Siapa tak kenal panganan Kerak Telor? Bagi anda yang tinggal di Jakarta, Kerak Telor tentu tak lagi asing. Makanan ini menjadi sebuah santapan tradisi bagi warga Betawi.

Kerak telor merupakan makanan asli Jakarta. Biasanya, dijual pakai gerobak pikul dengan tungku bara yang mengepul untuk memasaknya. Kerak Telor menjadi santapan yang enak manakala campuran antara beras ketan putih, telur ayam/bebek, ebi (udang kering yang diasinkan) disangrai kering diatas tungku dengan wajan yang terbalik. Lalu ada bawang merah goreng, diracik dengan bumbu yang dihaluskan berupa kelapa sangrai, cabai merah, kencur, jahe, merica butiran, garam dan gula pasir hingga menjadikan makanan tradisional ini memiliki rasa gurih, yang menjadi cita rasa khas Indonesia.

Ya, Indonesia memang memiliki ragam masakan yang beraneka rupa. Puluhan bahkan ratusan masakan asli Indonesia tersebar dari penjuru tanah air dengan aneka rasa sesuai khas penghuninya. Masakan khas Indonesia, tentu menjadi kekayaan milik Indonesia yang tak pernah habis.

Hampir di setiap daerah, memiliki kekhasan dalam makanan. Bahkan soal rasa, seringkali disesuaikan dengan kebiasaan serta indra perasa masing-masing. Jika di Jakarta, ada kerak telor, ketoprak, soto betawi hingga Nasi Uduk yang gurih, tentu berbeda dengan Yogyakarta. Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masakan-masakan yang bercita rasa asin seperti di Jakarta, kurang diminati.

Di DIY dan Jawa Tengah, masakan bercitarasa manis jadi adonan yang mengasikkan untuk disantap. Tentu anda tak asing dengan masakan Gudeg. Masakan khas Yogyakarta dan Jawa Tengah ini memiliki citarasa yang manis.

Gudeg terbuat dari nangka muda yang dimasak dengan santan. Untuk membuat adonan yang enak dan empuk, perlu waktu berjam-jam untuk membuat masakan ini. Warna coklat biasanya dihasilkan oleh daun jati yang dimasak bersamaan, dengan campuran bumbu-bumbu lainnya. Gudeg dimakan dengan nasi dan disajikan dengan kuah santan kental (areh), ayam kampung, telur, tahu dan sambal goreng krecek

Telor ayam kampung sendiri, direbus dengan campuran kecap dan gula merah hingga membuat, cita rasa telor dalam campuran Gudeg pun jadi teramat manis. Di daerah Yogyakarta, Solo atau Jawa Tengah, Gudeg sendiri disajikan dalam tiga adonan yang berbeda. Yakni gudeg kering, dimana makanan ini disajikan dengan areh kental, jauh lebih kental daripada santan pada masakan padang. Lalu ada gudeg basah, yaitu gudeg yang disajikan dengan areh encer. Dan Gudeg Solo, yaitu gudeg yang arehnya berwarna putih. Semuanya memiliki cita rasa yang berbeda.

Itu baru Gudeg, belum makanan dari daerah lainnya di Indonesia, seperti Rawon, Tengkleng, soto lamongan, Rendang, Sate Madura, Ayam Betutu khas Bali, Ayam Taliwang, Coto Makassar, colo-colo khas Maluku, hingga Mi Aceh. Semuanya memiliki keragaman rasa yang berbeda.

Namun, seolah sudah menjadi makanan keseharian yang sering dinikmati, terkadang hadirnya masakan tradisional ini malah di tinggalkan. Bahkan untuk mencari masakan khas daerah, butuh tempat tersendiri. (terkecuali masakan padang yang memang sudah menjamur dimana-mana)

Bahkan di mall-mall yang tersebar di seluruh daerah, justru hegemoni masakan cepat saji menjadi penguasa tunggal bisnis makanan di Indonesia. Mulai dari crepes, donat, burger hingga ayam goreng tepung.

Bisnis waralaba Kentucky Fried Chicken (KFC) misalnya, hadirnya di Indonesia sudah seperti gurita. Masuk di Indonesia pada tahun 1979, gerai yang dulu dikembangkan oleh Kolonel Sanders ini hingga kini sudah memiliki gerai lebih dari 368 yang tersebar di seluruh penjuru tanah air.

