi memang bagus. Tapi entah kenapa, hingga sekarang saya belum juga menontonnya. Di bioskop, penonton masih berjubel. Mungkin itu yang memuat saya kemudian malas untuk menonton film ini.

Saya menonton film untuk dinikmati. Saya males, jika mau nonton saja harus antri menyemut, hingga kaki pegal. Yang ada nanti justru mood saya luntur, imbasnya, menonton jadi kurang asik. Saya juga tidak begitu mendewakan yang namanya tren. Ketika banyak orang berbondong-bondong menonton, saya mah di kamar kost saja, menikmati The Holiday, Resurrecting the Champ, atau sesekali JAV.

Itulah kenapa kali ini saya tidak mau mengulas film laskar pelangi. Selain sudah banyak yang mengulas, saya juga belum nonton. Nanti malah kurang valid. Ntar, situ ngetawain lagi!. Makanya saya mau nulis film My Blueberry Night saja. Nggak apa-apa khan? Baiklah.

Adalah Elisabeth (Norah Jones) yang ketika mengetahui pacar serumahnya selingkuh, tiba-tiba merasa Tuhan telah membebankan dirinya dengan setumpuk persoalan. Dalam titik ini, Elisabeth tidak sadar, bahwa setiap manusia memiliki persoalan sendiri yang tak kalah berat. Dan di kafe-lah, orang-orang tersebut melarikan persoalannya–Melepas semua beban, atau justru mendapati persoalan tambahan?. (more…)

mela  barbie dan goyangnyaKenal yang namanya Lina? Iya, itu Lina Geboy. Kenal nggak? Kalau Mela Barbie? Nggak kenal juga? Duh!!

Baiklah, kalau anda nggak kenal, saya coba kenalkan. Lina Geboy dan Mela Barbie itu biduanita dangdut koplo. Dua nama itu entah kenapa membuat saya takjub. Saya ngefans banget dengan dua gadis itu. Dua nama yang entah kenapa dibelakangnya diberi embel-embel Geboy dan Barbie.

Saya ngefans karena mereka itu penghibur sejati. Sumpah, suara dan goyangnya dahsyat. Saya sampai tak tahan. Lina Geboy dan Mela Barbie seolah paham benar dengan statusnya sebagai artis penghibur. Jadi meski di colek sana-sini, disuitin ribuan manusia, goyangnya justru semakin heboh. Desahannya, alamakkk!! Saya sampai tak kuasa untuk tidak menahan nafas. Jantung saya berdenyut-denyut kalau suara kendang itu mengendut-endut. Habisnya, goyangan Lina dan Mela benar-benar pas dengan irama kendang. Mereka masih bisa tertawa-tawa dan tetap menjaga kualitas suaranya. Benar-benar penghibur sejati.

Lina, Mela, kendang dan dangdut memang seperti satu kesatuan yang utuh. Semunya tidak bisa dipisahkan. Benar-benar menarik urat saya untuk terus melotot.

Kalau toh dipisahkan, mungkin saya tidak pernah ngefans dengannya. Goyang, tanpa Lina atau Mela, benar-benar tak enak dilihat, kendang tanpa merdu suara Lina atau Mela, bikin kuping saya panas. Dangdut koplo tanpa Lina dan Mela, membuat mata saya malas memandang lama-lama. Jadi, dangdut koplo, kendang, Lina dan Mela adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Hehehe.. ndeso memang!!
Biarin. Sekali-kali menikmati irama dangdut koplo kan sah-sah saja.

Saya sebenarnya tak begitu mencintai dangdut koplo, jika bukan karena abang saya. Dia itu menyimpan beberapa keping VCD yang didalamnya ada Lina dan Mela. Karena saya penasaran, makanya saya curi-curi untuk memutarnya di computer abang saya itu. Dan sejak saat itu saya langsung kepincut. Saya langsung ngefans. Goyangnya bikin saya tak tahan!! (more…)

Next Page »