kiss me babe

Pagi buta di Jalan Jaksa, Jakarta Pusat. Kabut tipis menerabas dinding-dinding kamar sewa, di sesela gegap gempita Memories Café. Beberapa bule bersendau dalam pelukan hangat buih bir, dalam irama Too Much Love Will Kill You yang apik dibawakan biduan berbalut hotpants hitam.

Pagi itu, ditengah dingin, dalam balutan syal cokelat, saya tak jenak tidur. Musik yang mendentam, tawa, dan lalu lalang peristiwa, membuat saya mesti tersadar. Gelisah, adalah bagian yang tak bisa lepas dari pekerjaan rutin saya.

Excuse me,”
Yes, ada yang bisa saya bantu,” jawabku gagap.

Namanya Jullie. Perempuan berusia 20 asal Perancis. Ia tinggal di pusat kota Paris. Konon, hanya 20 menit berjalan kaki dari rumahnya untuk menuju taman di Menara Eiffel yang terkenal itu. Rambutnya pirang, lurus, dengan mata biru mengkilat. Bibirnya tipis dan selalu tersungging.

Saya hanya duduk sendirian, menikmati lagu-lagu slow rock yang didendangkan kelompok musik, sebelum kemudian Jullie ada di sampingku. Mengenakan kaus putih tanpa lengan, Jullie nampak lebih muda dari bule seusianya.

“Saya kesepian. Saya butuh teman ngobrol,” dalihnya.
“Kebetulan saya lihat kamu juga sendiri,”
“Saya tak bisa tidur. So, I’m here,” jawabku.

Diam.
Too Much Love Will Kill You, memasuki bait akhir.

“Malam ini benar-benar indah. So romantic,” desahnya (more…)

Advertisements