Motivator Tung Desem Waringin bahkan dalam beberapa kesempatan mengatakan kunci keberhasilan KFC bukan sekadar infrastruktur, akan tetapi sumber daya manusia di dalamnya yang memberikan pelayanan. Ketatnya persaingan pada bisnis waralaba di Indonesia, membutuhkan inovasi tidak saja kepada produk, tetapi juga strategi pemasaran.

Tentu saja, susah untuk menyandingkan antara masakan tradisional Indonesia dengan masakan cepat saji seperti KFC, atau bisnis Crepes yang menjamur. Bahkan soalan ini tak hanya bicara soal makanan semata, tapi juga persoalan bisnis.

Konsumen Indonesia saat ini, khususnya di Ibukota, memang cenderung menyukai makanan-makanan cepat saji yang disajikan di mall-mall. Inovasi yang terus berkembang dengan menu-menu yang terus berubah, menjadikan masyarakat ingin terus mencoba dan membeli. Hasilnya, masakan cepat saji jadi idola masyarakat saat ini.

Lagipula selama ini juga tak ada franchise Kerak Telor yang didagangkan di both-both makanan di mall. Padahal, di kota besar makan tak lagi menjadi kewajiban untuk mengisi perut saja, tetapi juga rekreasi. Bayangkan, betapa nikmatnya jika bisa menikmati kerak telor sembari menyeruput kopi di tengah lalu lalang orang yang tengah berbelanja dompet merk Versace, Gucci atau memilah-milah underwear Triumph dan Sorella.

Maria duduk di bangku beton sebuah taman. Sore sudah mulai beranjak senja. Anaknya, Lio, yang masih berusia 3 tahun ia biarkan berlarian di sudut taman. Sore itu hanya ada Jay, Maria dan satu pasangan kekasih yang duduk sedikit menjauh dari mereka.

“Aku tau Jay. Aku tau perasaanmu. Demikian pula aku, aku merasakan hal yang sama dengan kamu,” ujar Maria

Maria, perempuan muda dengan kulit bak pualam, dengan binar mata yang indah memang selalu mempesona Jay. Maria telah meluluh lantakkan perasaan Jay sejak pertama kali mengenalnya. Maria, meski sudah memiliki seorang anak lelaki, tak menyurutkan cinta Jay, meski hubungan mereka terpisahkan oleh jarak dan status.

“Kamu tau Jay, emotional affair itu jauh lebih bahaya dan menyiksa daripada physical contact. Aku ingin menghindari semua ini, Jay,”
“Aku tau, Maria. Tapi aku tak akan pernah bisa untuk melupakanmu. Bahkan menyimpannya dalam laci hati paling dalam sekalipun,”

Keduanya diam. Lalu mata mereka bersirobok dalam pantulan senja yang keemasan. Jay menatap dalam mata Maria. Maria tersenyum. Dalam bilik hati terdalam, Maria juga merasakan hal yang sama seperti Jay. Tak pernah ia bisa melupakan lelaki yang pernah membuatnya benar-benar merasakan jatuh cinta. Tapi semuanya sudah berubah.

Di kejauhan, Lio berlarian di bawah pohon kenari. Memelorotkan celana lalu terdengar seperti air gemericik membasahi rindang pohon kenari. Mereka menoleh. Sontak, terbahak.

“Itu Ayahnya yang mengajari Lio kencing di bawah pohon,”

.
*Terimakasih untuk Ike dan Lio*

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Medio 1960-an, masyarakat pernah dimanjakan oleh sepak terjang pendekar sakti mandraguna. Mengenakan topeng buruk rupa dan pakaian seadanya. Dialah Panji Tengkorak. Pendekar bertopeng yang membabi buta dalam memberantas kejahatan.

Tahun-tahun itu, hingga pertengahan tahun 1980-an, siapa tak kenal Hans Jaladara. Dialah ayah kandung Panji tengkorak. Tokoh yang melahirkan sang pendekar hingga besar dan menjadi fenomena kala itu. Panji Tengkorak memang hanya tokoh yang ada di komik. Tapi, kala itu, sepak terjangnya mengalahkan tontonan apapun. Banyak orang mengira dia tokoh yang ada. Memang ada. Tapi hanya hidup dalam kertas gambar.

Tahun-tahun itu, memang masa keemasan komikus klasik Indonesia. Komik-komik silat sedang meledak. Sebut saja komikus macam Djair, Hans Jaladara, Jan Mintaraga, Teguh Santosa, Ganesh TH, Gerdi WK. Mereka semua adalah pendekar komik Indonesia.

