Medio 1960-an, masyarakat pernah dimanjakan oleh sepak terjang pendekar sakti mandraguna. Mengenakan topeng buruk rupa dan pakaian seadanya. Dialah Panji Tengkorak. Pendekar bertopeng yang membabi buta dalam memberantas kejahatan.

Tahun-tahun itu, hingga pertengahan tahun 1980-an, siapa tak kenal Hans Jaladara. Dialah ayah kandung Panji tengkorak. Tokoh yang melahirkan sang pendekar hingga besar dan menjadi fenomena kala itu. Panji Tengkorak memang hanya tokoh yang ada di komik. Tapi, kala itu, sepak terjangnya mengalahkan tontonan apapun. Banyak orang mengira dia tokoh yang ada. Memang ada. Tapi hanya hidup dalam kertas gambar.

Tahun-tahun itu, memang masa keemasan komikus klasik Indonesia. Komik-komik silat sedang meledak. Sebut saja komikus macam Djair, Hans Jaladara, Jan Mintaraga, Teguh Santosa, Ganesh TH, Gerdi WK. Mereka semua adalah pendekar komik Indonesia.

Panji Tengkorak merupakan salah satu komik laris setelah Ganesh TH melahirkan si Buta Dari Goa Hantu. Hans Jalandara menciptakan Panji Tengkorak bukan mengikuti jejak Si Buta, meski sama-sama pendekar pemberantas kejahatan, Panji Tengkorak memiliki tampang jelek, dan berkostum compang-camping. Panji Tengkorak terdiri dari 5 jilid. Komik ini merupakan karya masterpiece Hans, selain Walet Merah, Si Rase Terbang.

Selain Hans, penggemar komik pasti tau Ganesh TH. Dialah “pendekar” yang pertama kali mempopulerkan kisah kepahlawanan seorang pendekar dalam saputan gambar yang indah. Dialah komikus yang pertama kali melahirkan Si Buta dari Goa Hantu. Ganesh cekatan menciptakan tokoh pendekar buta yang hanya ditemani seekor monyet di pundaknya. Pendekar buta yang selalu menggembara ini nyaris tak terkalahkan, semua musuh-musuhnya dihabisi, meski ia buta.

Coretan Ganesh dalam komik si Buta dari Goa Hantu juga teramat dahsyat. Ibaratnya, pembaca komik disuguhi cerita bergambar yang seolah-olah hidup. Berkelabat dengan tongkat, layaknya seorang balerina. Pembaca juga disuguhi pemandangan alam yang tergambar dengan indah, dengan blocking gambar yang terarsir rapi.

Pada masanya, komik ini sangat laris luar biasa. Dilahirkan pada 1967 lewat terbitan UP Soka Jakarta, si Buta dari Goa Hantu langsung membabat dunia persilatan komik di tanah air.

Komik yang digambar indah oleh Ganesh, mengisahkan tentang Barda Mandrawata, seorang pemuda tani di sebuah desa pelosok Banten, tengah menanti hari pernikahannya dengan Marni Dewianti saat seorang buta yang sakti tapi telengas, Si Mata Malaekat, mampir di desanya dan berbuat onar.

Ia membunuh Ganda Lelajang, ayahanda Marni, karena soal sepele. Barda dan kawan-kawannya dari Perguruan Elang Putih mencoba menuntut balas. Paksi Sakti Indrawata, ayahanda Barda sekaligus ketua perguruan, menantang duel Si Mata Malaekat. Namun, ia tewas.

Barda yang merasa kalah jago dari si pembunuh pergi meninggalkan desanya dan menyepi di sebuah gua untuk memperdalam ilmu silat. Ia ingin membalas dendam. Berkaca pada musuhnya, ia berupaya mempelajari ilmu membedakan suara yang tak tergantung pada mata. Lalu dengan golok, ia menggores sepasang matanya. Mulai saat itulah Bard menjadi buta. Dengan mengandalkan insting, Barda menjelma menjadi si Buta dari Goa Hantu. Dengan baju kulit, tongkat dan seekor monyet yang menggelendot di bahunya, SI Buta dari Goa Hantu berpetualang ke penjuru nusantara. Memberantas kejahatan dengan ilmu yang ia tempa di gua. (more…)

Advertisements