Panji Tengkorak merupakan salah satu komik laris setelah Ganesh TH melahirkan si Buta Dari Goa Hantu. Hans Jalandara menciptakan Panji Tengkorak bukan mengikuti jejak Si Buta, meski sama-sama pendekar pemberantas kejahatan, Panji Tengkorak memiliki tampang jelek, dan berkostum compang-camping. Panji Tengkorak terdiri dari 5 jilid. Komik ini merupakan karya masterpiece Hans, selain Walet Merah, Si Rase Terbang.

Selain Hans, penggemar komik pasti tau Ganesh TH. Dialah “pendekar” yang pertama kali mempopulerkan kisah kepahlawanan seorang pendekar dalam saputan gambar yang indah. Dialah komikus yang pertama kali melahirkan Si Buta dari Goa Hantu. Ganesh cekatan menciptakan tokoh pendekar buta yang hanya ditemani seekor monyet di pundaknya. Pendekar buta yang selalu menggembara ini nyaris tak terkalahkan, semua musuh-musuhnya dihabisi, meski ia buta.

Coretan Ganesh dalam komik si Buta dari Goa Hantu juga teramat dahsyat. Ibaratnya, pembaca komik disuguhi cerita bergambar yang seolah-olah hidup. Berkelabat dengan tongkat, layaknya seorang balerina. Pembaca juga disuguhi pemandangan alam yang tergambar dengan indah, dengan blocking gambar yang terarsir rapi.

Pada masanya, komik ini sangat laris luar biasa. Dilahirkan pada 1967 lewat terbitan UP Soka Jakarta, si Buta dari Goa Hantu langsung membabat dunia persilatan komik di tanah air.

Komik yang digambar indah oleh Ganesh, mengisahkan tentang Barda Mandrawata, seorang pemuda tani di sebuah desa pelosok Banten, tengah menanti hari pernikahannya dengan Marni Dewianti saat seorang buta yang sakti tapi telengas, Si Mata Malaekat, mampir di desanya dan berbuat onar.

Ia membunuh Ganda Lelajang, ayahanda Marni, karena soal sepele. Barda dan kawan-kawannya dari Perguruan Elang Putih mencoba menuntut balas. Paksi Sakti Indrawata, ayahanda Barda sekaligus ketua perguruan, menantang duel Si Mata Malaekat. Namun, ia tewas.

Barda yang merasa kalah jago dari si pembunuh pergi meninggalkan desanya dan menyepi di sebuah gua untuk memperdalam ilmu silat. Ia ingin membalas dendam. Berkaca pada musuhnya, ia berupaya mempelajari ilmu membedakan suara yang tak tergantung pada mata. Lalu dengan golok, ia menggores sepasang matanya. Mulai saat itulah Bard menjadi buta. Dengan mengandalkan insting, Barda menjelma menjadi si Buta dari Goa Hantu. Dengan baju kulit, tongkat dan seekor monyet yang menggelendot di bahunya, SI Buta dari Goa Hantu berpetualang ke penjuru nusantara. Memberantas kejahatan dengan ilmu yang ia tempa di gua. (more…)

Senja hampir lewat. Siluet keemasan pelan-pelan pudar dihantam awan hitam di ujung timur. Kabut berangsur-angsur turun menutupi sebagian ngarai dengan liku anak sungai di ujung terdalam.

Beberapa pasang remaja asik duduk sambil becanda. Rombongan lainnya berpose di pagar besi tepi taman Panorama Ngarai Sianouk, Bukittinggi. Meski senja hampir lewat, taman ini masih ramai. Satu pasang turis asing lewat tepat di depan saya duduk. Mereka melemparkan senyum, lantas mengangguk. Saya balas dengan senyuman.

Di bangku beton sudut taman, saya duduk bersama Muhammad Zamroni. Ia biasa disapa Zam, pemandu wisata yang membawa saya dan rombongan dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) melihat objek wisata Sumbar pasca gempa. Ia orang Medan, tapi sudah lama tinggal di Padang. Sudah berpuluh tahun ia menjadi pemandu wisata.

Sambil mengobrol, Zam membuka bungkusan warna hitam yang ia bawa. Pelan-pelan, ia membukanya. Tercium bau harum bika mariana. Makanan yang kami beli sepulang dari Danau Singkarak. Saya mengambil sepotong. Gurih.

Sembari mengunyah, mata saya lurus menatap ngarai yang mulai gelap. Jika saya datang lebih awal, mungkin siluet dan pemandangan bukit dari tempat saya duduk ini akan lebih indah. Cocok dipakai untuk melamun. Cocok pula dipakai untuk mengobrol. Tak mengherankan jika di tempat ini banyak pasangan muda berbisik-bisik di sudut taman.

“Sebelum gempa Padang,  taman ini dulunya banyak dikunjungi turis Singapura dan Malaysia. Tapi, kini sepi,” kata Zam mengagetkan lamunan saya

Zam teringat saat-saat sebelum gempa meluluh lantakkan Padang. Kala itu, hampir setiap hari ia menemani wisatawan asing. Turis Belanda, Singapura dan Malaysia merupakan pelanggan tetapnya. Turis-turis ini menyukai Sumbar karena keelokan alamnya.

“Setelah puas berjalan-jalan, biasanya mereka selalu ingin datang lagi ke Sumbar,” terangnya.

Zam menghela nafas. Saya menyimak. Sejak ramai berita yang mengabarkan gempa di Padang, turis asing yang hendak berkunjung ke Sumbar mendadak membatalkan kunjungannya. Apa boleh buat, Padang memang destinasi paling dekat jika hendak meneruskan perjalanan mengunjungi objek wisata di Sumbar. Hasilnya, periode Oktober, nyaris tidak ada jadwal tour pariwisata dari Eropa maupun asia.

“Mereka umumnya hanya mendengar Padang hancur. Padahal tidak sama sekali. Bandara masih kokoh berdiri,” tegas Zam

Zam benar, bandara dan akses jalan menuju objek wisata di Sumbar sama sekali tidak hancur. Jalanan masih mulus. Bahkan jalanan menuju Danau Maninjau yang berkelok-kelok pun tetap halus dan lancar. Nyaris tidak ada kerusakan berarti. Artinya, harus ada yang meluruskan informasi jika akses menuju Padang terhambat.

Zam terus bercerita. Sambil mendengar, saya menikmati bika mariana dan sesekali menatap Ngarai Sianouk. Bika Mariana ini jenis makanan khas Padang selain Keripik Balado yang ekstra pedas itu. Bika terbuat dari parutan kelapa dan gula. Bedanya, bika ini dipanggang di dalam periuk dengan api yang justru diletakkan sebagai penutupnya. Didalam periuk yang tertutup nyala api itu, adonan bika diberi alas daun pisang, yang membuat aroma bika makin sedap terpanggang. Tapi, bagaimanapun cara memasaknya, jika kelapa dan gula dipanggang, pasti akan berasa gurih dan sedap.

Di Taman Panorama Ngarai Sianouk, kawan-kawan saya mulai bergerak menuju Lobang Jepang. Lobang Jepang ini satu kawasan dengan objek wisata taman panorama. Letakknya berada di bawah tanah taman panorama. Lebih tepatnya, posisi kami duduk saat ini berada di atas Lobang Jepang. Zam beranjak. “Ayo!” ajak Zam.

Saya diam. Tercenung. Zam lantas duduk lagi. Nampaknya ia mengetahui kecemasan saya. Bagaimana tidak, mengunjungi objek wisata goa dalam keadaan usai gempa seperti ini benar-benar mengkhawatirkan. Saya jadi teringat saat masih di Jogja beberapa bulan pasca Gempa Jogja. Seorang peneliti dari Universitas Gajah Mada (UGM) berkali-kali mengingatkan agar wisatawan tidak dulu mengunjungi goa. Tanah yang masih labil, sangat berpotensi untuk runtuh dan menutup goa. Saya jadi semakin cemas. Zam tersenyum, sepertinya membaca gelagat kecemasan saya.

“Tak apa-apa. Konon Jepang mendesain lubang ini anti goncangan. Dari gempa sekalipun,” hibur Zam.

Sedikit ragu, akhirnya saya melangkahkan kaki menuju Lobang Jepang. Kawan-kawan saya dari Depbudpar sudah menunggu di depan pintu masuk. Zam tidak ikut. Dia malah duduk sambil tertawa-tawa di depan pintu masuk Lobang Jepang. Sial.

Di Lobang Jepang, kami dipandu oleh salah satu pemandu wisata disana. Saat kaki baru melangkah masuk, hawa dingin langsung meruap. Semakin ke dalam, semakin dingin dan gelap. Uniknya, masuk lorong disini tidak akan ada gaung, galibnya goa kebanyakan. Lobang Jepang juga didesain Jepang sangat kuat. Dengan panjang 1400 meter, tempat persembunyian yang dibangun pada 1942 ini dibagi menjadi lorong-lorong yang seram.

Bagaimana tidak seram, Lobang Jepang ini dibuat oleh tangan-tangan pekerja paksa Indonesia. Jumlahnya ratusan, mungkin ribuan. Bahkan konon, seluruh pekerja paksa tewas di bunuh Jepang di lorong ini. Jasadnya di potong-potong dalam ruangan khusus, sebelum kemudian dibuang melalui celah yang tersambung langsung ke ngarai. Saya jadi merinding. Sungguh mengerikan kisahnya.

Usai menelusuri lorong demi lorong Lobang Jepang, kami pun keluar. Di luar sudah gelap. Rintik hujan mulai membasahi Bukittinggi. Sambil berlari kecil, kami putuskan untuk masuk bus. Sebelum masuk, saya sempatkan untuk berdiri di belakang bus dan melongok Ngarai Sianouk. Ngarai sudah gelap, kabut telah menutupnya. Beberapa lampu taman mulai menyala. Pendarnya tak terang, tapi cukup ampuh untuk membawa angan-angan mengunjungi tempat ini kembali.

Pecinta film dengan genre slasher macam sequel Saw, atau Hostel tentu tak akan melewatkan film ini. Film slasher pertama besutan sineas muda Indonesia ini akan membawa penonton dalam ketakutan

Industri film di Indonesia sempat dibuai oleh film genre horor klasik yang menampilkan hantu berambut panjang dengan gaun putih yang menjuntai kepanjangan. Atau kali lain dihidangkan hantu paling menakutkan seperti pocong yang membuat bulu kuduk berdiri. Mendekati pekan-pekan ini, jenis film horor dengan hantu seksi dengan aroma berbau-bau sex juga banyak dijumpai di Layar Bioskop yang ironisnya, justru film-film semacam ini lah yang laku dipasaran.

Tapi awal tahun 2010, jangan kaget jika Mo Brother (Kimo Stamboel dan Timo Tjahjanto) akan menghantui anda dengan film Rumah Dara. Sama-sama mengundang kengerian, film versi panjang dari film Macabre ini akan menghantui tanpa perlu menghadirkan sosok hantu klasik yang justru terlihat lucu akhir-akhir ini.

Kedua Sineas muda ini mengajak penonton menikmati kesadisan dan kengerian dalam film bergenre Slasher. Jenis film sadis yang jarang dibuat di Indonesia setelah Pintu Terlarang besutan Joko Anwar. Mo Brother adalah dua orang yang disatukan karena memiliki kesamaan nama Mo. Kecintaan mereka pada film dengan jenis slasher membuat perkawanan mereka makin akrab dan sama-sama membuat film dengan genre sejenis. Film awal yang mereka buat yakni Alone (Sendiri) film slasher yang tak kalah mengerikan. Kedua, film Rumah Dara yang merupakan versi panjang dari film pendek besutan mereka berjudul Dara, atau yang di Singapore berjudul Darah dah Macabre versi Inggris.

Kimo dan Timo mampu membuat penonton menjerit ngeri, tanpa harus melihat sosok hantu yang menakutkan. Namanya saja film slasher, yang ada justru penonton disuguhi adegan kekerasan yang cenderung kejam, dengan tangan yang patah (sampai terlihat tulang yang mencuat), darah yang semburat, dan adegan-adegan menegangkan lainnya. Film Rumah Dara yang versi uncensored sendiri sebenarnya sudah mulai bisa dinikmati sejak pagelaran Jiffes beberapa pekan lalu di Jakarta.

Rumah Dara sendiri bercerita tentang pembantaian yang dilakukan oleh keluarga Dara (Shareffa Danish), Maya (Imelda Therine), Adam (Arifin Putra) dan Arman (Ruli Lubis) keluarga yang telah hidup ratusan tahun itu membunuh satu demi satu kelompok anak muda yang terjebak dirumah mereka.

Cerita dimulai ketika kelompok anak muda Ladya (Julie Estelle), Adjie (Aryo bayu), Astrid (Sigi Wimala), Jimi (VJ Daniel), Eko (Dendy Subangil) dan Alam (Mike Lucock) sedang melakukan perjalanan dari Bandung menuju Jakarta. Namun ditengah jalan, mereka hampir menabrak Maya. Dalam salah satu bagian cerita, Maya merupakan korban perampokan. Karena kasihan, kelompok Anak muda itu kemudian mengantar mereka ke rumah Maya.

Disinilah kemudian cerita terus bergulir memacu adrenalin hampir tanpa henti. Pembantaian demi pembantaian disajikan dengan nyata dan berdarah-darah. Jalinan cerita menjadi tidak penting lagi karena lebih dari separuh film ini menyajikan adegan kekerasan cenderung ke kejam. Bagi penggemar film slasher, sudah barang tentu akan menyukai setiap adegan dalam film ini. mata yang tertusuk stiletto, kepala yang terpenggal, kaki patah, tangan terpotong, hingga jari-jari tertusuk pisau disajikan dengan nyata (more…)

Honda Jazz warna biru metalik keluar dari pertokoan Sarinah, berbelok, lalu membelah Jalan Sudirman. Sisa hujan lebat sejak sore masih menyisakan genangan. Pantulan cahayanya mirip abstraksi gerak mengikuti laju putaran roda. Gerimis masih menyisakan bintik-bintik mengotori kaca hingga kemudian hilang disaput wiper yang bergerak pelan.

Perempuan dengan aroma floral, duduk di belakang setir sambil mengunyah Big Mac. Di sampingnya, tergeletak majalah wanita dewasa dan novel John Grisham. Kepalanya bergerak-gerak mengikuti The Cranberries mendendangkan Linger yang keluar dari DVD player.

Tengah malam sekarang. Jalan Sudirman memang tak pernah sepi dari lalu lalang kendaraan. Bias cahaya kendaraan selalu menghidupi Jakarta yang tak pernah mati, tak pernah sepi, meski dini hari.

Mobil berbelok ke kiri, menuju arah pejompongan. Masuk terowongan, lalu lurus melewati gerombolan anak-anak muda yang berdiri sepanjang jalan menonton adu balap motor, hingga waktu membawanya ke gerbang sebuah apartemen. Lampu sign berkedip, pelan-pelan berbelok dan berhenti di depan pos penjaga.

“Malam, mbak,”

Perempuan itu menurunkan kaca mobil. Tersenyum, menjulurkan tiket dan menempelkannya di kotak pemindai. Portal pintu warna orange terbuka secara otomatis. Lalu gas terinjak menggerakkan roda menuju basement.

***

Lampu kamar 506 Tower B, menyala seketika. Terang, menerangi seluruh isi ruang berisi sofa, televisi, Sony Hi Fi, foto gadis telanjang punggung berukuran besar di dinding dan aksesoris ruang lainnya. Perempuan itu melempar jaket di sofa, High Heels dibiarkan berserak, melepas kancing, memutar Me and Mrs Jones-Michael Buble, lalu menyalakan shower berpenghangat. 20 menit kemudian, keluar dengan handuk membalut kulit putihnya.

Ponselnya menyala. Berkedip. Di layar, tertulis Friska Amalia

“Hai Kat!”
“Kenapa Friska?”
“Baru dateng ya? Dari mana lo? Mobil masih basah tuh,”
“Haha… biasalah, Fris, besok deadline. So, malam ini harus lembur. Gimana?”
“Cuman mastiin aja, besok malam dateng kan?”
“Oke-oke. Makanya malam ini aku kelarin semua,”
“Sip. Pasific Place, 20.00 PM. Night Kat!”
“CU,”
Klik.

Kat, merebahkan diri di sofa, matanya terpejam. Michael Bubble sudah berganti menyanyi Home. Kat membuka mata, melirik high heels yang masih berserak di pintu apartemen. Dengan sedikit malas, ia beranjak, memungutnya, lalu masuk kamar tidur dan membiarkan senandung Michael Bubble mengantarnya lelap dalam tidur.

***

Di tower terpisah, masih dalam satu apartemen, Friska Amalia keluar dari mobil Ford escape warna hitam. Di samping tempat ia parkir, nampak mobil Kat masih basah oleh rintik hujan. Friska berjalan di lorong basement melewati satpam di depan lift yang membawanya ke lantai 10 tower A. Tangannya menenteng tas belanjaan berisi baju dan sepatu.

Di saat bersamaan, disudut kamar 504 tower B, perempuan muda terhuyung dipapah lelaki setengah baya. Berdua mereka berusaha membuka pintu kamar yang hanya dibatasi lampu dinding yang tertempel di sebelah pintu kamar Kat. Pintu terbuka, bergegas mereka masuk kamar.
Brakk… lalu sunyi..